Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Cuti Bersama yang Meresahkan


Oleh: Fahimatus Yusro

    Siapa yang tidak senang jika mendapati sebuah tanggal merah dengan note: Cuti Bersama? Pastilah semua senang, apalagi penulis :v. Libur, free, me time, family time, pasti banyak diminati oleh setiap orang yang memiliki jadwal yang padat dan terpaut pada nama-nama tujuh bersaudara yang terikat satu menjadi kesatuan bernama pekan. Mungkin lain lagi dengan mereka-mereka para pedagang asongan, atau bahkan pengusaha besar yang tak mendamba cuti demi memprioritaskan kebutuhan konsumen, kebutuhan pelanggan. Walau bagaimanapun, cuti bersama merupakan hal yang menyenangkan bagi kebanyakan orang.

    Sekarang, kita semua, bahkan seluruh dunia sedang merasakan bagaimana ‘cuti bersama’ tingkat internasional, walaupun kebijakan di setiap negara berbeda-beda sesuai dengan kondisi, situasi, ataupun keadaan setiap negaranya. Pemerintah di seluruh negara menggalakkan kebijakan-kebijakan ‘hidup sehat’ dan juga ‘social distancing’. Iya, tidak lain dalang dari itu semua merupakan Covid-19 atau kita sebut dengan Corona Virus yang bersumber dari Wuhan, China.

    Virus sederhana namun mematikan atas penyebarannya yang luar biasa cepat ini benar-benar membuat ‘kritis’ keadaan negeri dengan persebaran virus tersebut. Bagaimana tidak? Sistem lock-down yang diberlakukan menghambat semua hal, pendidikan, atau yang paling penting yaitu dari ranah ekonomi, baik itu perekonomian negara atau warga suatu negara. Rantai perekonomian pasti akan terhalang seiring diberlakukannya sistem lockdown. Di negeri kita saja, dimulai dari hadirnya covid 19, Kebutuhan pangan dan obat-obatan kini melonjak. Di sisi lain, penghasilan para pekerja kini juga tersendat. Mereka yang seharusnya bekerja di luar rumah kini dilarang untuk berinteraksi ekonomi, dilarang untuk membuat ‘pertemuan’ terlebih lagi perkumpulan dengan banyak orang.

    Hal ini tentu aman-aman saja (bagi perekonomian warga) jika semua orang di negeri ini memiliki perbekalan yang cukup untuk beberapa saat kedepan selama lock-down diterapkan. Akan tetapi warga negeri ini tidak semuanya memiliki hal itu dan banyak pula yang keseharian bekerja bukan untuk kemudian disisihkan akan tetapi untuk kebutuhan hari itu pula sehingga tiada simpanan bagi mereka. Akibatnya, banyak warga yang tidak patuh akan kebijakan pemerintah untuk stay safe di rumah walaupun mereka pun tahu konsumen semakin sepi. Pasalnya, tindakan merekapun disalah-salahkan warga.

    Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah bukan sekedar semaunya saja akan tetapi telah melihat bagaimana keberhasilan beberapa negara yang menerapkan sistem lockdown. Adapun di negeri ini, banyak warga yang melanggarnya. Mereka tidak senang akan hadirnya ‘cuti bersama’ ini, belum lagi dengan berita bahwa prediksi berakhirnya Corona di Indonesia adalah awal Mei. Sudah barang pasti warga semakin resah. Adapun para pelanggar yang disalahkan, mereka memang salah tetapi hal ini juga suatu hal yang runyam karena sistem ini tidak memberlakukan supply dari pemerintah bagi warga yang kurang mampu.

    Serba salah! Mungkin dua kata ini yang mewakili keadaan negeri pasca hadirnya Corona. Yang dapat kita lakukan tidak banyak, tetap mematuhi aturan pemerintah dan bolehlah kiranya untuk selalu melihat kerabat terdekat, bagaimana keadaan mereka, jika pangan keseharian tidak cukup, tiada salahnya untuk kemudian dibantu. Dan do’a-do’a pastikan selalu melangit untuk kemudian terijabah oleh Al-Mujiib. Kita sekarang memang sedang cuti bersama, akan tetapi cuti kali ini sungguh sangat meresahkan.

















Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar