Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TUHAN TAK AKAN SEMBUNYI DI TENGAH PANDEMI INI

Oleh: Nur Sholikhah

        Hujan malam itu terasa sendu. Suara rintiknya yang terdengar di genting rumah seolah merintih. Langit malam menangis, menumpahkan semua lara yang sudah berminggu-minggu terasa. Lara itu meradang, membuat siapa saja menjadi cemas dan ketakutan. Takut pada kematian.
        Setiap hari berita orang meninggal karena terjangkit virus menyebar, satu persatu tumbang. Namun ada pula yang kuat bertahan melawan dan sembuh dari sakit yang tak diinginkan. Orang-orang menjadi gelisah, resah. Mereka dilarang keluar rumah agar tak tertular virus yang sedang mewabah.
        Jalan raya terlihat lebih lengang. Hiruk pikuk di warung-warung kopi sudah tenang. Orang-orang sudah jarang mengobrol di jalanan. Semua harus di rumah, menutup pintu, dan tak lagi menerima tamu. Tempat-tempat ibadah juga tampak sepi, orang-orang dihimbau untuk sholat di rumah. Berjama'ah dengan keluarga yang dulu jarang ditemui.
        Barisan saat sholat dibuat lebih longgar, berjarak, tak boleh rapat seperti dulu. Orang-orang memakai masker, tak boleh bersalaman hanya mampu menyapa di kejauhan. Selesai sholat tak ada lagi perbincangan atau gurauan-gurauan. Orang-orang seperti tak saling kenal.
        Jalan di perumahan juga lengang. Apalagi saat malam datang menjelang. Pintu-pintu tertutup, orang-orang mendekam di balik bangunan berpagar. Tak ada lagi perkumpulan. Tak terdengar lagi orang-orang bercakap atau sekadar saling sapa di luar gerbang.
        Begitu cepat semua berubah, hiruk pikuk kota seolah tenggelam karena satu kata. Orang-orang kaya menjadi lebih dermawan, orang-orang miskin tiba-tiba dapat bantuan. Para tenaga medis mendadak banjir pekerjaan, hingga mereka kuwalahan. Para pekerja kantor mengerjakan tugasnya di rumah. Kampus-kampus mendadak sepi, tak ada lagi seminar, perkuliahan atau wisuda.
        Di saat seperti ini semua orang wajib saling bahu membahu melindungi. Rasa kemanusiaan perlu dibangun kembali. Keegoisan dikikis perlahan-lahan, saling peduli menjadi senjata tak kasat mata untuk menghadapi pandemi ini. Tapi manusia, selalu ada cela untuk nafsu menggoda. Ada yang memanfaatkan keadaan dengan menebar isu-isu yang mengkhawatirkan. Ada yang masih sempat melakukan tindak kejahatan dan kecurangan demi keuntungan pribadi yang mengikis kemanusiaan.
        Ada yang merasa biasa saja, ada yang cemas dan gelisah, ada yang berduka, ada yang riang gembira. Ada yang merasa bosan, kesepian, rindu ingin jalan-jalan, rindu kampung halaman. Semua orang memendam rasanya masing-masing. Semua orang berharap keadaan membaik seperti yang mereka harapkan. Semua orang berharap tak lagi ada korban.
        Tuhan sedang menguji, tetap tenang. Ia tak akan bersembunyi. Semua pasti ada solusi, pasti ada. Hanya saja Tuhan menunjukkan jalan itu perlahan-lahan, agar penduduk bumi mengambil pelajaran. Agar orang-orang sadar, tak semua apa yang sudah direncanakan bisa berjalan lancar tanpa seizin-Nya. Agar orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan angkuh bisa menyadari bahwa sebenarnya ia tak punya kuasa apa-apa.
        Harapan, usaha dan doa tak henti-hentinya dilakukan dan dipanjatkan. Terus berdoa dan menengadah. Berlutut dan akui bahwa kita lemah di hadapan Tuhan. Tanggalkan kesombongan, agar Ia segera menabur keajaiban.
        Semoga cepat pulih, kami semua rindu melihat rumah-Mu ramai kembali.


Malang, 13 April 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar