Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

و فوق كل ذي كرم كريم


                                                    Oleh : Ilman Mahbubillah

Kegiatan pelaksanaan haul sudah mesti sangat lazim diadakan diberbagai daerah Nusantara. Peringatan haul sendiri berasal dari bahasa Arab yang bermakna setahun adalah kegiatan yang dilaksanakan dalam satu tahun untuk mendoakan seorang yang sudah kembali ke haribaan Ilahi. Sementara tujuan utama dari kegiatan ini adalah guna mendoakan Ahli Kubur agar seluruh kebaikannya ketika masih hidup di dunia dapat diterima. Terkadang kita menemui peringatan haul yang diselenggarakan baik itu di desa maupun di kota, pada umumnya adalah seorang tokoh agama atau masyarakat yang sudah pasti mempunyai andil besar ketika masa hidupnya ataupun anggota keluarga kita juga dengan harapan digelarnya peringatan haul untuk mereka guna mengenang serta meneladani jasa dan amal baik mereka selama masih hidup.

Kemudian puncak daripada pelaksanaan haul adalah merefleksikan semua teladan untuk diri kita guna mempersiapkan bekal ketika kelak kita mengalami kematian juga. Namun peringatan haul sendiri tidak harus sakral tepat pada tanggal dimana seorang meninggal dunia seperti perayaan Ulang Tahun, karena biasanya haul sendiri pelaksanaannya ditentukan oleh keluarga Ahli Kubur berdasarkan pertimbangan tertentu yakni berhubungan dengan acara lain yang diselenggarakan bersamaan dengan peringatan haul itu.

Dilihat dari sasaran daripada pelaksanaan sebuah haul adalah seorang yang memiliki peran penting atau jasa serta keteladanan, sempat terlintas sejenak dihati kita “Loh tapi kenapa Nabi Muhammad tidak ada haul nya?”. Kembali ke dasar atau dalil adanya peringatan ini adalah ketika Rasulullah SAW mengunjungi syuhada’ perang Uhud dan makam keluarga di Baqi’ kemudian mengucapkan salam dan dilanjutkan dengan mendoakan mereka atas amal yg telah dikerjakan. Lantas, mengapa untuk tidak ada perayaan haul yang diperuntukkan untuk Rasulullah? Padahal Rasulullah menyandang sebagai manusia paling sempurna. Jasa serta pengorbanan sudah pasti tidak perlu ditanyakan lagi, bahkan seluruh masa hidupnya di-bhakti kan hanya untuk syiar agama Islam. Lalu apakah umat Islam sudah bisa dianggap melupakan jasa Rasulullah dengan tidak melakukan peringatan haul untuk Rasulullah?

Jawabannya tentu tidak. Umat Islam selalu bahkan senantiasa mengenang jasa Rasulullah semasa hidup dengan berbagai cara seperti melantunkan Sholawat, menghadiri majelis maulid yang umumnya dilaksanakan seminggu satu kali, bahkan dalam penulisan kitab-kitab maulid serta sholawat tidak terlepas dari tujuan mengenang Beliau SAW. Sekarang yang jadi pertanyaan nya adalah, mengapa tidak diadakan juga perayaan haul untuk Rasulullah yang sudah jelas jasa serta teladannya. Disini penulis berpendapat bahwa salah satu alasan tidak diadakannya perayaan haul yang diperuntukkan bagi Baginda SAW adalah karena berkaca pada sasaran dari haul itu sendiri.

Ketika seorang yang punya andil besar serta keteladan dalam hidupnya maka pada umumnya ketika dia meninggal, akan dilaksanakan peringatan haul. Namun, jika seandainya diadakan juga perayaan haul untuk Nabi SAW, siapa yang akan kuat mengenang kematian kekasih Allah? Siapa yang kuat memperingati hari dimana dunia ditinggalkan oleh sosok pembawa rahmat Allah? Siapa yang kuat kehilangan teladan sejati yang tak pernah terjerat dalam dosa?. Mari kita renungkan sejenak, ketika Maulid dibacakan, dilantunkan, terkadang kita terbawa dengan suasana tentram nan damai yang dirasakan seorang muallif ketika menuliskan kenangannya tentang bagaimana seluruh alam ketika Rasulullah dilahirkan, betapa gembira seluruh makhluk tak terkecuali hewan dan tumbuhan ketika Ibunda Siti Aminah melahirkan sosok makhluk paling dicintai. Inilah alasan kenapa tidak ada perayaan haul bagi Nabi SAW, akan tetapi diganti dengan peristiwa hadirnya ke alam semesta melalui kelahirannya yang disebut Maulid Nabi SAW yang terdapat pada bulan Rabi’ul Awal yang sebentar lagi kita temui. Selain itu, sebagian ulama perpendapat bahwasannya Rasulullah SAW telah mulia bahkan sebelum dilahirkan ke dunia.

Oleh karena itu, dibalik peristiwa kelahiran Baginda SAW terdapat kenikmatan yang harusnya kita syukuri. Karena sumber kebahagiaan terbesar kita sebagai seorang muslim adalah iman dan islam yang tidak lain dibawa bersamaan dengan hadirnya Nabi Muhammad SAW. Seorang yang mengenalkan bagaimana arti kedamaian berupa agama Islam, juga sosok teladan sempurna yang menjadi sebab utama teguhnya keyakinan berupa Iman. Membawa kalam sang khaliq yang menjadi petunjuk serta pedoman menjalani kehidupan melalui mukjizatnya. Inilah beberapa sebab dari sekian banyak sebab mengapa tidak ada perayaan haul untuk Rasulullah. Semoga dari tulisan ini, dapat menumbuhkan, menambah, bahkan memantapkan kecintaan kita terhadap Baginda SAW, juga mempersiapkan sebuah persembahan berupa hadiah sebagai wujud syukur kita yang sebentar lagi dipertemukan dengan bulan dimana Rasulullah SAW dilahirkan ke alam semesta.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar