Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KETIKA ZONA NYAMAN TAK TERASA LAGI




Oleh: M Irhaz Irham

    Terlihat anak remaja sedang duduk di atas batu yang kurang lebih besarnya dua meter panjangnya, dan lebarnya satu meter, anak itu sedang menikmati indahnya pemandangan gunung yang tingi, angin sepoi sepoi yang membuat rambutnya beterbangan, dan biasanya orang mengambil latar gunung tersebut untuk foto .anak tersebut  akrab di panggil anha, hasanah la nama aslinya .terdengar suara anak balita memanggilnya “anha “  ia pun menoleh kebelakang dan menjawab ia dek anak balita itu adalah adiknya namanya Angga ,angga pun berkata “anha kamu di panggil ayah .Anha pun tampa basa basi langsung bergegas untuk kembali kerumah 
Sesampainya dirumah terlihat sosok ayah dan ibunya sedang duduk di atas kursi yang hampir tak layak di pakai anha pun duduk di samping ayahnya, ayahnya mengatakan mengapa ia di panggil “NAK KAMU KAN SUDAH LULUS SD AYAH DAN IBU SUDAH SEPAKAT MEMASUKKAN KAMU KE PESANTREN BAGAIMANA PENDAPATMU “anha kaget mendengarnya dan diam sejenak dan menarik nafas hufttttt,,,, dia sebenarnya ingin menolak ajakkan ayahnya ingin memasukkan ia di pesantren karena ia tak lagi merasakan indahnya pemandangan di belakang rumahnya dan juga ia akan jauh dari orang tuanya. ”Baik yah kalau memang itu yang terbaik. Anha pun mempersiapkan pakaianya dengan keadaan yang tak semangat karena semua kenyamanan mungkin akan hilang karena ia akan masuk pesantren.

    Keesokan harinya anha pun berangkat ke pesantren di antar ayahnya dan ayahnya hanya mengantarknya di depan gerbang saja karena orang tua hanya di izinka sampai di gerbang saja ayahnya pun pamit ,tak terasa mata anha berkaca dan berkata tega teganya ayah meninggalkanya di tempat yang jauh dari rumah dan ia merasa semua kenyamanan hilang seketika 
Terdengar suara lonceng berbunyi tandanya santri harus masuk ke masjid ,Anha pun bergegas untuk mengambil peralatan ke masjidnya dan msuk masjid ia merasa asing sekali karena suasana dirumahnya beda rasanya karena ia sering ke belakang rumahnya saat siang hari tapi sekarang ia hanya bisa duduk membaca alqur,an di masjid melihat jejeran anak yang memegang alqur,an ia berusaha bersahabat dengan keadaan dan mengikuti semua kegiatan .

Terlihat di sudut tembok yang catnya hampir pudar Anha sedang berpojok  sambil menangis karena ia sudah melanggar yaitu terlambat ke masjid dan ketika itu juga Anha kangen kepada orang tuanya ,kangen orang tuanya ,kangen adiknya ,kangen suasana indah di belakang rumahya.Anha tidak betah di pesantren .Ketika santri sedang tidur tekat Anha untuk kabur dari pesantren sudah bulat ia berkemas tampa di ketahui temannya dan pengurusnya Anha keluar dari gerbang pesantren dan mencari tempat menginap untuk menunggu esok hari dan pulang kerumahnya .

Keesokan harinya saat mata hari terbit Anha terbangun di tepat di depan ruko ia pun bergegas mencari angkot untuk kembali ke rumahnya ,terlihat dua orang berbadan besar menghadang anha ternyata orang itu meminta uang Anha jelasnya ia tidak mau karena uagnya yang ia pegang adalah yang terakhir ia pun belari di jalanan tak sadar ada motor yang melaju dan menabrak anha ,Ia pun terpental terlihat suasana di tempat itu sangat ramai dan tubuh anha berlumuran darah dan seketika itu ia tidak sadarkan diri dan ia tak pernah lagi merasakan zona nyaman yang ia impikan .

KENYAMANAN BUKANLAH HANYA DI SATU SISI MELAINKAN KITA BISA MEMBUAT KENYAMANAN ITU DIMANA SAJA KITA BERADA 






Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

1 komentar: