Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PERTANYAAN TENTANG SAYUR LODEH


Oleh: Nur Sholikhah

Hari hampir siang. Ibu-ibu di tempat penjual sayuran masih saja bercengkrama mengumbar kata. Satu pergi, satu datang lagi. Mereka bergantian meramaikan warung milik Mbok Taji. Hari itu warungnya ramai sekali. Orang-orang membeli sayuran tidak hanya satu kali. Kluwih dan terong bahkan sudah habis sejak pagi.
  Mbok Taji senang sekali. Barang dagangan yang ia beli di pasar dini hari itu laris. Toples tempat ia menyimpan uang kini tampak penuh dan berantakan. Ia belum sempat menghitungnya karena masih sibuk melayani para pembeli. Mbok Taji sebenarnya agak heran, mengapa hari ini orang-orang senang berbelanja. Ia tak sempat mendengarkan obrolan ibu-ibu di depan warungnya.
“Mbok, saya mau bikin sayur lodeh kayak orang-orang itu lhoh. Tapi saya nggak ngerti bahannya apa saja. Mbok bantu saya ya!” Perempuan yang baru nikah beberapa bulan itu meminta tolong Mbok Taji untuk memberi tahu bahan-bahan apa saja yang diperlukan untuk memasak sayur lodeh seperti orang-orang.
“Kamu mau bikin sayur lodeh yang isinya apa, Nduk? Ada tewel, kacang pajang, kluwih, pepaya. Kamu mau yang mana?”
“Saya juga bingung, Mbok. Ibu mertua minta saya masak kayak orang-orang. Itu lho Mbok apa namanya sayur loder tujuh rupa?”
“Oalah, sayur lodeh tujuh warna Nduk, bukan tujuh rupa.” Mbok Taji tersenyum. Perempuan itu menunduk malu.
  Mbok Taji baru mengerti ternyata orang-orang akan memasak menu itu. Lhoh untuk apa mereka tiba-tiba ingin memasak sayur lodeh tujuh warna? Pertanyaan itu menggelayut dalam pikirannya. Mbok Taji tahu sayur lodeh tujuh warna itu dimasak untuk tolak bala. Orang-orang tua zaman dahulu meyakini bahwa sayur itu mampu mencegah suatu wabah penyakit.
“Ini Nduk, tapi kluwih sama terongnya nggak ada. Coba nanti kamu cari di warung dusun sebelah ya! Mudah-mudahan masih kebagian.”
“Mbok emang benar ya sayur lodeh tujuh warna itu bisa mencegah virus korona?”
“Lhoh apa itu Nduk? Virus konora?”
“Korona Mbok. Itu lhoh virus yang lagi viral sekarang. Virusnya katanya mematikan, bisa membunuh orang yang terkena.”
“Astaghfirullah. Sejak kapan Nduk virus itu ada?”
“Beberapa hari yang lalu Mbok. Mbok kok nggak tahu? Lha wong di tv itu udah banyak beritanya. Ya wes Mbok, ini uangnya!”
  Mbok Taji bergegas mengambil kembalian di toples bawah meja dagangnya. Ia masih menyimpan tanya perihal virus itu. Perempuan tadi sudah berlalu meninggalkan warung Mbok Taji. Sementara Mbok Taji masih mencoba mencerna tentang virus korona. Nama itu sungguh asing di telinganya.
  Mbok Taji tinggal sendiri di rumah. Suaminya sudah meninggal karena kecelakaan kerja. Ia memiliki satu anak perempuan yang kini tinggal di kota untuk bekerja. Untuk mencukupi kebutuhan hariannya, ia membuka warung kecil di teras rumah.
  Mbok Taji tiba-tiba teringat anak gadisnya. Bagaimana keadaannya? Sudah hampir dua bulan ia tidak pulang. Ia rindu sekali ingin memeluknya, memasakkan menu kesukaannya. Dan tiba-tiba ia ingat nama virus itu, korona. Apakah di kota juga sama? Ada virus yang namanya korona?
  Malam itu Mbok Taji memanjatkan berbagai macam doa. Ia juga masak sayur lodeh tujuh warna. Ia berharap virus itu tidak masuk ke kampungnya, juga tidak pula menyerang anak satu-satunya. Mbok Taji terlelap dengan memeluk doa setelah ia melahap sayur lodeh tujuh warna.
  Esok harinya, warung Mbok Taji tutup. Hari itu memang hari Jum’at dan Mbok Taji mengkhususkan hari Jum’at untuk beristirahat. Entah, perasannya pagi ini senang dan tenang. Tak segelisah tadi malam. Ia duduk di depan warungnya. Bayangan anak gadisnya datang, membawa oleh-oleh kesukaannya. Buah jeruk khas dengan tangkai dan daunnya yang masih menempel. Mbok Taji tersenyum, hati nuraninya berkata bahwa anaknya sebentar lagi akan pulang.
  Deru suara becak motor terdengar di telinga. Mbok Taji tersadar dari lamunannya. Ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju jalan kecil depan rumah. Tampak di ujung gang itu seorang penarik becak motor sedang menurunkan penumpangnya. Seorang wanita muda, kerudungnya lebar menutupi punggungnya. Ia menenteng tas di tangan kanannya dan bungkusan kresek hitam di tangan kirinya.
“Sekar,” ucap Mbok Taji.
“Sekar  pulang Mbok.” Sekar mencium tangan Mbok Taji. Tangan anak perempuan itu tampak bersih dan lembut. Kerudungnya lebar sekali. Mbok Taji heran melihat penampilan Sekar kini. Ia senang, anaknya sudah berubah, mungkin sudah lebih dekat dengan Tuhan. Dua bulan lalu Sekar masih menggunakan kerudung biasa, kainnya tipis, asal bisa menutup mahkota di kepala.
  Mereka berdua memasuki rumah. Mbok Taji segera membuatkan minuman untuk anaknya. Tak lupa ia siapkan pula makanan di meja, sayur lodeh tujuh warna dan ayam goreng tanpa kepala. Sementara Sekar masih sibuk menata barang bawaannya di kamar.
“Sekar, ayo makan dulu! kamu pasti lapar dan haus,” teriak Mbok Taji dari arah dapur. Sekar melangkahkan kakinya ke meja makan. Duduk sambil mengamati masakan ibunya yang sudah lama tak bergoyang di lidahnya. Mbok Taji datang, membawa segelas teh manis dan setoples kerupuk udang.
“Sekar, kamu harus makan sayur ini, lodeh tujuh warna, biar wabah yang saat ini ada di bumi cepat hilang!”
“Ibu, apa hubungannya makanan ini dengan virus korona?”
“Sekar, zaman dulu orang-orang percaya kalau sayur lodeh tujuh warna ini bisa menolak bala.”
“Ibu itu syirik, Bu. Ibu kan sudah sholat dan percaya sama Allah. Kenapa ibu masih percaya kayak gituan?”
“Sekar, sayur ini dari dulu sudah diyakini bisa menolak bala. Ini sudah menjadi tradisi kita. Apanya yang salah? Sudah ayo makan dulu!” Sekar terdiam. Ia tumpahkan segera secentong nasi di piringnya. Ia comot ayam goreng tanpa melirik pada sayur lodeh tujuh warna itu. Mbok Taji tak banyak bicara. Ia takut anaknya marah. Sepertinya baru kali ini Sekar mengatakan Mbok Taji itu syirik. Mbok Taji tak habis pikir, apa sebenarnya maksud perkataan anaknya. Apa salahnya ia menjalankan tradisi yang sudah diyakininya dari dulu? sayur lodeh itu penuh akan pesan dan makna. Bagi Mbok Taji, semua itu penting, apalagi dalam situasi yang katanya genting ini. Apa? Korona?
  Kepulangan sekar pagi itu membuat Mbok Taji bahagia dan kecewa. Ia senang bisa menjalani hari-hari bersama Sekar. Tapi sayangnya Sekar kini berubah. Di rumahnya sekarang, kata-kata syirik sering kali terdengar di telinga Mbok Taji, terucap begitu mudahnya di mulut Sekar. Hari-hari Mbok Taji dihantui dengan kata-kata itu.
“Oalah Gusti, apa hubungannya syirik dengan sayur lodeh tujuh warna?”
Tidur malam Mbok Taji tak pernah lagi tenang. Pertanyaan itu menggelayut di malam-malam yang terasa berat dan panjang.

Malang, 6 April 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar