Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SCARRY STORY2


Oleh Hilmi Gholi Hibatullah

Fiq buruan, ngapain lu di situ....! Teriak temanku yang menunggu di depan pintu. Aku diam menikmati pemandang yang indah dan menghiraukan panggilannya. Tampak pepohonan berkilau selepas diguyur hujan semalaman, langit cerah, dan udara segar yang menyejukkan pikiranku. Oii....fiq buruan udah ditunggu anak-anak di rumahnya pak mat Panggil temanku kedua kalinya. Iya,iya bentar napa Jawabku sambil menghampirinya. Aku menutup menutup pintu dan menguncinya, lalu berangkat menuju rumah pak mat bersama ghani, orang yang memangilku sedari tadi.

Sesampainya di rumah pak mat aku langsung menghampiri teman-temanku. Kerja apaan sekarang meng? Tanyaku pada salah satu temanku yang sudah sampai dari tadi. Bersihin rumput sampai perempatan depan fiq Jawab memeng. Oalahh.... yaudah langsung aja kerjain biar cepet selesai Kataku langsung membersihkan rumput-rumput liar yang ada di sepanjang jalan desa poncokusumo. Tempatku dan teman-teman PKL. Sudah dua hari aku tinggal di desa ini. Masyarakatnya ramah dan suasana di desa ini sangat menyenagkan. Tapi beberapa jam lagi suasana menyanangkan ini akan berubah.

Kami membersihkan jalan dari pagi dan pada akhirnya selesai pukul 11:00 siang. Selepas selesai, aku bersama teman-teman beristirahat sejenak sambil berbincang-bincang dan menikmati hidangan yang telah disajikan oleh istri Pak mat. Oh... ya Pak mat adalah kepala desa dari tempat tinggal kami saat ini. Setelah berbincang-bincang beberapa waktu, aku dan teman-teman memutuskan kembali untuk bersiap-siap menunaikan shalat dzuhur.

Selepas shalat dzuhur, aku dan teman-teman membantu mengajar anak-anak TPQ kelas 1-4 SD sampai ashar, dan dilanjutkan lagi selepas ashar untuk anak kelas 5-6 SD. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat jam menunjukan pukul 17:00 sore. Tanda waktu pulang telah tiba. Aku, memeng, dan ghani kembali ke rumah dulu untuk mandi. Sedang teman-temanku yang lain langsung berangkat ke masjid. Aku langsung berlari menuju rumah karena kamar mandi yang ada di dalam rumah hanya satu dan tentunya akan berebut.

Karena berlari dengan kencang aku sampai di rumah terlebih dahulu dari pada kedua temanku tadi. Langsung saja aku mengambil handuk dan mandi. Terdengar suara langkah kaki pertanda kedua temanku telah datang. Fiq... ambilin sabun seru memeng dari luar kamar mandi. Iya bentar meng, emang lu mau mandi di mana? Tanyaku. Gua sama ghani mandi di belakang Jawabnya. Kamar mandi yang dimaksud memeng terletak di belakang rumah. Tepatnya di tengah-tengah kebon milik warga setempat. Langsung saja aku berikan  sabun yang tadi ia minta lewat ventilasi di bagian atas kamar mandi. Gua pergi dulu ya fiq Kata memeng dan ghani bersamaan. Terdengar suara langkah kaki mereka keluar dari rumah.

Brakk.... Terdengar suara benda jatuh dari dapur. Meng....,Ghan....! Seruku dari dalam kamar mandi. Cepet amat mereka mandi Pikirku. Beberapa saat setelah kupanggil tak ada jawaban dari luar. Krieeeet.....Terdengar suara pintu terbuka. Meng..., Ghann...! Panggilku dari dalam kamar mandi untuk kedua kalinya. Tapi tak ada jawaban yang kudapat. Mau ngerjain gua ya Pikirku sambil memakai baju bersegera keluar kamar mandi.Lu jangan ngerjain gua meng Teriaku sambil keluar kamar mandi. Memang temanku satu ini sangat suka ngerjaiin temenya. Aku keluar kamar mandi dan mencari memeng. Setelah mencari di setiap sudut rumah tak kutemukan orang satupun di dalam rumah. Kuputuskan untuk mencari di luar rumah, namun tak ada seorangpun yang kutemukan. Sembunyi di mana ni bocah Pikirku sambil bolak-balik di  sekitar rumah. Brakkk... Terdengar lagi suara benda jatuh dari dalam rumah.Eh...kan gak ada orang di dalam Pikirku mulai sedikit takut. Fiq... lu ngapain berdiri disitu teriak sesorang dari belakangku. Sontak saja aku langsung menoleh ke belakang dan kudapati memeng dan ghani yang baru saja selesai mandi.Gini meng, tadi pas gua mandi denger barang di dapur jatuh gua kirain lu ngerjain gua Kataku pada memeng.Yaelah.... ngapain gua ngerjain lu jam segini Katanya. Aku lihat jam sudah menunjukan pukul 17:30 sore.Yaaa kali aja lu iseng Balasku. Tikus paling itu kata memeng sambil berjalan menuju rumah. Lah emang tikus bisa buka pintu Kataku sedikit kesal dengan jawabanya sambil mengejarnya. Eh.... kok gua di sini Teriakku kaget. Lah kan lu dari tadi di situ muter-muter gak jelas Kata memeng menghentikan langkahnya. Bulu kudukku langsung berdiri, badanku gemetar karena rasa takut yang mulai menghampiri. Lah bukan gitu meng, tadi gua muterin rumah nyari lu, kan gua kira lu ngerjain gua kok bisa gua ditengah kebon gini Kataku sambil mendekati memeng. Beneran lu jangan nakutin gua Kata memeng. Beneran meng sumpah dah Kataku sambil menatap memeng yang termenung di depanku. Anjir berarti setan tadi yang ganggu gua Teriakku. Langsung saja aku berlari bersama memeng. Lah meng mana si ghani? Tanyaku sambil berlari. Udah pergi duluan  dia tadi Jawabnya.

Sesampainya di masjid kami berdua langsung menunaikan ibadah shalat maghrib  berjamaah. Selepas shalat aku makan bersama teman-temanku di warung dekat rumah  tempat tinggal kami. Aku dan memeng menceritakan apa yang tadi ku alami bersama memeng ke teman-temanku. Karena aku bercerita dengan suara yang sedikit keras. Sehingga tak sengaja terdengar oleh si pemilik warung. Disitu memang angker mas, banyak warga yang pernah ngalamin kayak mas-mas Kata pemilik warung ikut nimbrung bersama kami. Pemilik warung bercerita pada kami bahwasanya sekitar 2 bulan yang lalu pemilik tempat tersebut meninggal dunia. Semenjak itu rumah tersebut menjadi angker dan sudah banyak pula warga yang mengalami kejadian seperti kami. Jadi tak heran kalau kami diganggu. Orang yang hanya lewat saja pernah diganggu apalagi yang tinggal di rumah tersebut. Kami berbincang-bincang lama dengan pimilik warung tentang hal tersebut dan tak terasa waktu sudah berlalu dengan cepat.

Benar saja apa yang dikatakan pemilik warung tersebut. Setelah kami kembali ke rumah malam harinya temanku diganggu dengan bunyi-bunyi benda yang ada di dapur. Begitu seterusnya sampai kami selesai PKL di desa tersebut. Kami diganggu bergantian setiap malam, menyebabkan tidur kami tidak nyenyak. Semenjak itu suasana yang kami alami tidak menyenangkan lagi malah menjadi mencekam.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar