Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Pemakai Korona Pertama di Dunia dan Kesombongan Manusia

Halimi Zuhdy

Beberapa bulan ini dunia ramai dengan mahkota pembunuh (Korona). Demikian juga pada 5000 -2000 SM juga ramai dengan pemakai pertama mahkota di Dunia. 

Ia cicit dari seorang Nabi, tepatnya keturunan kelima dari Nabi Nuh, ia pintar, cerdas dan perkasa. Namun, karena keperkasaan, kecerdasan dan ketangkasannya yang  tidak mampu ia bawa untuk menjadi manusia tawadu', sehingga ia pun kemudian mengaku Tuhan. Mengaku Raja di Raja. Penguasa terhebat di dunia.

Bila manusia diberikan  kelebihan oleh Tuhan, dan tidak lagi sadar pada Dzat Pemberi, maka hanya kesombongan, keserakahan dan kedhaliman yang akan dilakukan. Di antara mereka ini adalah Namrud, seorang penguasa dan raja pertama di Dunia, ia penguasa yang sombong dan bengis. Ia menjadi penguasa Babilonia setelah banjir bah melanda dunia. 

Ia terkenal dengan "Awwal Jabbar fil Ardh" orang tiran pertama, dan ia juga dikenal orang perkasa pertama di muka bumi. Serta yang membangun Burj Babil ( Menara Babel). Sehebat-hebatnya Namrud dengan berbagai siasat liciknya, luasnya kekuasaannya, tingginya pangkat, dan segala yang ia miliki. Namun ia mengerang terkapar dengan makhluq kecil, nyamuk mengakhiri kehidupannya. Dan akhirnya Penguasa 400 tahun itu menjadi sejarah pendhaliman manusia. 

Tiada kekuasaan apa pun di muka bumi yang abadi, dan tiada kekuatan yang kekal, ia hanyalah titipan Tuhan. Bila menyalahi tak butuh raksasa untuk menghabisinya, cukuplah nyamuk sebagai lawannya. 

Mahkota sebagai simbol kekuasaan dan kesombongan sangatlah dekat. Bila kesombongan merasuk pada seseorang,  maka kesewenang-wenengan akan dilakukan, tangan besi menjadi andalannya. Bila kekuasaan di tangan orang dhalim merajalela, Allah utus lawannya untuk mencegahnya, Nabi Ibrahim datang dengan rasionalitas dan ketauhidan untuk menghancurkannya, ia benar-benar takluk dengan rasa tak percaya dirinya, kemudian mengaku Tuhan sebagai dalih ia penguasa tunggal di muka bumi. Namrud atau Nimrod adalah berasal dari bahasa Ibrani "Marad" yang bermakna membangkang, ia membangkang pada ketauhidan dan kemanusiaan. 
.
Hidup memang tiada yang tunggal, bila datang Namrud dan menjadi raja diutuslah Nabi Ibrahim, bila bertandang Fir'aun datanglah Nabi Musa, dan seterusnya...demikian setiap zaman akan selalu terulang.

Mahkota tiada yang kekal, ia hanyalah titipan, bila tak amanah akan menjadi cambuk pada pemiliknya. Semua akan berakhir sesuai dengan perbuatannya, kecuali Tuhan menyadarkannya, bertaubat atas kesalahannya. 

Korona hari ini, mungkin mahkota bagi penduduk bumi modern, mereka yang suka merusak bumi, maka bumi marah. Udara dikotori oleh manusia, kini polusi diistirahatkan, dipaksa dengan datangnya korona. Allah luar biasa. Agar dunia ini juga berpuasa. Toh pada akhirnya juga demi manusia. 

Atau mungkin kesibukan selama ini yang melupankanNya, lupa bersyukur atas karunia alam yang begitu rahmah, sehingga mahkota yang menjadi kebanggaan akhirnya menjadi virus mematikan. Atau mungkin, terlalu angkuh dengan menganggap teknologi sebagai solusi atau bahkan sebagai Tuhan, kini tahu sendiri bagaimana ia berhenti pelan-pelan. Semua sepi. Tak ada gerak. Bahkan rumah ibadah untuk menemuiNya juga banyak ditutup. Bagi yang sadar, ia akan mesujudkan dirinya di rumah, tanpa meniadakan usaha untuk mencegahnya. Bagi yang tidak, hanya mengandalakan alat pencegah, agar tubuhnya tetap sehat. 

Hari ini bagi dunia, adalah hari pertaubatan massal. Lautan dan daratan yang tak pernah diam dirusak, kini minta untuk diistirahatkan. Sampah menggunung, akhirnya memuntahkan lahar penyakitnya. Hewan-hewan yang dilarang untuk dibunuh, juga dimusnahkan, kini sedikit bisa tenang. Praktik-praktik perdagangan yang mungkin ada yang tidak halal, juga agak tenang. 

Korona mengajarkan untuk khulwat, agar tidak menjadi Namrud, agar manusia menjadi seorang hamba (membudak hanya padaNya), bukan pada penguasa, teknologi, atau apapun yang menomorduakan Tuhan.

Tapi, segala yang Allah berikan dalam kebahagiaan dan kesedihan, selalu ada hikmah di dalamnya. Mudah-mudahan, penulis sendiri dapat mengambil segala hikmah yang terjadi, demikian juga pembaca tulisan ini.

Allahul musta'an wailahi tuklan.

Malang Indonesia.

*pernah dipublish sebelumnya, serta ada beberapa revisi.
Share on Google Plus

About halimizuhdy.com

0 komentar:

Posting Komentar