Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

URIPA SING SAK MADYA !!

Oleh : Siti Laila ‘Ainur Rohmah

  Petuah orang Jawa mengandung nilai-nilai kebaikan jika seseorang mau melaksanakannya dengan baik walau sekarang hidup di zaman modern. Contohnya seperti ungkapan “Uripa Sing Sak Madya” yang berarti, hiduplah seperti apa adanya. Meskipun memang sejatinya orang hidup harus selalu bersyukur dengan keadaan yang ada. Tetapi yang namanya bermimpi lebih baik, itu juga bisa diwujudkan asalkan mau berusaha.
  Namun makna kehidupan ini terkadang diabaikan oleh seseorang. Seperti kisah keluarga P.Jojon yang terdampak pengabaian dengan ungkapan Jawa “Uripa Sing Sak Madya”. P.Jojon terkenal kekayaannya dari dulu seantero kecamatan. Setiap orang sekecamatan mengetahui kekayaan P.Jojon, karena pasar yang berada di pusat kecamatan pun bahkan dulu adalah miliknya. Meskipun bergelimang harta, P.Jojon terkenal dengan orangnya yang baik dan dermawan. Siapapun akan salut melihat sosok P.Jojon. Tak sedikit dari warga sekitar yang meminta bantuan kepada P.Jojon, dengan senang hati beliau akan membantunya. Sehingga warga pun sangat senang dan menghormati sosok P.Jojon.
  Sayangnya, sikap kedermawanan P.Jojon tidak menurun ke anak – anaknya. Suatu ketika, kabar duka menyelimuti keluarga P.Jojon, karena beliau telah menghembuskan nafas terakhirnya. Warga sekitar mendengar kabar tsb, ikut merasakan duka yang mendalam. Mengingat kebaikan P.Jojon selama hidup tak pernah menolak permintaan bantuan warga yang sedang kesusahan. Meskipun bukan sebagai pemangku wilayah, tetapi perannya sangat dirasakan masyarakat secara luas.
  Sepeninggal P.Jojon aura di dalam keluarga tersebut kian berbeda. Dahulu, ketika P.Jojon masih hidup, keluarga ini serba kecukupan dan hidup tenteram. Namun keadaannya kini makin terpuruk dan keluarganya ada kesenjangan. Sesama anak saling berebut harta warisan dari mendiang P.Jojon. Sehingga kondisi keluarga kini seperti dikejar fikiran duniawi. Harta berapapun yang ada, tidak dimanfaatkan dengan baik apalagi untuk sedekah. Harta yang mejadi bagian anak-anaknya sekedar untuk memenuhi nafsu duniawi yang menggebu-gebu. Padahal kekayaan P.Jojon itu sangat melimpah, kini tanpa berbekas karena dihabiskan oleh anak-anaknya.
  Namanya kehidupan, ibarat roda yang berputar. Terkadang berada diatas, tetapi juga jangan menolak ketika harus berada dibawah. Begitulah skenario indah yang seharusnya manusia menyadarinya. Ketika masih ada harta yang melimpah, tidak dimanfaatkan dengan baik. Akhirnya ketika masanya berada di bawah, sekarang mengeluh dan kebingungan. Anak-anak P.Jojon kini merasakan pedihnya hidup sederhana, setelah kekayaan yang diwariskan telah habis begitu saja dan gulung tikar. Mereka harus bersusah payah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
  Dari gambaran di atas, begitu mudahnya Allah swt membalikkan keadaan kepada hambanya. Jika kekayaan yang ada sering dibuat untuk sedekah, membantu orang yang kesusahan, dan diatur dengan baik tanpa mengikuti hawa nafsu duniawi yang tak ada habisnya,  mungkin nasib keluarga anak P.Jojon tidak seburuk sekarang. Oleh karena itu, “Uripa Sing Sak Madya” bukan selalu bermakna mensyukuri keadaan hidup yang sederhana, tetapi ketika diamanahi kekayaan pula seseorang bisa mensukurinya dengan selalu berbuat baik dan tidak menghambur-hamburkan kekayaan untuk hal yang tidak penting. Karna kekayaan itu juga titipan dari Allah swt, suatu saat jika titipan itu diambil oleh yang punya (Allah swt),, kita tiada daya dan upaya. Namun, jika kita bisa menjaga titipan dengan baik, dan menyalurkannya di jalan Allah swt.. in sha Allah kekayaan itu akan berkah. Wa allahu a’lam..

Malang, 13 April 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar