Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BERPISAHNYA SEMBILAN SAUDARA


Cerita sebelumnya: Usai mendapatkan izin dari Raja untuk keluar dari istana, pangeran Yazid memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menemui putri Sabilla. Namun sayangnya perjumpaannya dengan putri Sabilla tidak begitu lama, lantaran pengawal suruhan Raja menyeretnya untuk kembali ke istana.


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

     Aku sudah menduga bahwa Raja akan murka terhadapku lantaran lalai akan perintahnya, lalu dia akan mencercaku panjang lebar. Terbukti saat aku tiba di istana, bukannya membawaku ke ruang pertemuan menuju pesta, pengawal suruhan Raja itu malah menyeretku ke arah ruang peradilan tempat biasa hukuman dijatuhkan bagi pelanggar, baik dari kalangan rakyat biasa, abdi istana maupun keluarga istana sekalipun. Raja tak pernah berat sebelah, ia tak segan-segan memberikan ganjaran setimpal atas perbuatan menyimpang dari para pelanggar peraturan.
     Paman Fahrijal merupakan salah satu algojo yang biasa melaksanakan hukuman yang telah ditetapkan oleh Raja seperti hukum cambuk, memotong tangan atau bahkan memenggal kepala. Sebenarnya dia sendiri tak tega melihat orang yang dicambuknya merintih kesakitan menahan panasnya pukulan darinya. Namun perintah tetaplah perintah yang harus ia patuhi. Dengan kemurahan hatinya Paman Fahrijal mempunyai cara cerdik untuk meringankan hukuman para pelanggar istana yang dikasihaninya, jika Paman disuruh untuk mencambuk sebanyak dua puluh kali, maka Paman Fahrijal akan mensiasati dengan mencambuk sepuluh cambukan pertama dengan keras lantas sisanya dia lakukan dengan pelan, sebab lima kali cambukan saja rasanya bagai ditusuk jarum sejuta yang menyeruak masuk ke tulang sakitnya. Selain Paman Fahrijal, Raja juga memiliki algojo lain yang disiapkan untuk menghukum pelanggar kejahatan dari dua orang atau lebih, tak mungkin Paman Fahrijal mencambukinya seorang diri. Untuk itu Raja mengangkat Paman Ayub sebagai algojo kedua. Jika Paman Fahrijal terkadang menaruh iba terhadap pelanggar yang dihukumnya, lain halnya Paman Ayub yang teramat arogan tabiatnya. Tak jarang banyak orang memilih untuk dicambuk Paman Fahrijal dibandingkan dengannya. Karena seusai dicambuknya orang-orang mengeluh lantas berobat ke tabib untuk memyembuhkan rasa sakit dan menghilangkan bekasnya, itu pun butuh waktu berhari-hari untuk benar-benar bersih. Namun bekas cambukan Paman Fahrijal akan hilang hanya dengan digosok dengn minyak ekstra daun gingseng. Di kerajaan, pelanggar pria akan ditangani oleh pria dan wanita oleh wanita, karena itu Raja mempunyai satu-satunya algojo wanita sebab pelanggar dari kalangan wanita sangatlah jarang, jadi Bibi Indana seorang diri menghabisi bedebah- bedebah dari kaum hawa. Meskipun wanita, Bibi Indana juga tak kalah garangnya dengan pria saat berhadapan dengan penyimpang durjana. Tapi sebenarnya ia adalah seorang wanita yang berhati mulua, lembut dan tak enggan menyapa.
     "Kau kah itu Pangeran ? Masuklah !!". Aku berharap orang yang memanggilku dari balik pintu ruang peradilan Paman Fahrijal. Sebab hanya dengannya aku bisa menawar hukumanku yang telah dijatuhkan oleh Raja. Ternyata dugaanku benar, Paman Fahrijal melontarkan senyum kecilnya tatkala mendapatiku melangkah masuk untuk menerima hukum cambukan. Ini sudah kedua kalinya aku terjerumus ke ruangan ini setelah Zuki mengajakku untuk bermain kembang api di dekat lumbung jerami. Bukan Zuki namanya kalau tidak ceroboh di setiap tingkahnya, ia meletakkan kembang api pada posisi terbalik, alhasil kembang api meluncur ke arah tumpukan jerami kering, akibatnya api merambat cepat hingga bagian belakang lumbung habis terbakar. Tanpa berfikir panjang aku dan Zuki diseret Raja ke ruang peradilan, limabelas cambukan dari tangan Raja sendiri melesat ke punggung kami. Naif.
"Paman Ijal, adakah Raja di sini ??". Tanyaku sembari menyambut uluran tangannya yang menuntunku ke tempat penyambukan. Sesekali aku melihat sekeliling ruangan untuk memastikan bahwa Raja benar-benar sedang tidak di sini. Sebab aku tak bisa menawar jumlah cambukan apabila Raja menunggui.
"Tenanglah !! Ayahmu sedang ada di ruang pertemuan menyambut para tamu. Dua puluh cambukan perintahnya !!". Balas Paman bersiap untuk memulai cambukan pertamanya.
     "Tegakah engkau melihat putra tertua Burhan berjalan seok saat menggandeng calon permaisuriku nanti ?? Bagaimana bisa putra tergagah Nabila terlihat lemah di hadapan para tamu istana karena menahan rasa sakit dari cambukanmu ?" Bujukku mengiba.
"Aku sudah menduganya". Setelah mendengar rayuanku dengan cepat ia menyelesaikan sisa cambukannya dengan pelan dan lembut. Terbaik memang Paman Fahrijal.
Selepas dari ruang peradilan, bergegas aku kembali untuk menemui Raja. Tatkala melewati taman bunga untuk sampai ke ruang pertemuan yang berada di ujung utara istana, aku bertemu dengan gadis bergaun putih berdiri memandangi hamparan tanaman yang bersusun apik. Tanpa ku sadari langkahku semakin dekat dengannya. Hendak saja aku menepuk pundaknya, ia terlebih dahulu memalingkan tubuh. Alamak, cantik nian raut wajahnya, hidungnya, matanya, mulutnya tercipta sangat sempurna, rambutnya terurai rapi dengan selipan setangakai bunga sepatu menambah rona rupawan gadis manis berpipi lesung bak princess Elza di film yang biasa diputar Putri Nety dan Yola saat hari Minggu tiba.
"Anda siapa ? Maaf aku telah lancang memetik tanamanmu tanpa izin". Mungkin ia mengira bahwa aku adalah penjaga taman yang akan marah bila mendapati orang dengan jali merusak bunganya.
"Aku Pangeran Yazid, kau siapa ??" balasku ketus.
"Apa ? Pangeran Yazid ??" mendadak gadis itu mengernyitkan dahi seperti terkejut setelah mendengar namaku.
"Iya. Kenapa ?" belum juga ia menjawab pertanyaanku tiba-tiba pelayan datang menghampiri untuk memberi tahu bahwa gadis itu dipinta untuk pergi ke ruang pertemuan. Aku mengikutinya berjalan di sebelahnya, toh tujua kita pun searah. Sepanjang perjalanan tak ada dialog antara kita, hingga sampai di pintu ruangan seluruh mata tertuju pada kita berdua yang berdiri mematung di tengah pintu lantaran tersontak melihat seisi ruangan terbelalak seakan terbius oleh kehadiran kita. Tak berselang lama Guru Barzah bangkit dari duduknya kemudian menepukkan kedua telapak tangannya, seperti menghasilkan mantra jitu yang memaksa seluruh penghuni ruangan untuk mengikutinya, ruangan yang semula lengang kini riuh oleh gemuruh tepukan tangan. Bersamaan dengan itu, seorang pria berjubah layaknya Raja datang menghampiriku, ia menarik tanganku juga gadis itu untuk berjalan mendekati Raja.
"Saya Raja Nailur dan Ratu Ilma telah sepakat memilih putra tertua Raja Burhan sebagai pendamping putri cantik dari kerajaan Ashwat".
Aku masih tak percaya, benqrkah gadis bermata terang itu akan menjadi permaisuriku ?? Putri Hilwah, nama yang sangat indah. Senyumnya mengembang tatkala aku menatapnya lebih dekat, ia tersipu hingga pipinya memerah.
"Selamat Kak !! Memang putra tertua harus mendapatkan yang istimewa". Bisik Ziyad menggodaku lalu merangkulku diikuti oleh tujuh saudaraku lainnya. Kami saling merangkul. Sungguh harmonis ke sembilan putra Burhan jika sudah berkumpul bersama. Kami benar-benar bahagia apalagi telah menemukan masa depan kami semua. Raja, Ratu Nabila, Faizah dan Ayu Dhiva turut serta mengucapkan selamat dan menciumi kening kami.
"Dua bulan lagi, kalian resmi menjadi keluarga kerajaan yang telah memilih kalian." kami tertegun, secepat inikah pernikahan kami akan berlangsunv ?, jika memang sedekat ini tempo yang diberikan oleh Raja, maka sedikit pula waktu kebersamaan kami di istana, lalu berpisah untuk menapaki jalan hidup kami masing-masing.
"Raja, sungguhkah engkau akan melepas kami dalam waktu sedekat itu ??" tempramen Zuki memang paling keras dan pemberani diantara kita, ia bahkan tak ada perbedaan saat berbicara dengan Raja dan orang biasa, kecuali dengan ibunya jua ia akan bertutur lembut di hadapannya.

"Bahkan waktu dua bulan pun aku masih ragu dengan keculasanmu". Jawabnya singkat lantas berlalu meninggalkan kami.

Coming Soon; Malam Pertama
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar