Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MUBALIGH SANG PEMENANG SAYEMBARA


Oleh: Ira Safira


Dikisahkan di tanah Jawa khususnya di kerjaan Blambangan yang dipimpin oleh Prabu Menak Sembayu diserang oleh suatu wabah penyakit. Berhari – hari wabah penyakit semakin menjadi – jadi rakyat banyak yang mati bahkan putri sang raja ikut terkena wabah penyakit dan belum ada tabib yang dapat menyebuhkan penyakit sang putri Dewi Sekardadu. Kerjaan semakin diruding kesedihan.

Hingga suatu hari raja mengumumkan sebuah sayembara yang isinya siapapun yang dapat menyebuhkan putrinya maka ia akan dijodohkan dengan sang putri jika laki  - laki dan jika perempuan maka dia akan diangkat sebagai saudara dari putri. Setelah sayembara tersebar diberbagai pelosok kerajaan tidak ada satu pun rakyat yang berani mengikuti sayembara. Hal ini terdengar sampai seorang Brahmana Resi Kandaya. Brahmana tersebut akhirnya mendatangi kerajaan untuk bertemu dengan raja dan memberi tahukan bahwa ada seorang yang mampu menyebuhkan wabah penyakit tersebut seorang pertapa yang bernama Maulana Ishaq yang berada di gunung Gresik. Beliau adalah seorang mubaligh dari Samarkand dan putra dari soerang ulama besar.

Sang raja akhirnya mengutus prajuritnya untuk mencari mubaligh tersebut. Sampailah prajurit tersebut di gunung Gresik dan menemui sang mubaligh. Setelah mendengar cerita dari prajurit Maulana Ishaq berkata: “Baiklah aku akan memenuhi permintaan Raja kamu sekalian, karena aku tidak sampai hati untuk mengecewakannya, tapi hal ini kulakukan bukan karena iming-iming yang akan dijodohkan dengan Dewi Sekardadu juga bukan karena aku takut untuk dihukum mati oleh raja kalian. Yang kulakukan adalah ikhlas semata tanpa mengharap imbalan jasa apapun. Nah Sekarang berangkatlah kisanak sekalian terlebih dahulu”.

Dalam waktu yang singkat Maulana Ishaq dapat menyebuhkan sang putri dan raja pun tetap melaksanakan janji yang ada dalam sayembaranya yaitu menikahkan putrinya dengan sang mubaligh. Alhasil Dewi Sekardadu menikah dengan sang mubaligh dan memeluk agama Islam. Maulana Ishaq pun mulai menyebarkan agama Islam di Blambangan yang pada saat itu masyarakatnya memeluk agama Hindu – Budha dan rakyat kerajaan banyak mmberikan respon positif. Mendengar hal itu membuat sang raja merasa terancam dan akhirnya memisahkan sang Mubaligh dengan putrinya yang saat itu sedang mengandung tujuh bulan. Isak tangis sang putri mengiri kepergian sang mubaligh dari tanah Blambangan. Anak yang dikandung sang putri adalah salah seorang sunan walisongo yaitu Sunan Giri.





Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar