Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TAK HARUS MEMILIKI




Oleh : Ilman Mahbubillah

Kita bertemu, pada suatu ketika setelah ratusan purnama tak saling mendengar kabar. Bersama teman teman yang lain kita hanya mengobrol, bercanda, saling ejek, atau saling memuji satu sama lain. Tak ada rasa yang aneh, sungguh semuanya biasa-biasa saja.

Grup Whatsup dibuat, bercandaan dilanjutkan, dan entah kenapa chatmu di grup saat itu seolah menggodaku, ya aku akhirnya membalasnya, hanya bercanda pikirku. Toh juga aku sudah punya ilham, cowok baik yang sudah menemaniku beberapa tahun.

Yap, set the date. Teman grup wa ngajak jalan seusai office hours. Tentunya aku antusias ikut, karena kerjaan disini sedang gila gilanya, refreshing sejenak bersama teman pasti akan menyenangkan. Ilham membolehkanku karena ia sendiri juga tak bisa datang menjemputku karena ada rapat dadakan yang harus ia pimpin pada saat itu. Ilham adalah orang yang super sibuk, tak heran liburnya pun cuma hari minggu, setiap hari kita lebih banyak bertemu via virtual.

Satu jam kemudian aku datang ke acara dan sudah banyak yang berkumpul disana. Kulihat juga dia sudah datang kemudian menyapaku dengan hangat. Namanya Ari, kita dulu sering ngobrol saat masih duduk di bangku sekolah. Dia termasuk laki laki pendiam menurutku, apalagi saat itu pacarnya dan deretan mantannya adalah cewek-cewek yang bisa dikategorikan idaman. Jadi kupikir tidak mungkin orang sepertiku ini juga dilirik olehnya.

Setelah ngobrol panjang dengannya, dia menawarkan untuk mengantarku pulang, langsung ku 'iya' kan karena memang Ilham tidak bisa menjemputku.
"Tapi aku ngga bawa mobil.. cuman motor nih, masih mau kan?" Katanya
Tentu saja bukanlah hal baru bagiku yang setiap paginya menjadi pelanggan setia abang ojol.
"Ishh kaya apaan aja.. eh pake tarif ngga nih nganternya?" Ledekku.
Dia hanya membalas dengan senyuman lebar dan sedikit suara tawa yang membuatku larut sepanjang perjalanan pulang. Memang tak ada yang istimewa, hanya saja sesekali ia menanyakan perihal Ilham dan keseharianku, kuanggap itu cuman sekedar pengisi perjalanan pulang kita, yang malah membuat perjalanan ini semakin membekas.

Sampai di rumah, ia langsung pulang juga tak ingin mampir karena mungkin kelamaan. Pertemuan itu ia akhiri dengan senyumannya yang khas itu, mungkin membuatku sedikit memikirkannya nanti. Sontak aku juga membalasnya dengan senyuman, ya walaupun dengan kaget setengah salting. Selang beberapa menit, muncul notifikasi chat tetapi bukan dari Ilham yang mungkin kutunggu kabarnya, tetapi dari nomor yang tidak dikenal. Kurasa aku penasaran akhirnya aku buka.

"Save ya? Ini Ari, Aku sudah sampai rumah"
"Eehh gak sopan banget, Kok cepet? Waduh, ini pasti ngebut kan?"
"Iya nih, takut ketiduran di jalan. Ngantuk soalnya"
"Haha, yaudah kalo gitu selamat tidur!"
"Kamu juga.."

Singkat obrolan ini membuatku tiba-tiba mengingat ilham, Aku lupa mengabarinya kalau aku sudah di rumah. Kutinggalkan pesan kalau aku sudah pulang, dan Ari mengantarku pulang hari ini, walhasil centang dua belum dibaca, mungkin masih sibuk pikirku. Lalu kutinggal tidur karena disamping kelelahan, besok pagi aku harus kembali bekerja seperti biasanya.

Pagi hari, Ilham membalas chatku yang kukirim semalam...
"Hi sayang, maaf tadi malam ketiduran" Entah sudah berapa kali aku menerima pesan semacam ini, bisa jadi setiap pagi tapi aku masih suka memakluminya
"Iya gapapa, nanti jalan yuk? Aku kangen nih"
"Boleh, nonton mau ngga?" Jawaban seperti ini harusnya seorang cowo menurutku, langsung menentukan kemana kita pergi
"Jelas mau dong, nanti jemput di kantor jam 6 sore ya?"
"Siap tuan putri, see you soon"

Setelah itu, aku bersiap dan berangkat ke kantor seperti biasa dengan memesan ojol, lalu menjalani aktifitas normal. Sampai jam empat sore, Ilham tiba-tiba menelpon untuk meminta kencan hari ini ditunda karena klien nya dari Singapore meminta rapat dadakan, bukan batal katanya hanya ditunda saja. Menghela nafas, tak mungkin juga aku merengek manja dan marah padanya, Aku tau Ilham tipe orang yang ngga suka wanita dewasa berlagak seperti anak kecil. Yasudah pikirku, aku memutuskan langsung pulang saja.

Sebelum pulang, kulihat grup SMA full dengan chat, mungkin ada sampai tiga ratus pesan belum kubaca yang sengaja kumatikan notifikasinya agar tidak menganggu keseharianku. Ketika kubuka dan membacanya, hari ini anak anak ngajak kumpul lagi, tapi aku lagi malas kumpul karena moodku lagi nggaenak sore ini. Jadi hanya sekedar kubaca saja, lalu ku abaikan

Tidak lama setelah itu Ari menelpon..
"Eh ngga ikut?."
"Engga ah males, kamu ikut?."
"Ngga ada kamu nih, ngga asik jadinya."
"Jalan sendiri, mau?."
"Wahh.. boleh dong, sekarang nih?."
"Iya lahh, bisa ngga?."
"Eh tapi katanya lagi males tadi?."
"Iyaaa, maksudku males kalo rame."
"Yaudah, nanti kujemput dirumahmu jam 7 ya?."
"Oke, kutunggu."

Entah apa yang kupikirkan, sehingga bisa bisanya aku menurunkan harga diri dan mengajak Ari jalan berdua. Semenjak telepon kumatikan, seketika sangat kusesali ajakan itu, tapi sudah terlanjur dan dia juga setuju dengan ajakanku, yasudah lah pikirku.

To be continue.....



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar