Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Jenaka & Agama



Oleh: Bagus Isnu H


     Dalam Agama Islam mengajarkan nilai humanis, adab, dan dogma islam. Bahkan jika dilihat setiap agama mengajarkan seperti itu, akan tetapi beda dalam keyakinan saja. Tidak ada perseteruan antar agama, semua pasti membawa rasa cinta, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada alam, seperti halnya nilai dasar kehidupan kita yang mencakup semuanya. Agama mengajarkan materi-materi agar dapat di cerna dulu dalam akal, agama tidak mengajari taqlid buta tetapi mengajari hak konvensional (kesepakatan).

     Agama Islam memiliki makna damai atau keselamatan, siapa yang berislam harus menjalankan syariat baru akan terselamatkan. Jika kita tahu bahwa berislam saja tidak cukup, didalamnya juga ada beberapa tambahan yang juga harus diselaraskan dalam status kesehariannya, yaitu iman dan ihsan. Iman yang merupakan pokok dalam landasan berkeyakinan yang harus dilatih agar selalu kuat dan menancap. Ihsan juga merupakan nilai pokok dalam islam, karena jika hanya mejalankan islam dan iman dirasa kurang, butuh pelengkap, dan butuh acuan. Ihsan merupakan bentuk konkret implementasi dari dua nilai pokok diatas, maka dari itu tiga pokok dalam islam ini harus diselaraskan dan tidak boleh mengucilkan diantaranya.

     Mengenal Islam yang berarti damai, sungguh asyik jika di dengar dan lebih asyik jika di implementasikan. Damai memiliki makna luas, kita bisa mengaitkan dengan kondisi. Dalam siroh an-nabawi kita bisa meneladani sikap Rasulullah Saw yang dimana dalam keseharian beliau bersikap transformatif. Mengapa demikian? Karena beliau ini sebagai pemimpin para umat yang dimana harus mengetahui keadaan rakyat / umatnya, dan ini adalah sikap yang proporsional dan profesional yang dicerminkan beliau.

     Pada zaman Abbasiyah yang tepatnya Khalifah Ja’far Harun Ar-Rasyid yang masa pemerintahan di tahun 786-809 M. Nampak sosok sastrawan religi dan sosial yang masyhur di masanya, dia adalah Abu Ali Al-Hasani bin Hani Al-Hakami yang sekarang kita kenal adalah Abu Nawas. Beliau terlahir dari kalangan orang biasa di daerah Ahvaz, Persia (sekarang Iran). Ayahnya yang seorang anggota militer marwan 2 dan ibunya hanya seorang buruh pencuci kain woll, yang bernama jalban. Sejak kecil dia bersama ibunya karena di tinggal oleh ayahnya. Ibunya membesarkan dan mensekolahkan. Di Bashroh (Irak) merupakan pilihan seorang ibunya untuk hijrah dari kota asalnya, dan ditempat itulah Abu Nawas menimbah berbagai ilmu.

     Kita tahu dalam literatur klasik mencatat bahwa masa muda Abu Nawas ini penuh dengan kontroversial, hingga menimbulkan kegaduhan di masyarakat awam dan bangsawan, bahkan tindakannya mengancam kepribadiannya sendiri. Dengan sajak-sajaknya yang mengandung makna dalam, religius, kemanusiaan, menjunjung keadilan, dan mengkritisi pemerintahan. Dan itu menjadi sebuah sajak yang sangat tajam, yang mampu membuat semua kalangan ber-antusias.

    Seorang sastrawan baru yang masih memiliki sikap tanggap dalam keadaan sosial, jadi dirasa maklum jika semua keadaan diberi kritikan. Abu Nawas juga terkenal kejenakaannya bahkan dalam syairnya pun terbesit candaan, dan tingkahnya pun juga menggelitik perut bahkan kontroversial bagi orang awam, bahkan didalamnya mengandung katauhidan juga.

    Dalam riwayat diceritakan yang tindakan Abu Nawas membuat ngah orang lain. Pada siang hari ada gerombolan sahabat Abu Nawas yang berjalan bersama-sama, dan bersamaan pula awan mendung berkumpul yang menyajikan  hujan. Dan disitu sikap seorang Abu Nawas panik yang mengakibatkan dia berlari, lalu ada satu diantara sahabatnya yang berkata “ hujan ini rahmat Allah, kenapa kok tambah lari was nawas” se-ianya kalo dalam bahasa Indonesia begitu. Saut Abu Nawas dengan sikapnya yang jenaka “Mending saya lari, daripada kalian yang menginjak-injak rahmatNya”. Tersontak para sahabatnya karena jawaban seorang Abu Nawas yang sangat rasional.

    Ketika akhir kehidupan Abu Nawas dia tidak berwasiat apapun pada kalangannya, hanya saja dia berpesan “Besok kalau saya mati buatkan makan yang ada pintunya tapi kecil saja tetapi gemboknya (induk kunci) yang besar”. Orang awam berpendapat ini hal yang tidak logis bahkan aneh jika dilihat, tapi jika telaah lebih dalam bahwasanya Abu Nawas ingin meninggal tetap bisa menghibur kalangan setempat dengan pemakamannya yang aneh tersebut.

    Maka dari itu mari bergembira ria, jaga kesehatan hati, jaga kebugaran akal. Karena keduanya harus selalu berkesinambungan dalam menjalani kehidupan yang bersosial ini. Rasulullah Saw pun selalu riang dihadapan para sahabatnya, karena beliau menjadi suri tauladan yang selalu menjadi panutan diseluruh alam. Adapun syair yang dinisbatkan kepada nabi yang dimana keseharian nabi yang penuh dengan riang. Mari baca bersama-sama!

بِتَعَقَّدْ لِيْه فِحَيَاتَكْ

وَبْتَحْزَنْ وِتِتْأَثَّرْ

لَوْ كُنْتِ نَاسِيْ تَذَكَّرْ

سِيْرَةْ نَبِيْنَا وفَكَّرْ

اِسْمَعْ كَلَامُوْتَفْائَلْ

بَشَّرْ وَلَا تَنَفَّرْ

وَوَحِّدِ اللّٰهْ فِيْ قَلْبَكْ

قَادر فِيْ عُسْركْ تِيَسَّرْ

صَلِّ عَلَى النَّبِيْ وِتَّبَسَّمْ 

دَا النَّبِيْ تَبَسَّمْ . وِتَّبَسَّمْ

دَا النَّبِيْ تَبَسَّمْ 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَيْه












 Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar