Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

NASIB AMPLOP COKLAT



Oleh: Nur Sholikhah

            Di atas meja dalam sebuah ruangan, benda-benda itu menumpuk. Mereka tersusun rapi, menunggu tangan-tangan dingin menyentuhnya, menunggu tangan-tangan yang memiliki kuasa membukanya, lalu meletakkannya kembali di tempat yang berbeda. Satu persatu mendapatkan urutannya, ada yang diletakkan kembali dengan rapi, ada yang dibuka lalu dibiarkan begitu saja, dan ada pula yang terlempar entah ke mana.
            Para pemilik benda-benda itu hanya bisa pasrah, mereka menunggu dering telepon bernyanyi. Mereka menggantungkan harapan dalam benda-benda itu. Memang terlihat remeh, bahkan sangat remeh karena jika merasa tidak dibutuhkan benda itu akan dibuang, dilempar jauh ke tempat sampah. Dan tangan-tangan dingin itu tak peduli bahwa harapan-harapan itu telah musnah.
            Benda-benda itu begitu berarti. Pengorbanan untuk bisa membuat benda itu rapi tak sekedar membuang uang untuk foto kopi. Mungkin saja di dalamnya sempat ada tangisan bayi, atau suami, atau istri. Ada juga jatah uang yang terkurangi, yang seharusnya dibuat membeli nasi, malah berkurang karena untuk mengurus kelengkapan isi.
            Benda-benda itu adalah amplop coklat yang di dalamnya ada biodata diri, ijazah sebagai bukti dan surat-surat lainnya yang diinginkan oleh para pencari karyawan/karyawati. Tak lupa para pemiliknya menaruh harapan tinggi agar segera mendengarkan telepon bernyanyi. Namun sering kali harapan itu tak bisa tercapai karena persaingan kerja memang tak pernah usai. 
            Orang-orang mengantri membawa amplop coklat yang sudah rapi. Amplop-amplop itu akan mengantri di meja para pemegang kuasa. Digantung atau dihubungi kembali, menjadi penantian bagi mereka yang berusaha mencari rizki. Jika digantung, amplop itu tak akan pernah kembali. Dan usaha yang telah dilakukan untuk melengkapi persyaratan menjadi tak berarti. Amplop itu tak pernah kembali, tak bisa dinanti, tak bisa digunakan lagi.
            Dan pada akhirnya, kisah amplop-amplop yang tak diminati itu berakhir di tempat pembuangan barang-barang yang tak berguna, tempat sampah. Harapan-harapan yang digantung telah diturunkan sudah. Para pemilik amplop harus merelakan pengorbanan uang dan tenaga yang sudah dikucurkannya. Mereka harus membeli kembali amplop coklat yang baru, mengisinya lagi dengan biodata, foto kopi ijazah, dan kelengkapan lainnya. Tak lupa mereka juga menitipkan harapan yang sama besar untuk bisa diterima kerja, agar bisa kembali mengisi bakul nasi di meja, agar bisa membelikan susu untuk anak-anaknya, dan agar bisa menyicil utang yang mungkin dimilikinya.


Malang, 16 Maret 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar