Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

JANGAN BENCI MAMAKU !!


     Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

    Hinggar binggar keruhnya dunia kian hari semakin memekik. Ketakutan serta kekhawatiran akan nasib badan, perlahan membeliti hati setiap insan. Banyak yang kehilangan harapan, tak sedikit yang tertekan beban, juga tidak jarang yang mengeluh di sepanjang kehidupan. Urgensi silaturrahmi kepada saudara seiman, kini hanya menjadi wacana belaka. Hubungan kekerabatan pun, terikat jarak dan keadaan. Tiada teman lagi, selain kecurigaan.
"Nak, jangan main sama Rizal ya !! Mending main sama yang lain saja !"
"Ehh kawan-kawan, sekarang kalau diajak ke rumah Rizal, Jangan mau !!"
"Mamanya Rizal itu perawat, jadi hati-hati. Bisa saja dia membawa virus, Kan seram"
     Kesal, kecewa dan amarah semua bergelut membaur, seorang wanita yang selama ini ku anggap sebagai tempat berteduh ternyata penghancur kebahagiaanku. Semua lontaran cemooh dan penghinaan, tak ubannya luput dari telingaku saban hari. Berulang kali aku mendebat kepada mama, sedikitpun ia menggubris celotehku pun tidak. Berangkat pagi, pulang pagi, seakan menjadi rutinitas nestapa bagi mama. Terlebih lagi akhir-akhir ini, semenjak kondangnya COVID-19. Mendekam aku dalam kesepian dan keterpurukan. Sosok yang biasa membacai buku tugasku dan mendampingiku belajar setiap malam, terbilang jarang lagi ku dapati. Bahkan rumah ini pun, hanya sebagai tempat membaringkan badan usai bergelut dengan puluhan alat-alat kesehatan.
"Zal, kamu tahu dimana sepatu mama ??" Berulang kali mama memanggiliku dari luar, secuil pun tak ada keinginan untuk menjawabnya. Aku memejamkan mata pura-pura, bersamaan dengan gagang pintu yang terbuka perlahan. Sebuah langkah menerjap masuk menyusuri lantai marmer abstrak kamar.
"Ya tuhan, ternyata dia tidur" Tangan lembut menyeka keningku. Dingin, membuntangkan kesyahduan usainya. Melirih bibirnya berujar,
"Sehat-sehat terus ya nak ! Do'akan mama selalu !!" Derap langkah itu kembali terdengar, sontak aku berlari membuntuti mama sebelum ia pergi ke rumah sakit kota. Aku mendekap erat mama, seragam putih yang dikenakannya basah oleh rinaian air mataku. Berusaha mama melepas tangannku yang melingkar di pinggangnya.
"Mama jangan pergi !! Di rumah saja sama Ijal" pagi ini aku meluapkan rasa yang telah lama menggunduk di dalam sanubariku. Maksudku tak lain untuk membuktikan kepada teman-teman bahwa mamaku sehat, mamaku tak terjangkit virus biadap itu.
"Jangan pergi ke rumah sakit ma !! Aku takut mama sakit" Tangisku semakin memilu lantaran mama hanya terdiam tak menghiraukanku.
"Ijal sayang, Ijal gak boleh gitu !! Allah menganugrahkan keahlian kepada mama untuk membantu orang lain, Insyaallah Mama akan sehat senantiasa kalau Ijal memberikan semangat dan do'a kepada mama" Aku terdiam sembari diikuti tetesan air mata yang masih terus keluar. Melihatnya, mama mengeluarkan selembar tisu dari sakunya lantas menyeka pipiku. Sepatah jawaban mama, benar-benar mengutukku untuk tersadar akan mulianya hati seorang tenaga kesehatan. Bersikeras aku berfikir, bagaimana jadinya kalau seumpama pasien suspec di luaran sana dibiarkan bergelimangan tanpa ada keperdulian antar sesama, bukannya tanah garuda menjadi sejahtera, tapi akan semakin porak pranda. Bukankah begitu ??
"Tapi ma, Ijal bosan di rumah terus, teman-teman Ijal gak ada yang mau main ke rumah seperti hari-hari biasa" Sambungku menambahi.
"Ijalll, bukan hanya Ijal yang bernasib seperti itu. Kita sebagai masyarakat yang perduli dengan bangsa, seyogyanya kita berdiam diri di rumah. Untuk apa ??" Mama membalikkan pertanyaan kepadaku.
"Iya ma, Ijal faham. Tapi ma. . ." Belum kelar aku menakhiri kalimatku mama bergegas pergi menuju ke mobil.
"Kamu jaga diri di rumah ya, jangan lupa olahraga di pagi hari. Makan sayuran dan buah yang mama belikan di kulkas ya !! Jangan panik, agar imun di tubuhmu tidak turun". Mama mengecup keningku lalu mencubitnya.
"Oh iya, yang paling penting, selalu cuci tangan menggunakan sabun di westafel serta jangan lupa rajin belajar dan beribadah kepada Tuhan" Kembali mama mencubit pipiku lantas masuk ke mobil.
Senyumku mengembang lantaran semua ketakutanku telah terpatahkan. Tak ada yang sia-sia semua jerih payah mama sejauh ini. Tugasnya mulia, berada di garda paling depan dalam menyelamatkan nyawa sesama. Melawan musuh yang transparan tidak semudah membalikkan tangan. Sekarang tugas kita sebagai khalayak yang sadar dan cinta antar keluarga, teman dan orang terdekat kita, tiada jalan yang tertapak kecuali berjauhan. Bukan karena kebencian atau pun kesombongan, tapi segalanya untuk kemaslahatan. Tuhan pun tak mungkin menjatuhkan penderitaan tanpa menyertakan jalan keluar. Tenang, semua akan pulih pada waktunya.


Malang, 2 April 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar