Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TELUSUR JEJAK WARISAN INTELEKTUAL ISLAM: REALISASI KODIFIKASI AL-QUR’AN DI MASA UTSMAN



Oleh: Nety Novita Hariyani


            Pada mulanya, ayat-ayat al-Qur'an belum terhimpun menjadi sebuah kitab. Sebelum ayat-ayat Al-Qur’an tertulis berupa lembaran-lembaran, ayat-ayat tersebut ditulis di atas pelepah kurma, batu, dan sebagainya. Baru kemudian khalifah Utsman memutuskan untuk menghimpun lembaran-lembaran tersebut menjadi kesatuan yang utuh. Penghimpunan lembaran-lembaran tersebut memang telah dilakukan sejak masa kepemimpinan khalifah Abu Bakar atas saran Umar, namun penghimpunan al-Qur’an secara lengkap baru terealisasikan setelah khalifah Utsman menjabat (Hitti, 2006, h. 154).
            Sebagai pedoman hidup manusia, Al-Qur'an menempati posisi tertinggi yang menjadi tolak ukur manusia dalam melakukan sesuatu. Bayangkan jika Al-Qur'an tidak dibukukan, tentu umat Islam akan kesulitan dalam menemukan sumber pegangan. Jika hanya berlandaskan pada pernyataan bahwa Al-Qur'an telah dipelihara oleh para penghafal Al-Qur'an terdahulu, tentu ini menjadi suatu pemikiran yang dangkal. Al-Qur'an terpelihara keasliannya karena memang orang Arab memiliki keistimewaan dalam hal kuatnya daya ingat hafalan mereka (Sunanto, 2011, h. 15). Sementara, perluasan wilayah telah menyebar ke seluruh penjuru dunia, tentu daya ingat yang dimiliki tidak sama. Pembukuan Al-Qur'an pada masa khalifah Utsman menarik penulis untuk menelusuri prosesnya, dimulai sebelum usulan mengenai pembukuan Al-Qur'an diajukan.

Proses Pengkodifikasian Al-Qur’an
            Bermula dari kekhawatiran yang muncul dari Umar bin Khattab mengenai keutuhan Al-Qur’an yang terancam atas kian meningkatnya huffazh (para penghafal Qur’an) yang mati syahid. Atas dasar itu, ia mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar yang menjabat sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah SAW. untuk segera menghimpun Al-qur’an yang kala itu masih berupa catatan-catatan lepas dan hafalan pribadi para sahabat. Mantan sekretaris Rasulullah, Zaid bin Tsabit diberi kepercayaan untuk mengumpulkan bagian-bagian Al-Qur’an itu. Potongan-potongan ayat Al-Qur’an yang tertulis di atas lembaran pelepah kurma, lempengan batu putih, serta hafalan umat Islam dihimpun menjadi sebuah teks tunggal yang utuh (Sunanto, 2011, h. 23).
            Pada masa kepemimpinan khalifah Utsman bin Affan (644-656), ia berhasil menghimpun teks Al-Qur'an secara lengkap. Disusunnya kitab suci Al-Qur'an guna menghilangkan dismilaritas dalam bacaan Al-Qur'an. Pernah suatu ketika pengiriman pasukan militer menuju Armenia dan Azerbaijan, muncul perselisihan mengenai bacaan Al-Qur'an dikalangan pasukan muslim, hal ini dikarenakan sebagian dari mereka berasal dari Syam dan sebagian lagi dari Irak yang mana terdapat perbedaan bacaan Al-Qur’an diantara keduanya (Amin, 2009, h. 105). Penduduk Syam menggunakan qira’ah Miqdad Ibn Aswad dan Abu Al-Darda, sedangkan Penduduk Irak menggunakan qira’ah Ibn Mas’ud dan Abu Musa (Khalid, 2014, h. 82).
            Terlepas dari latar belakang suku, bangsa, dan bahasa yang beragam akibat perluasan wilayah Islam, jazirah Arab sendiri memiliki dialek yang berbeda. Namun dialek Quraisylah yang dijadikan dialek utama bahasa Al-Qur’an. Perbedaan bacaan tersebut menjadi malapetaka yang berbahaya, terutama setelah adanya penaklukan besar dan Al-Qur’an dijadikan pedoman berbagai bangsa yang kemudian mengancam persatuan umat Islam. Mengetahui hal tersebut, khalifah Utsman segera menindaklanjuti permasalahan tersebut. Ia mengeluarkan kebijakan untuk menuliskan Al-Qur’an dalam satu huruf atau bacaan yang sama, sehingga umat Islam dapat membaca Al-Qur’an dengan satu qira’ah saja. Demikianlah ia menjalankan kesungguhannya secara cerdas dalam merealisasikan tugasnya itu (Khalid, 2014, h. 84).
            Keberhasilan khalifah Utsman dalam menghimpun teks Al-Qur'an yang lengkap berkontribusi besar terhadap sejarah Islam. Ia dibantu dan diberi masukan oleh Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-Harits dalam mengemban tugasnya itu. Zaid Bin Tsabit dipercaya kembali menjadi ketua dewan penyusunan Al-Qur'an, sedangkan yang bertugas mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur'an diantaranya Sayyidah Hafsah, istri Rasulullah SAW. Dewan tersebut berhasil menyusun sejumlah naskah salinan Al-Qur'an. Salinan Al-Qur'an tersebut kemudian disebarluaskan ke pejuru dunia Islam terutama wilayah yang berada di bawah pemerintahan khalifah Utsman untuk dijadikan pedoman di masa selanjutnya. Utsman telah memantapkan penerbitan Al-Qur'an yang resmi di masa kepemimpinannya (Bastoni, 2008, h. 21).






Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar