Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SCABIES (GUDIK) di PESANTREN, TANDA MERASUKNYA ILMU?


Oleh: Muhammad Anis Fuadi

"Kalau kamu belum kena gudik, berarti kamu belum layak disebut sebagai seorang santri." Perkataan kuno ini masih terus eksis hingga kini di dunia pesantren. Meskipun pesantren hari ini sudah jauh lebih modern, rapih, dan higenis yang otomatis jauh juga dari berbagai penyakit semacam gudik. Pesantren selalu diidentikkan dengan berbagai mitos kuat dan juga ciri khas, dan salah satunya yakni penyakit kulit yang dinamai gudik. Padahal, pada kenyataannya gudik tidak hanya menyerang lingkungan pesantren saja. Gudik bisa saja dialami penghuni kos-kosan, kontrakan, atau bahkan hotel. Begitu pula santri yang telah bertahun-tahun di pondok pesantren, ada saja yang belum pernah sekalipun merasakan gudik. Apakah dia tidak bisa disebut santri? Terlalu sadis rasanya, jika tidak menyebutnya santri hanya karena belum pernah terkena gudik. Dari sini bisa kita asumsikan bahwa gudik bukanlah ciri khas dari pesantren.

Secara ilmiah, gudik berasal dari kutu/penyakit sarcoptes scabiei. Catatan Roncalli (1987), menyebut Celsus, tabib era Romawi kuno merupakan orang pertama kali memopulerkan “scabies” untuk penyakit gudik/kudis. Scabies berasal dari bahasa Latin “scabere” yang berarti “menggaruk”. Sementara Hee (2005) menyebut sarcoptes scabiei berasal dari bahasa Yunani, sarx (daging) dan koptein (menancap/memotong). Dari segi harfiah, skabies artinya gatal pada kulit yang melahirkan aktivitas menggaruk kulit gatal itu. Sedikit penjelasan ini, meyakinkan kita bahwa gudik (scabies) bukanlah penyakit baru yang lahir dari dunia pesantren.

Siap hidup di pesantren berarti harus siap menghadapi kegiatan yang lebih ekstra padatnya. Selain beban tugas untuk kuliah, santri juga berkewajiban mengikuti taklim hingga larut malam, piket, ro'an atau bahkan mengerjakan iqob. Tidak menutup kemungkinan, padatnya kegiatan santri ini menjadikan mereka lupa akan kepentingan dirinya sendiri, seperti mengacuhkan kebersihan diri yang dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti gudik ini. Ditambah lagi, prinsip kuat santri "satu untuk semua" mulai dari makanan, tempat tidur, alat mandi hingga sendal, menambah kemungkinan santri terjangkit wabah scabies.

Namun, bukan berarti pesantren adalah lingkungan kumuh yang mudah disemayami berbagai virus atau penyakit. Pesantren bukan pula tempat orang-orang berkebiasaan jorok ataupun malas menjaga kebersihan. Justru lingkungan pesantren sangatlah menjunjung tinggi nilai kebersihan. Di pesantren, kebersihan adalah tugas bersama. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya piket maupun tradisi ro'an di pesantren manapun. Jadi, sebenarnya darimana scabies itu datang? Berawal dari sinilah muncul spekulasi bahwa gudik adalah soal keberkahan ilmu. Meskipun jarang kita temui ada kyai yang menasihati santrinya untuk menganjurkan santrinya terkena gudik. Jadi, gudik bukan hanya soal kebersihan namun lebih pada penyakit alami. Hanya hamba Allah yang dikehendaki oleh-Nya lah, yang akan terjangkit penyakit ini.

Di sisi lain, penyakit gudik ini dapat mengajarkan kepada kita hikmah yang besar. Dimana seorang santri dituntut untuk menjalani suatu kesengsaraan terlebih dahulu sebelum memetik hasil yang diinginkan yakni ilmu yang bermanfaat. Layaknya seorang petani ketika mereka mencangkul dan tangannya belum ngapal atau keluar benjolan keras, maka dia belum sah dianggap menjadi seorang petani. Begitu juga seorang juru masak ketika ia sedang memasak dan tangannya belum pernah terluka teriris pisau, maka dia belum layak disebut juru masak handal. Maka seorang santri, bisa saja jika ia belum pernah terkena penyakit gudik maka dia belum pantas disebut santri kafah.

Jika hal ini memang benar, maka dapat menjadikan kabar baik bagi seorang santri yang terkena gudik agar tidak selalu bersusah hati. Meskipun susah diterima akal bahwa gudik adalah tanda berkahnya ilmu, bisa saja hal ini akan menjadi sugesti positif bagi para santri yang terkena gudik untuk lebih giat dan optimis dalam memperoleh ilmu yang manfaat. Sebagai penutup, penulis mendoakan bagi para santri terjangkit penyakit scabies (gudik) dimanapun dan kapanpun antum berada, semoga lekas diberikan kesembuhan oleh Allah SWT dan semoga senantiasa mendapatkan ilmu yang barokah baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin.





Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar