Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

REZEKI di TANGAN TUHAN



Oleh: Kholidatun Nur Wahidiyah


Di tepi jalan, saya melihat ada seorang bapak yang sedang menjual cemilan berupa beberapa bungkus kripik ditangannya. Saya menghampirinya untuk membeli 3 bungkus kripik.
Saya bertanya pada bapak itu:  “Berapa harganya pak?“
Sambil menunduk bapak itu menjawab: “Ibu ambil apa saja ?”. Saya spontan mengernyitkan dahi dan batinku berkata: “Kok Bapak nya nanya kaya gitu yah? Padahal saya kan hanya bertanya tentang harga keripiknya, yaa sudah lah”. Setelah dalam kebingungan, saya menjawab pertanyaan yang tadi sempat ditanyakan, saya berkata: “3 keripik, pak”. Bapak itu menjawab: “28.000 bu”.

Kemudian saya sodorkan selembar 100.000. Dan Bapak itu bertanya lagi kepadaku dalam keadaan posisi nunduk: “Berapa uang yang Ibu kasih ini?”. Saya mulai bingung dengan pertanyaannya. Saya pun segera menjawabnya: “100.000 pak”. Lalu bapak itu berdiri meraba-raba kantong celananya sambil mengeluarkan beberapa uang.

Spontan hati ini berkata: “Astaghfirullah, ternyata saya baru paham bahwa Bapak ini ada masalah di matanya dan sepertinya ia tidak bisa melihat (buta). Ya Tuhan, mengapa hamba tidak pandai menjaga hati. Maafkan hamba jika hati ini belum mampu berbaik sangka kepada orang lain Ya Tuhan”.

Bapak itu sedang sibuk membongkar uang yang ingin dikeluarkan dari kantong celananya. Dan ketika ia hampir nyaris mengeluarkan semua yang ada di dalam kantongnya. Saya segera bilang kepadanya: “Bapak, ambil saja uang kembaliannya”. Setelah itu, ia mengucapkan banyak terimakasih dan mendo’akan agar saya selalu diberikan kenudahan serta keluasan rezeki oleh Tuhan.

Lalu secara tiba-tiba saya bertanya pada bapak itu lagi “Pak, seandainya saya memberikan uang hanya 10.000 kemudian saya ambil kembaliannya 50.000 otomatis bapak akan rugi dong?”.
Lagi-lagi jawaban sederhana yang dia ucapkan dari mulutnya: “Tuhan tidak akan salah memberikan alamat  rezeki kepada setiap manusia. Ibu, jika sekarang saya rugi, saya yakin Tuhan pasti sedang menyiapkan rezeki yang lain umtuk saya. Hidup tak hanya sebatas untung dan rugi, tentang sabar dan ikhlas pun jauh lebih penting”.
Ketika mendengar jawaban Bapak itu, air mata pun sedikit demi sedikit berjatuhan karena rasa haru terhadap orang tua yang tak kenal lelah sebagai tulang punggung keluarga meskipun mempunyai kekurangan. Bapak itu bertanya lagi “Sudah ibu ambil kembaliannya?”. Saya menjawab dengan nada pelan “Tidak usah Pak, hari ini Tuhan mengirim rezeki untuk Bapak”. Dan Bapak itu pun tersenyum sembari mengatakan “Terima kasih bu”.
Setelah saya meninggalkan bapak itu, batin ini terus berkata: “Ya Tuhan, ampunilah hamba. Maafkanlah hamba dari setiap kegelisahan dan keraguan hati ini akan rezeki dari-Mu ya Tuhan.

Hari ini saya belajar dari manusia hebat penjual cemilan kripik “bahwa Tuhan itu pasti sudah menyiapkan rezeki bagi setiap manusia dan janganlah khawatir akan hal tersebut, tergantung bagaimana usaha dan do’a yang kita perjuangkan. Terus tanamkan jiwa kebaikan kita dimana pun dan kepada siapa pun”.
Semoga Tuhan senantiasa melindungi kita semua, kapan pun dan dimana pun kita berada…aamiin.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar