Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

AISYAH YANG SAMA



Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

   Entahlah, sudah dua hari ini aku lebih nyaman memilih duduk memunggung di atas ranjang tidurku seraya tersenyum sipu lantaran menerjapi kalimat demi kalimat di ponselku. Biasanya usai pulang kuliah, aku memilih joging di taman komplek atau pergi ke warkop menemui teman-temanku. Namun tidak dengan diriku kini, setelah sebuah notif kontak asing merayap masuk ke dalam jajaran pesan whatsappku tiga hari lalu.

   Mulanya aku bersikap dingin saat membalasnya, sebab aku tak tahu siapa dia, namun perlahan seakan aku terbius oleh kalimat-kalimat yang sedikit demi sedikit dilontarkannya untuk menanggapi pesanku, santun dan ramah bila dibaca. Bahkan tak sedikit kata maaf dan terimakasih dikirimkannya, meski ia hanya salah menuliskan huruf atau merasa lama membalas pesanku.

 Siang tadi adalah perjumpaan pertamaku dengannya, karena memang semenjak
pembagian kelompok pelatihan dasar keislaman yang akan digelar oleh komunitasku, setiap kelompok belum pernah bertatap muka dengan anggotanya. Aku yang tertunjuk sebagai ketua kelompok, meminta agar seluruh anggota mengirim pesan singkat kepadaku guna mempermudah interaksi antar sesama. Tak kenal maka tak sayang, begitu kan syair pujangga zaman dulu ??

"Ohh, jadi kamu yang bernama Husna ?" Aku membuka percakapan dalam pertemuan perdana siang itu.

"Iya benar" Jawabnya dengan menyematkan senyum simpul di ujungnya. Alamak, manis nian pipinya. 

Kulitnya putih bersih, menggambarkan keperduliannya dalam merawat tubuhnya. Wajahnya berseri ditambah dengan bibir yang merona alami tanpa goresan warna dari alat bersolek. Ternyata kelembutan tutur katanya bukan berada di dunia maya saja, tutur bahasanya anggun persis dengan rautnya. Dan yang paling mengejutkan, ia adalah anak jurusan yang serumpun denganku. Bedanya aku sastra, dia pendidikannya. Dengan dalih itulah, kerap aku mengirim pesan singkat kepadanya untuk menanyakan tugas maupun materi yang belum aku mengerti. Laksana bersua dengan Aisyah Humairah versi masa kini.

"Man, aku bawa pizza nih. Makan saja !!" Pria berpostur gagah dan sedikit lebih tinggi dariku masuk seraya membawa sekotak paket pizza yang dibawanya dari luar. Hampir genap setahun kami berdua tinggal seatap di kota orang ini, sebab ayah dan ibuku tak mau ambil pusing memikirkan keadaanku selama di perantauan. Jadi, mereka memintaku untuk tinggal bersama dengan kakakku yang lebih dahulu menginjakkan kaki di kota ini. Mendengar keputusan ayah kali pertama, aku ingin mendebat kepadanya. Karena pasti kakakku akan bertingkah menang sendiri nantinya.

"Wahh tumben kakak baik hehehe" Ujarku menggoda.
"Iya donk, hari ini adalah hari paling bahagia bagi kakak" Ia duduk merangkulku sembari mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Aku menghiraukan ucapannya dengan terus memotong pizza di sampingnya.
"Pizza ini, kakak beli sebagai tanda kemenangan kakak dalam menawan hati seorang wanita" Hampir tersedak aku mendengarnya, bagaimana mungkin kakakku yang terbilang cukup dingin dalam menyikapi wanita, mendadak memberi kabar kemenangannya dalam menaklukkan hati wanita. Memang benar selama ini banyak cewek kampus mengagumi kakakku ini. Kerap juga aku mendapati titipan makanan, minuman, aksesoris bahkan pakaian dari mereka untuk diberikan kepada kakakku. Namun ujungnya semua itu aku yang mengenakannya. Sungguh sulit menebak hati kakakku ini.
"Gadis mana yang telah menawan hatimu kak ??" Gigitanku terhenti lantaran menanti jawaban dari kakak.
"Dia adalah Aisyahku, seorang gadis muslimah yang berbeda dengan gadis-gadis lain. Aku jatuh hati kepadanya Man" Mendengar nama Aisyah, sontak fikirku menerjap kepada Husna. Seorang gadis yang juga telah mengngetuk pintu hatiku baru-baru ini. Bukan hanya itu, setiap kali aku mendengar lantunan lagu yang kini sedang gencar-gencarnya menghiasi jagat dunia, Aisyah istri Rasulullah, nama Husna yang kali pertama terbayang di pikiranku. Semoga aku pun bisa meneladani Rasulullah saat bercinta dengan Aisyah putri Abu Bakar, sehingga nampak serasi jika disandingkan dengan Husna nantinya- Amin.

"Mana sih kak, orangnya ??" Tanganku tak bisa diam untuk terus merengkek merebut ponsel kakak. Aku geli mendengarnya.

"Dia angkatanmu Man, adik tingkatku. Aku mengenalnya saat pertemuan perdana kegiatan komunitas kita dua hari lalu" Jlepp, aku menjatuhkan sepotong sisa pizza di tanganku. Tenggorokanku mengering, namun aku tak bergeming untuk menuangkan minuman soda ke dalam mulutku. Rasa penasaranku semakin menggunung ihwal identitas gadis yang telah menjadi kekasih kakakku. Apakah aku juga telah mengenalnya ?? Sebab, hampir semua anggota komunitasku aku hafal wajah dan namanya usai kemarin dan kemarinnya lagi memperkenalkan diri ke muka yang juga kebetulan dipandu kakakku sebagai seniornya.
"Mana kak fotonya ? Coba tunjukan !!" Tanpa berfikir panjang, kakak memainkan jarinya untuk menemukan foto gadis itu di galerinya. Senyum kakak tak hentinya terpancar dari wajahnya sepanjang memandangi ponselnya. Dia nampak bahagia telah menemukan gadis yang sesuai dengan hatinya.
"Ini Man, siang tadi aku jalan dengannya" Aku merebut ponsel kakak dari tangannya, untuk memastikan bahwa gadis yang berfoto di sampingnya itu hanya editan. Dadaku naik turun bersamaan dengan hidungku yang kembang kempis. Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi. Sesempit daun kelorkah hatiku dengan kakak. Harapan yang telah ku susun rapi, malam ini runtuh dalam satu kali hantaman. Bagaimana bisa dua pria sedarah merebutkan Aisyah yang sama. Aku ingin membanting ponsel kakak untuk meluapkan kekecewaanku dengannya, tapi aku tak tega menghancurkan kebahagiannya yang telah berani membuka hati untuk pertama kalinya kepada gadis yang juga ku cintai.

"Selamat ya kak !! Memang sejatinya pria yang baik untuk gadis yang baik pula" Ujarku sebelum beranjak masuk ke dalam kamar. Kakak menatapku aneh kendati tingkahku yang berubah seketika.

"Tapi Man, pizzamu masih banyak ini"

Bruakkk !! Aku menghiraukan teriakanya. Ku raih ponsel yang tergeletak di atas kasurku. Lima notif pesan dari Husna yang berisi jawaban pertanyaanku ihwal materi kuliah tadi siang, serta sebaris permintaan maaf karena telah lama membalas pesanku sebab dia sedang menghabiskan waktu bersama dengan kakakku ternyata. Tak ada senyum yang terukir seperti hari-hari sebelumnya. Aku hanya membalasnya dengan pesan singkat "Terimakasih !!". Usainya, ku putuskan untuk memblokir kontaknya. Bukan karena aku benci dengannya, tapi aku ingin melupakannya dan membuang jauh-jauh untaian kisah masa depanku bersamanya yang ku rangaki dengan halusinasiku sendiri. Di samping itu, aku tidak ingin mengecewakan saudara kandungku sendiri yang baru pertama kali mengenal cinta. Syukurlah, kakak menemukan cinta yang tak salah, meski ada hati yang menahan perih dan tak mudah untuk menghilangkannya.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar