Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

YANG MEMBEKAS DI HATI



Oleh: Muflikhah Ulya

Saat itu aku sedang berada di kota Kediri, tepatnya di sebuah pesantren putri yang mana pesantren ini memang dikhususkan bagi para penghafal al-Qur’an. Suatu sore setelah pengajian ditutup, salah satu santri memberikan selembar kertas kepadaku. Aku menerima dan membacanya perlahan, ternyata kertas ini berisikan sholawat karangan KH. Maftuh Basthul Birri (Pengasuh Pondok Pesantren Murotilil Quran (PPMQ) Lirboyo Kediri). Tak lama kemudian, ibu Nyai atau kami biasa memanggilya Ummi membacakan sholawat tersebut. Lalu diikuti seluruh santri. Suara Ummi yang begitu merdu, semakin menambah syahdu suasana saat itu. Aku melihat ke sekeliling, para santri terlihat sangat khusyu’ membacanya. sembari mengangkat kedua tangan mereka membacanya secara perlahan, meresapi setiap makna yang terkandung di dalamnya, hingga tak terasa ada beberapa air mata yang menetes.

Kurang lebih sholawat itu seperti ini:
IMG_20200320_203017

Al-Qur’an penuh berkah, mengajilah biar gagah. (2x)
Al-Qur’an penuh cahaya, mengajilah biar kaya.

Ngaji Qur’an tidak mudah, janganlah dianggap mudah. (2x)
Jangan hanya kanak-kanak, tua pun mengajilah.

Para guru para imam, mengajilah sampai mahir. (2x)
Itulah perintah allah, janganlah dilupakan.

Baca tulisan bukanlah ngaji, bahkan harus sampai pandai. (2x)
Itulah yang namanya ngaji, yang harus kita tekuni.

Kalau Qur’an diremehkan, hilanglah barakah Allah. (2x)
Gejolak datang petaka datang, susah payah kita semua.

Sekarang bukti nyata, sadarlah kita bersama. (2x)
Di dunia berantakan, diakhirat masuk neraka.

Semoga Allah melimpahkan, keberuntungan bagi kita. (2x)
Di dunia sejahtera, akhir kelak masuk ke surga.

Setelah pembacaan sholawat tersebut selesai. Para santri menyantap makan malam yang telah disiapkan. Sembari makan, aku memperhatikan para hamilul Qur’an tersebut. Wajah-wajah yang cantik berseri, berhias qur’an di hati dan lisan yang tak henti melantunkan kalam ilahi. Suasana, tempat serta orang orang yang sampai detik ini membekas di hati.

Sidoarjo, 20 Maret 2020.
 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar