Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MAKHLUK LAIN TAK SUKA ORANG PEMALAS DAN JOROK


Oleh : Meisya Eva Natasya

       Pada suatu hari hiduplah seorang anak perempuan bernama Aceng yang hidup di kota orang untuk mengejar Pendidikan yang ia impikan. Tinggal di kosan yang kotor tak terurus, namun ia terbiasa dengan lingkungan seperti itu. Konon katanya masyarakat di kawasan tempat tinggalnya itu, kosan itu terkenal angker. Dahulu pernah ada orang yang gantung diri di pohon besar dekat kosan Aceng, ada juga yang bilang kecelakaan itu disebabkan karena si korban kerasukan makhluk ghoib. Sebagai seorang anak yang hidup jauh dari orang tua, ia pun terpaksa tinggal di kosan itu, sebab di kota itu Aceng tidak memiliki sanak saudara. Namun Aceng tak merasakan sedih melainkan senang karena  bebas melakukan aktivitas apapun dan tidak ada yang melarangnya.
       Ada seorang temen kuliahnya yang sekelas dengannya yang begitu perhatian dengannya, sebut saja Aisyah. Dia tinggal di gang Mawar yang tak jauh dari kosan Aceng . Setiap pulang kuliah dia selalu bareng bersama Aceng.
       Tit tit tit …!!! Sekarag jam 11.00 , menandakan kelas perkuliahan akan berakhir. Siang itu Aceng dan Aisyah pulang bersama seperti biasanya karena jarak kos mereka berdekatan. Karena sering ngobrol mereka pun tampak begitu akrab.
 “Ceng kamu tidak takut ya tinggal di kos sendirian?” ucap Aisya keheranan.
“Kenapa harus takut, kan ada penjaga malam , jadi aman kan?” ucap Aceng.
“Bukan itu, maksudku sama hantu?” ucap Aisyah serius.
“Hahaha hantu mana ada, sekalipun ada, aku masih tidak percaya walaupun aku melihatnya, sebab hantu menjadi alasan orang tua untuk menakuti anaknya agar cepat tidur.” Ucap Aceng menghiraukan. Perkataan Aceng membuat Aisyah merasa senang dan semakin menyukai Aceng dengan sikapnya yang pemberani.
“Hebat kamu Ceng, sudah mandiri pemberani pula.” Ucap Aisyah tersenyum malu. Aceng pun membalas dengan senyum sombongnya. Tak terasa perjalanan mereka hampir sampai dan harus berpisah  di perempatan gang Jalan Mawar dan mereka pun berpisah. Di kampus Aceng terkenal dengan penampilan yang urak-urakan, baju kusut yang tak terurus. Namun Aceng merupakan anak yang baik dan suka menolong , itu yang membuat Aisya menyukainya.
Di suatu pagi yang cerah tiba-tiba Aceng tergesa-gesa menuju kelasnya.
“Ceng, telat terus kenapa? Kurang tidur ya? Matamu sembab tuh.” Menunjuk mata Aceng. “Emangnya apa yang terjadi kepadamu?” ucap Aisyah penasaran.
“Entahlah aku juga bingung setiap malam terganggu oleh perasaan yang tidak enak, dan itu terjadi setiap aku pulang dari main.” Ucap Aceng dengan wajah masih mengantuk. Pagi itu tepat jam 8 pagi perkuliahan pertama berlangsung, Aceng pun tak sengaja tertidur di kelas dan tak ada orang yang mengetahuinya kecuali Aisyah yang selalu memperhatikan Aceng dengan keresahan hati.
Setelah perkuliahan usai, Aisyah menghampiri Aceng lantas menanyai musabab ia mengantuk saat kuliah. Akhirnya Aceng bercerita panjang lebar atas apa yang dialaminya malam tadi.
 Semalam tiba-tiba terjadi sesuatu yang menimpanya. “Kenapa dada terasa sesak seperti ada yang menimpa.” Ucap Aceng dalam hati. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya yang bergetar untuk meminta pertolongan kepada siapa pun yang ada di dekatnya untuk menyadarkannya. “Siapakah sosok bayangan hitam, besar, tinggi , seram yang ada di hadapanku, tidak mungkin ini pasti hanya mimpi?!!” teriakan dalam hati. Suhu badan Aceng mulai terasa panas dingin, sejenak berfikir, apakah ini yang dinamakan ketindihan hantu?. Aceng pun berusaha mencoba membuka mata namun tak bisa, entah kenapa mulut pun sulit untuk berbicara, hanya bisa diam terkunci.
Semakin Aceng mencoba berusaha melawan, sesak nafas tersasa berat dan detak jantungnya berdebar semakin kencang. Kesadaran Aceng pun terbagi dua, di antara mimpi dan kenyataan. Dalam hati berkata “Apa yang sedang terjadi menimpa tubuhku?”Aceng tak bisa melihatnya namun dia bisa merasakn. Lantas semua do’a yang dia ingat di waktu kecil ketika megikuti pengajian diucapkan berulang-ulang, dengan harapan semua yang terjadi ini bisa berhenti. Tak lama kemudian, setelah berdo’a berulang kali, perlahan sesak nafas bersemayam bersamaan bayangan hitam itu hilang dan dia mencoba membangunkan diri dari tidur membuka mata. Dengan pelan-pelan bisa Aceng lakukan dan akhirnya matanya bisa terbuka. Perasaan takut menghantui pikiran Aceng yang membuat tubuhnya merasa lemas tak berdaya.
Aceng melihat keberadaannya masih di kamar yang gelap dan sunyi. Pandangannya menatap sekelilingnya dan tidak ada sedikitpun perubahan yang terjadi di kamarnya. Aceng menengok ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 3 pagi. Lantas Aceng bangkit dari kasur dan berfikir dia ingat kejadian yamg menimpanya. Dia rasanya ingin marah namun kepada siapa? Karena terror mengganggu di saat kenyamanan tidurnya yang telah diusik. Mungkin semua berawal mula Aceng pindah di kosan sehingga menjadikan dia seorang pemalas dengan sikap yang bebas tak teratur hingga sampai sekarang. Baik dari malas membersihkan kosan sampai memcuci kaki dan berdoa sebelum tidur dan lain sebagainya.
Sebelumnya sebuah mimpi yang aneh itu belum pernah terjadi kepada Aceng. Mungkin karena dia menjadi pemalas hingga dia sering mengalami peristiwa teror yang mengganggu tidurnya. Dia melupakan pesan dari orangtuanya yang dulu pernah di ucapkan. “Ingatlah nak, dimana pun kamu berada jagalah kebersihann, sebab kebersihan pangkal kesehatan dan juga merupakan sebagian dari iman !!” Di balik peristiwa yang telah terjadi Aceng berfikir, benar apa yang dikatakan orang tuanya selama ini, dia tak pernah melakukan apa yang telah dipesankan orang tuanya. Tapi dia akan belajar mengubah kepribadiannya. Terlintas ada yang janggal di dalam pikiran Aceng, seperti mereka makhluk tak kasat mata ingin berbicara mengatakan ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada Aceng, namun dia mencoba menolaknya dengan alasan karena Aceng penakut dan tak percaya keberadaan mereka.
Usai kejadian itu, kini Aceng kerap terbangun ketika mendengar suara adzan subuh dan dia tak mau melewatkan sholat subuh, lantas dia menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu, lalu kembali menuju kamar untuk melakukan ibadah sholat subuh. Setelah selesai sholat tak sengaja rasa ngantuk tiba-tiba menyerangnya dan sejenak tak terasa dengan cepat dia menarik selimut tidur dan tak lupa sebelum tidur Aceng berdoa berharap peristiwa aneh ini tak terulang lagi. Sayangnya Aceng bangun kesiangan. Titt tit tit!!! , jam tangan menunjukkan jam 10 tepat, sebentar lagi dosen akan mengakhiri mata kuliah pertama. Cepat-cepat Aisyah bergegas pergi menuju kursi Aceng untuk membangunkannya dari tidur.

Malang, 6 April 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar