Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

GADIS DI UJUNG DESA

Cerita sebelumnya: Kedelapan kerajaan yang hadir di pesta telah menunjukkan kesohorannya masing-masing serta meminang kedelapan putra mahkota Raja Burhan. Hanya Yazid seorang yang belum mendapatkan pasangan. Sebenarnya ia tak berharap lebih dengan pesta perjodohan itu, sebab hatinya telah tertawan oleh gadis desa sejak lama. Karena  itu ia bergegas pergi untuk menemuinya sebelum kerajaan yang tertinggal itu datang lalu meminangnya.


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

    Agar dapat tiba di kediaman gadis itu, aku membtuhkan waktu untuk menempuh jarak sekitar dua setengah kilometer dari gerbang istana. Rumahnya berada di ujung barat tepat di samping tugu monumen pembatas wilayah kerajaan ini dengan kerajaan Nun. Aku tidak yakin jika aku akan kembali ke istana tepat waktu nantinya serta melaksanakan apa yang telah dipinta oleh Raja yaitu menjemput rombongan kerajaan yang masih berada di perjalanan. Tak dapat dipungkiri bahwa aku kerap tak tahu waktu jika sedang berdua dengan gadis itu, mendadak aku lupa daratan oleh senyumnya, sipunya juga lugunya yang melenakan hasratku. Matanya yang menyipit tatkala kedua pipinya terangkat lantas membentuk lesung manis diatasnya, menjadi keindahan haqiqi untuk terus ku pandangi. Dunia serasa berada di pelukan kita berdua, indah dan penuh romansa. Entah kenapa aku merasa begitu nyaman setiap kali berada di sisinya. Namun semua kenikmatan itu akan sirna, tak dapat ku bayangkan bagaimana jadinya asmara yang telah lama kita rajut akan raib sebab pesta perjodohan di istana. Aku tak tega, tapi juga tak bisa berbuat apa-apa.

    Rumah kecil di sudut desa itu nampak sepi seperti tak berpenghuni. Ku langkahkan diriku menapaki jalan berkoral mengarah ke halamannya. Aku masih ingat betul ayunan yang terbuat dari batang pinus yang dibelah mendatar itu, kedua ujungnya diikat memanjang dengan tali pintalan sebagai penguat saat diduduki. Di tempat itulah awal pertama pandanganku beradu dengan gadis sederhana yang berhasil menawan hatiku. Kala itu aku turut serta membagikan sandang pangan dan tetekbengek lainnya bersama paman Hadiyan atas nama perdana menteri istana di bidang kesejahteraan rakyat.

Dengan penuh semangat ku ketuk pintu-pintu rumah lantas memberikan bagian yang menjadi hak mereka setiap minggunya. Hingga tiba pada salah satu rumah di sudut desa yang dihuni oleh dua pasangan tua bersama dua buah hatinya. Saat itu ku lihat si gadis sedang duduk santai di ayunan depan rumahnya sedang adiknya mendorongi ayunanya lalu berlari menuju kedua orang tuanya tatkala menyadari kedatanganku. Mulanya gadis itu amatlah dingin terhadapku, ia berfikiran bahwa keluarga istana semuanya jahat, namun hal itu ku lerai dengan selalu menemuinya di setiap pagi pada hari Minggu untuk bersenang-senang berdua bersamanya. Meski hanya sekedar bermain di bibir sungai Gangga, berjalan-jalan di hutan serta duduk sembari menikmati keindahan kota dari atas bukit Istima' , hal sekecil itulah yang selalu membawaku terbuai dalam rasa suka dan cinta kepadanya.
    "Pangeran Yazid, kau kah itu ??" suara lirih rentah mengejutkanku lantaran tengah melihatku terpaku seorang diri menatap ayunan yang dimainkan oleh angin musim panas.
"Oh ibu Robi'ah, iya bu saya Yazid. Kalau boleh tahu dimana Putri Sabila berada bu ??". Tanyaku.
"Maafkan aku pangeran, aku tak tahu dimana putriku sekarang, tapi yang pasti usai membelikan obat adiknya di Tabib dia izin untuk pergi ke bibir sungai Gangga"
"Haqi sakit bu ??"
"Iya pangeran, tapi syukurlah kini keadaanya sudah membaik."

Setelah bercakap singkat dengan ibu kandungnya, bergegas aku berlari menuju ke bibir sungai Gangga. Hal ini sudah ku duga, kalau pun aku tadi tidak bertemu dengan ibu Robi'ah, aku pasti akan pergi ke sungai Gangga, karena biasanya di tengah hari macam ini, kita berdua sedang menghabiskan waktu untuk menikmati udara segar yang berhembus juga sesekali berbincang mesra menghadap sungai Gangga disana, alirannya yang deras dan jernih menjadi saksi atas dua insan yang sedang memadu kasih.

 Dari kejauhan nampak seorang gadis berjubah kuning telur dengan khimar yang tersanggul di kepalanya, ia terduduk tenang di atas batu besar yang mengarah ke sungai Gangga. Lengannya memeluk erat kedua lututnya, wajahnya tenggelam penuh diantara khimar cerahnya. Naluriku berkata bahwa itu adalah putri Sabila dan ternyata benar, sepertinya ia tak menyadari keberadaanku karena aku datang dari arah belakangnya.
"Selamat siang Tuan Putri !!" Sapaku lembut. Sejurus kemudian ia memalingkan tubuhnya ke arahku, dengan cepat ia menyeka air matanya berharap aku tak mengetahuinya.

"Pangeran Yazid ?? Bagaimana kau ada disini ? Bukankah kau tengah berpesta di istanamu ?? Kembalilah !!". Ku lihat ia begitu cemas atas keberadaanku, berulang kali ia bersikeras menyeruku untuk kembali ke istana. Ternyata pesta ini telah diketahui oleh khalayak luas penduduk desa ini. Mataku memerah pun dengan matanya yang telah dahulu pecah berlinang air mata. Dengan hati yang paling dalam, kuutarakan segenap rasa yang telah lama meranum di kalbu namun kini harus berakhir di ujung kuku. Dengan menggengam ke dua tangannya aku berujar,

"Maafkan aku Tuan Putri, aku tidak bisa menepati janjiku. Kau boleh membenciku sebesar jagat raya, karena aku pantas untuk mendapatkannya." Dari dulu memang Putri Sabilla tidak pernah yakin akan hubungan ini, sebab dia tahu bahwa Raja tak akan pernah sudi untuk merestui dan menyetujui percintaan kami. Tapi aku begitu keras kepala, seakan mata hatiku bergumam bahwa Putri Sabila adalah gadis yang layak untuk menemani hari-hariku. Aku merasa telah melihat masa depanku di matanya, aku sungguh mencintainya.

"Kau tak perlu mengutuki dirimu sendiri pangeran, kau tak salah. Meski rasa cinta di hatiku telah membatu dan butuh cukup lama waktu untuk meruntuhkannya, aku tak apa. Selama ini suara hati kecilkulah yang menahanku untuk tidak terjerumus dalam mencintaimu terlalu berlebihan, karena aku sadar, kita tidak akan mungkin bersatu." Aku tak tahan melihat wajah pasinya yang kuyup oleh air mata, namun ia menolak saat hendak ku seka tetesannya.

"Sudahlah pangeran, sekarang kembalilah !! Lupakan aku, lupakan pula segala kenangan yang telah lama kita rangkai, karena masa depan Ad-du'ali berada di genggamanmu. Jangan kau buat ayahmu kecewa, juga putri cantik yang sudah jauh-jauh datang untuk menemuimu". Dengan cepat ia membalikkan badan membuang tatapan lalu hendak berlari pergi meninggalkanku. Sontak aku menarik tangannya hingga ia kehilangan keseimbangan lalu jatuh ke dalam pelukanku. Wajahku beradu, mata indahnya yang menyimpan banyak harapan manis dariku seakan tak pernah bosan untuk terus ku pandangi, bibirnya yang merona teramat lugu untuk menerima tamparan-tamparan syahdu dari kata-kataku yang hanya berujung pilu. Aku telah melukainya.

"Sekali lagi maafkan aku Tuan Putri !! Aku telah menghancurkan semua mimpi-mimpimu". Ku dekap dia dengan kuat, aku benar-benar takut kehilangan dia.
"Satu hal penting yang harus Pangeran ketahui. Pangeran harus yakin jika memang kita berdua benar-benar berjodoh, Tuhan akan mempersatukan kita kembali, percayalah !!" Balasnya.

Baru saja aku hendak melandaskan ciuman pertamaku, mendadak tangan gempal besar menarikku juga Putri Sabila. Sialan, ternyata itu pengawal istana utusan Raja untuk mencariku yang telah melanggar batas waktu yang diberikannya. Aku hanya bisa berjalan tertunduk pasrah lantaran tanganku terkunci rapat oleh pengawal istana. Selamat tinggal putri Sabilla, salam hormat untuk ibu Robi'ah dan ayah Asror serta si mungil yang sedang terbaring sakit, Baihaqi. Maafkan aku yang telah melukis lara.


Coming soon: Berpisahnya sembilan saudara


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar