Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MENELISIK MAKNA REZEKI ALA IMAM SYAFI'I DAN IMAM MALIKI



Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah

Istilah rezeki yang kerap dianggap melekat dengan kehidupan manusia, ternyata mengundang perspektif yang berbeda antara Imam Syafi’I dan Imam Maliki. Berangkat dari kisah beliau sang Imam Maliki yang merupakan guru dari Imam Syafi’I dalam sebuah majelis ilmu. Imam Maliki mengatakan bahwa sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab. Cukup bertawakkal kepada Allah Swt dengan benar, niscaya Allah Swt akan memberikan seseorang itu rezeki. Mengutip kata-kata beliau dalam buku Dirkursus Madzhab Fikih Arba’ah, berikut kata-katanya,”Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus sisanya”. Ucapan sang Imam Maliki ini pun berdasarkan sebuah hadits yang berbunyi:
لَوأنكُم توكّلتُم عَلَى اللهِ حَقّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُم كَما يَرزُقُ الطَّيرَ تغدُوخِمَاصًا وتَروحُ بِطَانًا
"Andai kalian bertawakkal kepada Allah Swt sebenar-benar tawakkal niscaya Allah Swt akan berikan rizki kepada kalian, sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad).
            Dari pengandaian tersebut, maka Imam Syafi’I mengutarakan pendapatnya kepada sang guru (Imam Malik). “Wahai guru, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki? kata Imam Syafi’i. Sehingga dari pertanyaan beliau kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa untuk mendapatkan rezeki dibutuhkan adanya kerja keras. Rezeki tidak secara instant datang kepada makhluknya, melainkan harus dicari lalu diperolehnya melalui sebuah usaha.
            Berdasarkan gambaran diatas, terlihat ada dua makna yang berbeda dalam mengartikan rezeki diantara dua imam besar, yakni Imam Maliki dan Imam Syafi’i. Imam Syafi’I yang bersih kukuh dengan pendapatnya, akhirnya membuktikan kepada Imam Maliki bahwasanya pada suatu hari, beliau yang sedang jalan-jalan melihat sekumpulan orang memanen anggur. Beliaupun membantu mereka sampai selesai. Setelah itu, Imam Syafi’I memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai ucapan terima kasih. Sungguh senangnya beliau saat itu, bukan karena mendapatkan anggur, melainkan karena memiliki bukti yang akan disampaikan kepada sang Imam Malik kalau ucapannya itu benar.
            Tak berpikir panjang, Imam Syafi’I pun bergegas hendak menemui Imam Malik yang tengah duduk santai. Dengan segala kehormatan beliau kepada sang guru, sambil menaruh seluruh anggur yang diperolehnya beliaupun melanjutkan untuk bercerita. Sesampainya pada kalimat,”Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya”.
            Imam Malik hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Imam Syafi’I seraya mengambil dan mencicipi anggur. Kemudian beliau bergumam pelan. “Sehari ini aku memang tidak keluar pondok, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berfikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab?. Hanya bertawakkal yang benar kepada Allah Swt, niscaya Allah Swt akan berikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah Swt yang mengurus sisanya”.
            Dari kisah diatas, dapat kita ambil ibrahnya, tentang bagaimana menyikapi sebuah perbedaan. Contohnya saja, kedua imam madzhab pun berbeda dalam menentukan hukum padahal dari hadits yang sama. Keduanya tidak saling menyalahkan, ataupun fokus membenarkan pendapat sendiri, melainkan saling memahami akan sebuah perbedaan masing-masing. Perbedaan itu pun merupakan rahmat dari Allah Swt. Dan Islam sendiri dibangun atas ukhuwah yang menghormati perbedaan, namun tetap saling berkasih sayang. 
 


Malang, 16 Maret 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar