Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KETIDAKETISAN MENGKAITKAN CORONA


Oleh: Muhammad Anis Fuadi

Virus corona (COVID-19) secara ganas telah mewabah dari Kota Wuhan di China hingga merambat ke seluruh penjuru dunia. Sejumlah narasi mulai bermunculan dan berlomba-lomba mengangkat peristiwa yang sedang trending ini. Namun, tidak semua narasi memiliki tujuan positif dalam membahas peristiwa ini. Beberapa narasi justru lebih bersifat negatif dan provokatif dengan menghubungkan virus corona ini dengan permasalahan lain.

Beberapa hari ini memang virus corona benar-benar menyebar secara sadis. Namun, rasa cemas mulai dirasakan masyarakat justru dengan munculnya virus lain yang tak kalah sadis, yakni virus kebencian. Berbagai artikel yang menghubungkan kemunculan virus corona di China dihubungkan dengan azab atas tragedi pembantaian muslim Uighur dengan mudah kita jumpai di berbagai media sosial.

Di manakah empati dan nurani kita di saat manusia lain sedang kesusahan, justru mengkaitkannya dengan permasalahan lain yang jelas berbeda. Hal ini seakan menambah rasa keegoisan seorang manusia dengan seolah menganggap penderita virus corona sebagai penjahat dan pendosa besar yang pantas diazab. Padahal kita sesama manusia pasti sama-sama mempunyai dosa. Manusia tidak berhak sama sekali untuk sekali-kali menentukan siapa yang pantas mendapatkan azab. Kita sesama manusia hidup bertempat tinggal di bumi yang sama. Apa yang terjadi pada orang lain, bisa juga terjadi kepada kita.

Tidak ada vaksin yang bisa menjadi penawar untuk virus semacam virus kebencian ini. Semakin dalam kita menanam kebencian dalam diri kita, maka semakin susah pula kita mencabutnya untuk membuangnya jauh-jauh dari dalam jiwa kita. Berbeda halnya dengan virus corona.  Akhir-akhir ini berbagai penelitian mulai dilakukan dalam rangka menciptakan vaksin untuk melawan corona. Dan berbagai kabar gembira telah kita dengar dari beberapa pasien yang berhasil sembuh dari virus ini setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, dengan demikian, bukan berarti kita menurunkan tingkat kewaspadaan terhadap virus corona ini.

Akhlak ataupun adab adalah sesuatu yang harus dinomorsatukan oleh siapapun untuk diterapkan dan dijunjung tinggi dalam hidupnya. Salah satu caranya adalah dengan tidak membahas hal-hal yang sensitif seperti wabah penyakit sebagai keterkaitan akan suatu hal atau bahkan yang lebih miris digunakan sebagai bahan lelucon. Disinilah rasa peka berbicara. Untuk menjaga adab, hendaklah seseorang memilki rasa peka yang tinggi terhadap sesama manusia. Karena Sang Kholiq telah menciptakan manusia lengkap dengan dibekali perasaan hati dan akal pikiran.

Selain itu, perilaku yang harus dihindari seseorang ketika terjadi situasi dunia yang seperti ini adalah sikap meremehkan terhadap permasalahan ini. Sudah seharusnya kita sadar bahwa permasalahan ini adalah permasalahan kita bersama. Jika seseorang terlalu menganggap remeh sesuatu maka dia akan dengan senangnya berbuat sesuatu sesuka hati. Sehingga jika hal ini berlanjut akan berdampak buruk dapat mematikan hati nurani seseorang. Sehingga rasa peka akan akan kondisi orang lain sulit muncul dan menganggap apa yang telah diperbuat adalah hal yang biasa saja.



Mari intruspeksi diri!

Malang, 18 Maret 2020


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar