Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SETETES YANG MENJADIKAN SEGALANYA


Oleh: Baedt Giri Mukhoddam Billah


Deng…deng….deng….deng…. dring….dring….dring…..dring….. seperti itulah keseharian kami setiap qiroa’ah subuh telah dikumandangkan dan itu menandakan karena jama’ah sesegera mungkin akan dilaksanakan, Qism Ibadah dengan tugas nya yang sangat mulia itu melakukan tugasnya dengan benar. Walaupun mereka dibenci mayoritas penghuni pesantren. Aku termasuk orang yang lebih kepada jalan tengah dari permaslahan antara penghuni pesantren dan Qism Ibadah tersebut.
Waktu berjalan seperti biasa, setelah jama’ah subuh selesai langsung dilanjutkan dengan wirid yang telah disusun oleh pendiri dari pesantren ini. dari dalam jendela terlihat anak yang sedang berdiri berjejer dengan penuh kekesalan akibat hukuman yang diberikan atas perbuatan mereka. Mereka dihukum dengan bermacam-macam factor, ada yang terlambat jama’ah, terlambat turun dari kamar, sembunyi dari Qism Ibadah, beralasan sakit, dan beberapa variasi alasan yang bermacam-macam. Aku menikmati wirid yang telah disusun itu, resapan makna yang sangat besar membuatku berharap ingin membunuh waktu dan memutus masa tua ku, agar bisa hidup hanya pada waktu ini saja.
Berhubung hari ini hari jum’at, maka wirid subuh yang biasanya bisa diselesaikan dalam durasi 30 menit, khusus pada hari jum’at akan ditambah, kira-kira dengan estimasi waktu sekitar satu setengah jam jika belum ditambah mauidhoh hasanah dari seorang pengasuh yang hadir pada pagi itu. Akan tetapi ada momen yang paling kunanti pada hari jum’at ini ialah Mushofahah. Musofahah adalah kegiatan salam-salaman antara seluruh santri yang ada di pesantren ini, seluruh santri saling memaafkan atas apa kesalahan sepekan lalu, bertukar candaan dan terlebih itu pengguguran dosa secara masal. Karena nabi Muhammad ﷺ pernah bersabdah : ketika orang sesama muslim bersalaman, dosa itu berguguran sampai salaman mereka terlepas satu sama lain.
Setelah mushofahah selesai, sebuah pengumuman yang sangat dibenci oleh penghuni pesantren, dan lagi-lagi dari Qism Ibadah yaitu pengumuman siapa saja yang tidak diperbolehkan mengambil kesempatan keluar pada hari ini. karena pada hari Jum’at saja semua penghuni pesantren di izinkan keluar dari pesantren yang berdurasi 2 jam ditambah wajib mengikuti ziaroh kepada pendiri pesantren.
Kegiatan ziarah kubur berjalan begitu lancar dan menggembirakan, ditambah rencana-rencana tujuan yang diutarakan dalam jalan menuju tempat ziarah, keseruan juga meningkat karena jalan yang dituju melewati kampus negeri yang sangat diimpikan oleh seluruh calon mahasiswa se-Indonesia ber-grade World Class Universiti, kemudian membayangkan bagaimana indahnya kehidupan kuliah nanti-nya, yang mana jadwal pelajaran kita mengaturnya sendiri, tanpa ada yang mengatur kita harus untuk bangun pagi, karena sudah mengatur jadwal pada siang hari, kemudian tidak adanya Qism-Qism yang ikut campur masalah di setiap detik hidup ku dari mulai ku membuka mata sampai menutup-nya kembali. Mungkin itu akan menjedai hari-hari yang sangat indah untuk dijalani.
Ziarah telah usai dan waktunya untuk kembali ke pesantren untuk sarapan dan lain-lain, akan tetapi aku memutuskan pada hari Jum’at pagi adalah waktu luang untuk olahraga dengan leluasa, selain untuk menghabiskan waktu menunggu waktu diperbolehkan-nya keluar untuk memenuhi keperluan santri, aku ingin melakukan hobiku yaitu bermain sepakbola, tentu saja aku punya panutan dalam olahraga ini, yaitu Lionel Messi, seorang yang setia dan personal yang sangat tegas dalam lapangan, mengingatkan kepada ku bahwasannya, seorang pria hendaknya bisa memimpin suatu umat dikala membutuhkan petunjuk.
Jam pada masjid Mubarok telah menunjukkan pukul 09:30 yang menandakan diperbilehkan-nya santri keluar dari pesantren untuk memenuhi hajat-nya, berbondong para santri keluar dengan berbagai macam bawaan, antara lain: baju kotor yang dibungkus kain sarung, tas yang berisikan keperluan dan terkadang kosong, ada juga yang keluar cuma bawa dompet saja, dan lain sebagainya. Kemanapun tujuan mereka, wajib untuk menunjukkan identitas sebagai santri. Akan tetapi tujuanku hanya simpel, belanja dan makan.
Satu jam telah berlalu kemudian aku memutuskan untuk pergi ke warteg favoritku, memesan menu yang jarang di pesan teman-teman ku, yaps, capjay ditambah perkedel kentang suatu kombinasi yang pas untuk menu jum’at ini. Kemudian sesosok orang berperawakan seperti bapak-bapak datang dan hamya memesan minuman Joshua saja tanpa membeli makanan, kemudian menghampiriku yang sedang melahap makanan dengan lahap, si bapak bertanya : “mondok dimana mas?”. Dengan ekspresi bersinar sibapak menanyai ku, kemudian kujawab :”di pesantren DT mas”. Sibapak membalas :”oh… yang deket SMP itu ya…. Ngomong-ngomang jangan panggil bapak, panggil mas saja, soalnya saya masih mahasiswa semester 5”. Aku merasa sungkan karena telah memanggilnya bapak. “oh ya mas, maaf” jawabku dengan nada agak sungkan. Kemudian mas ini kembali bertanya “kegiatan-nya kayak gimana sih mas disana?, seru kayak-nya mas”. Masih dengan wajah berseri-seri ketika menanyaiku dengan pertanyaan tersebut, kemudian kujelaskan panjang lebar atas kegiatan yang dipesantrenku, kemudian menimbulkan sebuah pertanyaan dalam kepalaku, dan aku mulai berbalik tanya pada mas ini “kenapa mas tanya tentang pesantren saya?, mas pernah tinggal dipesantren juga ya?”. Kemudian mas itu mengangguk dengan senyuman yang agak lebar, dan membalas pertanyaanku sekaligus memberi beberapa nasehat kepadaku. “Ah iya, tentu saya pernah tinggal dipesantren selama 6 tahun dan aku sangat ingin masa itu kembali, kuberi tahu ya… apapun yang kau lakukan dalam pesantren ini, galilah semua ilmu beserta akarnya, kalo perlu tanah bekas dari akar tumbuhan ilmu tadi ambil juga, karena itu adalah perbekalan yang sangat nyata dan hanya diwaktu ini lah yang paling tepat”. Aku menyimak nya dengan lagak menurut, tak lama kemudian si mas tadi pamit kemudian pergi meninggalkan tempat.
Waktu menunjukkan 10:00 yang artinya waktu izin keluar Jum’at akan segera habis aku bergegas menuju kasir, aku hendak membayar tagihan makananku dan ternyata telah dibayarkan oleh mas-mas yang tadi. Setelah mengetahui hal tersebut, aku berkata dalam hatiku, “orang ini memang berniat baik ya.” Aku langsung bergegas pulang ke pesantren dan bergegas mengambil antrian kamar mandi untuk pesiapan sholat Jum’at.
Alhamdulillah….. Sholat Jum’at telah terlaksanakan dan satu hal sangat aku butuhkan, “Tidur siang”. Ketika aku hendak beranjak keluar dari masjid, seorang temanku menyapa ku dan mengajak ku untuk mengobrol dengan nya, temanku yang satu ini terkenal rajin ibadah dan jarang sekali melanggar, kalau bukan saja dia yang mengajak ku, pasti akan kupukuli karena telah mengganggu waktu tidur siang ku yang sangat langka ini. “jadi kenapa jak ? ada apa kau ingin ngobrol dengan ku”, dia orang Jakarta dan biasa kupanggil “jak”. Si jak bukannya menjawab tapi malah memberiku pertanyaan “apa kau tau siapa yang ajak bicara tadi ketika kamu di warung tadi?”. Aku heran mendengarnya karena seperti tidak ada santri satu pun saat itu. “nggak lah jak, ngomong-ngomong tadi aku dibayarin lho.” Kemudian aku sangat terkejut dengan jawaban si Jak “asal kamu tau…. Itu adalah dirimu dari masa depan, dia ingin mengunjungi dirimu pada saat masih dipesantren” spontan aku menjawab “kenapa kau bisa bilang begitu?!”. Si jak menjawab “karena seperti ada yang memberi tahu aku begitu, dan seperti yakin sekali akan, entah kenapa juga aku langsung berpendapat seperti itu.” Aku menjawab dengan nada pembelaan sekaligus super kesal “halah…. Ngaco lu mah…. Gini amat lo, mending gw langsung cabut aja tadi ah…”. Aku langsung meninggalkan nya begitu saja tanpa pamit.
Aku tiba dikamarku, lebih tepatnya diatas kasurku yang nyaman, sembari memikirkan apa yang Jak katakana tadi, aku hanya bersikap netral menghadapi perkataan si Jak barusan, akan tetapi aku masih menganggapnya sesuatu yang mustahil. Dan akhirnya mataku mulai terpejam dengan meninggalkan pertanyaan besar dalam kepala ku, jika itu memang terjadi, maka bagaimanakah kehidupanku di masa depan????



SELESAI ……….










Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar