Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KEBANGKITAN KEMBALI ILMU FIQH



Oleh: Inayatul Maghfiroh



Dalam peradabannya ilmu fiqih juga mengalami masa kemunduran, namun perjuangannya tidak hanya berhenti pada tiik itu, dicatat dalam sejarah bahwa setelah masa kemundurannya, ilmu fiqih mengalami masa kebangkitan kembali.
Setelah mengalami masa kebekuan dan kelesuan pemikiran selama beberapa abad, para pemikir Islam berusaha keras untuk membangkitkan Islam kembali, termasuk di dalamnya hal pemikiran hukumnya. Kebangkitan kembali ini timbul sebagai reaksi terhadap sikap taqlid yang membawa kemunduran dunia Islam secara keseluruhan. Maka kemudian muncullah gerakan-gerakan baru.
Fenomena-fenomena yang muncul pada akhir abad ke-13 H merupakan suatu wujud kesadaran dari kebangkitan hukum Islam. Bagi mayoritas pengamat, sejarah kebangkitan dunia Islam pada umumnya dan hukum Islam khususnya, terjadi karena dampak Barat. Mereka memandang Islam sebagai suatu massa yang semi mati yang menerima pukulan-pukulan yang destruktif atau pengaruh-pengaruh yang formatif dari barat. Fase kebangkitan kembali ini merupakan fase meluasnya pengaruh barat dalam dunia Islam akibat kekalahan-kekalahan dalam lapangan politik yang kemudian diikuti dengan bentuk-bentuk benturan keagamaan dan intelektual melalui berbagai saluran yang beraneka ragam tingkat kelangsungan dan intensitasnya. Periode kebangkitan ini berlangsung mulai sejak abad ke 19, yang merupakan kebangkitan kembali umat islam, terhadap periode sebelumnya, periode ini ditandai dengan gerakan pembaharuan pemikiran yng kembali kepada kemurnian ajaran islam.
Kesadaran umat islam akan kelemahannya yang cukup lama memunculkan semangat pembaharuan kembali, dikutip dari catatan ahli sejarah, salah satu hal yang memancing tumbuhnya kesadaran umat islam akan kelemahannya adalah munculnya Napoleon Bonarpate menduduki mesir pada tahun 1798. Kejatuhan mesir ini menyadarkan umat islam bahwa betapa lemahnya mereka, selain itu kemajuan peradaban dunia barat yang semakin berkembang merupakan ancaman bagi dunia islam. Dari situlah, para raja dan pemuka-pemuka islam mulai berfikir bagaimana caranya meningkatkan mutu dan kekuatan islam kembali, sehingga muncul gagasan dan gerakan pembaharuan dalam islam, baik di bidang pendidikan, ekonomi, militer, sosial, dan gerakan intelektual lainnya.
 Gerakan pembaharuan ini cukup berpengaruh terhadap perkembangan fiqih, hingga muncullah para ulama’ yang menyerukan suaranya untuk kembali kepada syari’at islam yang benar. Dimulai pada abad ke-13 hijriah oleh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengumandangkan seruan pembasmian bid’ah dan mengajak kembali kepada Al qur’an, sunnah, serta amalan para sahabat, dan dari sinilah timbul pengikut wahabiyyah.
Tidak hanya oleh Muhammad bin Abdul Wahab,  di Libya, Muhammad bin sanusi juga menyerukan untuk membersihkan agama dari usaha-usaha infiltarsi musuh islam yang menyisipkan ajaran-ajaran yang menyesatkan, dilanjutkan oleh Al Mahdi usaha memperbaiki sendi agama sesuai dengan hokum tuhan dan rosul-Nya.
 Dilanjutkan pada abad ke-20 M, tepatnya akhir abad ke-19  oleh tokoh bernama Jamaluddin AL Afghani. Ulama mesir yang ingin memerdekakan diri dari para penjajah dibantu oleh Muhammad Abduh yang mengadakan dakwah yang mengajak masyarakat kembali kepada madzab salaf dan kepada sumber-sumber yang asli, serta mengumumkan adanya perang terhadap taqlid, meyatukan madzhab serta menjauhkan bid’ah.
Atas izin Allah, melalui usaha-usaha beliaulah menghasilkan corak baru dalam mempelajari ilmu fiqh, yaitu: mempelajari fiqih di bawah pancaran sinar nash syari’ah yang asli sesuai dengan kebutuhan masa serta pertumbuhan masyarakat.
Diantara beberapa tanda kebangkitan fiqih salah satunya umat islam telah mulai mempelajari fiqih dengan cara perbandingan, bukan lagi menganut madzhab tertentu, tetapi melakukan perbandingan antara madzhab satu dengan yang lainnya.
Sumber: Buku Pengantar Ilmu Fiqh, Hal 87-88.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar