Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SUMUR TUA



Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

     Tidak ada yang tahu akan kemana arah langkah diri menapaki peliknya realita dunia fana ini, silih berganti hantaman dan terpaan perlahan datang untuk meruntuhkan segunduk ketabahan yang masih tersisa dalam jiwa kering ini. Berulang kali tangisan pecah merinai untuk meluapkan kekesalan terhadap ibu yang sering ku panggil emak itu. Dua kali Emak menyandang status janda dan dua kali pula dia ditinggalkan suami yang hanya mempermainkan cintanya, namun Emak tidak pernah jera akan luka yang bertubi-tubi menggoresi hatinya. Sebenarnya aku masih tak terima atas pertunangan ketiga Emak dengan pemuda yang masih berusia seumur jagung itu. Semenjak kali pertama aku bertatap mata dengannya, rasa kecurigaanku mulai berkecambah ihwal perawaknya yang hanya ingin memperistri Emak karna hartanya. Entah karna apa Emak begitu mudah menaruh hati pada lelaki berhidung belang yang hanya melukis derita di akhir ceritanya.

     "Sudahlah kak, kita tidak bisa melerai keinginan Emak untuk menikahi Bujang dusun itu". Ujar adik perempuanku menyelinap masuk ke dalam kamar yang mendapatiku terlarut dalam lamunan. Maya dan aku memang sekata untuk melarang Emak menikah untuk kesekian kalinya, tempramen Emak yang keras kepala dan sering bertindak tanpa berfikir imbasnya membuatku dan Maya kehabisan mantra untuk menyadarkannya yang diperdaya bagai orang-orangan sawah oleh pria berhati serigala.

     Dahulu sebelum kecelakaan tunggal di jembatan layang perbatasan dusun terjadi, Emak adalah sosok wanita yang begitu tertutup dan selalu menepis rayuan dari lanangan dusun yang menggodainya. Tapi Tuhan teramat sayang kepada Abak, terbukti laka lintas yang merenggut nyawa Abak dulu terjadi pada malam Jum'at yang kata ustadz tatkala mengaji di surau, "Apabila seseorang meninggal dunia pada malam Jum'at atau hari Jum'at maka mayit tersebut mempunyai kemuliaan di sisi tuhan-Nya". Paparnya sembari bersila membius kami yang tanpa sadar sudah dua jam lebih beliau bercerita ihwal islam dan keistimewaannya.

Berbulan-bulan Emak berkabung di dalam kesedihan atas kepergian suami yang dicintainya, selama itu pula Emak menutup hati dan enggan mencari imam kedua pengganti Abak. Parasnya yang rupawan dan bersifat keibuan membuat banyak lelaki muda maupun tua terpikat kepada dirinya, belum lagi bisnis Emak yang menjamur dan terbilang cukup sukses di setiap tendernya semakin membuka mata para jejaka dan duda untuk mempersuntingnya. Banyak lelaki dari kalangan atas hingga bawah keluar masuk rumah untuk menawarkan diri sebagai pengisi kekosongan hati Emak, namun tak ada satu pun yang berhasil mengambil hatinya. Hingga tiba seorang lelaki yang entah memakai jurus macam apa, ia dengan mudahnya meluluhkan hati Emak yang keras membatu.

 Aku terkejut saat mengetahui Emak menerima dia menjadi suami keduanya, sebab sejak pertama bertatap muka dengannya, aku mengira bahwa dia adalah dukun yang menyimpan aura kemistisan di semburat wajahnya, rasa tak nyaman dengan cepat membelit hatiku. Tak bisa ku bayangkan bagaimana jadinya jika aku berbapak seorang dukun. Tapi dugaanku salah, ia bukanlah dukun yang berwatak jahat seperti di sinema televisi. Dia adalah seorang buruh yang mengaku memiliki banyak tanah dan harta di bawah kekuasaanya. 

Mungkin hal itulah yang membuat Emak membuka hati kepadanya. Tapi ku rasa itu bukanlah alasan yang tepat dari Emak dalam menerima pinangan lelaki paruh baya itu, sebab banyak juga lelaki lain yang menyuguhkan harta untuk membujuk Emak agar menerima lamarannya sebelum dirinya, namun Emak sedikit pun tak terpikat dengan itu semua. Bukan hanya itu keganjilan lelaki berambut gondrong itu berakhir, setiap malam Rabu tiba, saat ia resmi menjadi bapak tiriku, tak jarang aku menjumpainya berjalan menjinjit keluar rumah dengan sesekali mengamati situasi berharap tak seorang pun melihat keberadaanya.

"Abak mau kemana di tengah malam seperti ini ??" Tanyaku yang kebetulan terbangun untuk pergi ke kamar kecil. Geliat Abak bagai cacing kepanasan tatkala mendapatiku yang menyadari kebradaannya.

"Abak akan pergi ke sawah nak". Abak berusaha menjawab dengan tenang meski sedikit terbata-bata, mungkin ia takut jika aku terus mengakarkan pertanyaan. Aku yang saat itu tidak perduli dengan jawaban Abak hanya membiarkannya keluar tanpa menaruh kecurigaan terhadapnya. Lambat laun tingkah aneh Abak tercium oleh warga dusun yang kebetulan bertemu dengannya saat sedang berjalan tengah malam sendirian. Semenjak itu Abak menjadi buah bibir tetangga yang terus menggunjinginya

Ada yang mengatakan bahwa Abak sedang bermain gila dengan gadis muda dusun ini, ada juga yang menyebut Abak mempunyai ajudan-ajudan yang disuruhnya untuk mencuri di dusun ini, dan lain sebagainya. Di sinilah salah satu sifat yang ku kagumi dari Abak keluar, ia tak pernah menggubris cibiran orang yang menghujami dirinya, Abak senantiasa tabah menerimanya, hal itulah yang perlahan menghilangkan kebencianku terhadapnya. Namun semua itu tak berlangsung lama, kebencianku kembali meranum tatkala mengetahui bahwa Abak kabur dari rumah dengan menggondol raib perhiasaan Emak lantas pergi tak tahu rimbanya. Kegetiran Emak yang telah terbang tersapu nafas kehadiran suami keduanya, kini berangsur-angsur kembali menggelayuti hatinya.

                Selang beberapa bulan saja Emak telah menemukan sosok pemuda dusun yang akan menjadi suami ketiganya, sosok inilah yang kini sedang ku khawatirkan akan kembali melukis luka pada akhirnya. Terbukti dengan keanehan Abak keduaku dulu yang gemar keluar malam terlebih saat malam Rabu ternyata kembali terulang pada pemuda kolot yang sudah sekitar seminggu ini resmi menjadi Abak baruku. Aku dan Maya selangkah lebih waspada akan kekejian dan kekerasan yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu, karena sejauh ini Emak benar-benar sudah acuh dengan perkataanku.

                ”Bruakk, Angkat tanganmu !!”. suara pintu terbanting dari lantai dasar rumah, sontak aku dan Maya keluar kamar bergegas menuruni puluhan anak tangga. Aku tertukik lantaran melihat todongan pistol menghadap tepat di kepala Abak, Emak yang hampir bersamaan denganku turun ke bawah terbisu kaku atas peristiwa naif itu. Sejurus kemudian seorang pemuda bertubuh gagah mengenakan seragam seirama dengan pemegang pistol itu masuk ke rumah sembari menyeret sosok pria paruh baya yang terkunci tangannya. Aku tak asing dengan semburat wajanya pun dengan Emak dan Maya.

    "Mereka berdua adalah pengedar sabu-sabu di dusun ini, untuk itu kami harus menyeret mereka ke dalam rutan". Begitulah inti penjelasan dari polisi sebelum berlalu membawa dua bedebah tak berotak itu ke dalam mobil besar degan sirine menggema di atapnya.

    Emak bersimpuh tak berdaya melihat kedok hitam dari suami dan mantan suaminya terkuak. Samsudin suami kedua Emak yang menggondol raib perhiasan Emak lantas menghilang jauh meninggalkan Emak, ternyata digunakannya sebagai modal bisnis legal sabu-sabu yang dijalankannya bersama Rifqi suami Emak ketiga yang baru beberapa purnama membina rumah tangga bersamanya. Mereka berdua bersekongkol untuk memeras Emak yang bergelimangan harta, Rifqi adalah ajudan Samsudin yang disuruhnya untuk hadir di kehidupan Emak untuk terus menguras harta Emak.

Kejanggalan mereka berdua selama ini ihwal keluar rumah pada malam Rabu kini terjawab sudah. Pekatnya malam dimanfaatkan olehnya untuk berjalan gontai pergi ke pesisir ujung dusun menuju sumur tua. Malam Rabu adalah waktu penerimaan setumpuk sabu-sabu dari tangan atasannya yang diusung menggunakan perahu lantas disimpan di dasar sumur kering yang tak mungkin seorang pun menyadari bahwa ada barang haram di dalamnya, terlebih lagi situs sumur tua itu berada di dalam belantara yang jarang didatangi warga. Cerdik nian mantan Abakku itu.

Usai rentetan sengketa tersebut, Emak mengaku jera dan tak akan sudi mempercayai lelaki. Emak memilih sendiri dari pada tersakiti lagi dan lagi.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar