Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

TAK HARUS MEMILIKI 2


Oleh : Ilman Mahbubillah

Tepat jam 7, Ari datang tepat waktu. Dia memakai sweater putih dan celana jeans abu-abu. Dan yang lebih mengwejutkan adalah dia memakai parfum Bulgari Extream, yaps itu kesukaanku.
"Eh kok kompak? Pake nyamain pake baju putih juga si ah"
"Enak aja, eh tapi mungkin ini jodoh ya?" Dia berkata sambil melepas helm dan senyum padaku
"Gombalan playboy nya keluar nih" kupikir ledekan semacam ini bisa membuatku tidak terlihat salah tingkah
"Mau kemana kita?"
"Ke Cafe aja, aku pengen ngobrol santai"
"Oke, silahkan naik tuan putri"
Lalu aku menaiki motornya dengan tanpa kata karena aku sedang berusaha sangat keras menutupi salah tingkahku yang sudah dilambangkan dengan merahnya pipiku. Ah, sialan pikirku!

Setelah sampai, dan kita berdua berbincang. Aku jadi tahu kehidupannya setelah SMA, dia kuliah di jurusan sejarah yang notabene jurusan yang sangat jarang disukai, bahkan perang tuanya saat itu juga menentangnya. Namun saat ini dia melanjutkan bisnis orang tuanya di bidang furniture, memang benar bidang ini tidak sama dengan passionnya tapi ia takut mengecewakan orang tuanya untuk kedua kali. Jadi, mau tidak mau dia menerima dan menjalaninya. Obrolan santai ini tidak terasa sampai kulihat jam menunjukkan setengah sepuluh, lalu aku mengajaknya pulang karena esok hari aku masih harus bekerja.

Sampai di rumah, kulihat Ilham sudah menunggu di teras rumah. Tumben! Pikirku..
"Tumben, kamu ngga ngabari dulu kalo mau ke rumah?"
"Iya nih, mau ngasih kejutan tadinya tapi kamu lagi pergi. Yaudah kutunggu sini"
"Udah lama?" Tanyaku sungkan sembari mengalihkan pembicaraan agar dia tidak menanyakan aku darimana dan keperluan apa.
"Barusan, masih belum ada 15 menit" Wajahnya sedikit masam, yang kembali menyulut sungkan ku padanya.

"Eh iya, ini kenalin. Ari, temen SMA-ku yang kemaren aku ceritain" Nyaliku benar benar diuji ketika aku mengatakan hal ini padanya.
"Halo mas, Ari" Kulihat Ari juga menyimpan rasa sungkan pada Ilham "O iya, Ilham"

Mereka berjabat tangan, saling sapa, ngobrol sebentar, lalu Ari pamit pulang dan meninggalkan kami berdua di teras rumah. Ilham memberi kotak berisikan cokelat kesukaanku sebagai tanda maaf. Setalah itu mengejutkan, Ilham tidak membahas apapun tentang Ari, di hati kecilku aku ingin sekali dia cemburu. Karena bagiku, cemburunya tanda cinta. Tapi asumsi seperti ini sepertinya tidak berlaku bagi Ilham. Sepertinya rasa sungkanku salah, mungkin sikapnya tadi adalah gambaran dari kondisinya setelah capek seharian bekerja, karena selama ini dia selalu membebaskan aku jalan atau berteman dengan siapa saja asal juga tau batasannya. Mungkin ini adalah cara menebus kekurangannya yang tidak bisa selalu ada untukku selama 24 jam.

Tiga tahun kita bersama, yang berawal dari romantis dan penuh dengan kejutan jelas sesuatu yang menyenangkan bagiku. Lambat laun cuek itu muncul dan semakin menjadi-jadi karena pekerjaannya itu. Sedangkan aku tipe yang suka diromantisin, mungkin tidak perlu sering tapi setidaknya hal sepele seperti ini dibutuhkan untuk merefresh perasaanku padanya. Sering sekali aku membahas hal ini padanya, tapi jawabnya nanti ada saatnya selalu saja seperti itu sampai pada satu titik dimana aku lelah untuk meminta.

Tidak terasa, tiga bulan berlalu. Aku semakin dekat dengan Ari, hal ini juga dikatahui Ilham, dia seperti biasa saja, seperti cuek dan masa bodoh dengan hal ini. Sayangnya, dia tak paham bahwa sosok Ari menggantikan posisinya secara perlahan dan aku selalu meyakinkan diri bahwa antara aku dan Ari adalah sekedar teman. Disisi lain Ilham malah dengan senang hati sering memintanya untuk menjemputku, dan mengajakku berjalan ketika Ilham tak bisa menemaniku. Entah siapa sebenarnya pacarku! Ari atau justru Ilham, sampai terkadang ketika aku membutuhkan sesuatu Ari adalah sosok pertama yang kuhubungi. Tapi jangan salah, untuk perkara hati selalu untuk Ilham, meskipun aku tak tahu aku mampu sampai kapan dan Ilham seperti tidak peduli. Tapi yang aku tau dia selalu menyayangiku, walaupun caranya sedikit membuatku jengkel.

Dengan Ari, nyaman. Dekat dengannya membuatku merasa aman, dia tau kapan memperlakukanku seperti anak kecil atau seperti wanita dewasa pada umumnya. Meskipun dia juga sibuk, tapi bedanya dia selalu menyempatkan waktu untuk sekedar menanyakan kabar dan keadaanku. Sebenarnya aku sangat takut jatuh hati padanya, aku tak ingin mengkhianati kepercayaan Ilham padaku terlebih dia dengan Ari seiring waktu menjadi teman yang akrab. Dan pastinya orang yang paling berdosa adalah aku jika sampai nama Ari juga kusematkan dalam hatiku karena sebab aku tak bisa menjaga hati sehingga membiarkan hati lain masuk. Ah Tuhaann.. membayangkannya saja aku tak kuasa.

Dan hari ini adalah hari bahagia, hari ulang tahunku. Ilham menjanjikan aku makan malam romantis di restoran kota yang terkenal, mengasyikkan! Pikirku kapan lagi Ilham seperti ini padaku. Memang ini yang kumau, tidak perlu kado mahal, atau kejutan seperti kebanyakan pasangan, cukup dia bersikap romantis padaku saja aku sudah melayang tinggi.
"Nanti jam 7 jadi kan?"
"Jadi dong, aku sudah siap-siap ini" Jawabku sangat riang, karena sudah membayangkan yg selama ini kuinginkan
"Eh tapi maaf ya, aku tidak bisa menjemputmu. Ketemuan disana aja bisa kan?"
"Hmm, mesti deh selalu kaya gini"
"Maaf ya sayang, tapi nanti pulangnya kuanter kok"
"Yaudah deh kalo gitu, tapi inget! Jangan telat ya?"
"Oke, kita taruhan ya?"
Aku menghela nafas panjang sedalam mungkin, hampir saja air mataku mengalir. Tapi aku tak boleh bersedih di hari spesialku ini, makan malam romantis sudah didepan mata, tak dijemput layaknya putri raja pun tak mengapa, asalkan dia ada.

To be continue...


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar