Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

POTRET KETELADANAN SEORANG MAK NAP

Oleh: Siti Laila 'Ainur R

Mak Nap, begitulah orang sering memanggilnya. Beliau bernama lengkap mak Napsiyah. Bukan karna apa-apa, atau keistimewaan yang ada pada dirinya. Beliau seorang nenek-nenek renta yang hidup sendirian di rumahnya. Mempunyai 1 keturunan, itu pun sudah ikut suaminya di desa sebelah. Dari anaknya tersebut, beliau mempunyai 2 cucu yang hidupnya sudah tak bergantung lagi kepada orang tua. Sosok Mak Nap sangat disegani dan dihormati dilingkungannya, dari anak-anak hingga sesama orang tua. Oleh karena itu, nama beliau terkenal di daerahnya.
Di usianya yang senja, semangat Mak Nap masih membara layaknya pemuda. Bahkan di usianya yang kini sekitar 60 an keatas, ingatan beliau masih kuat dan tetap nyambung diajak komunikasi segala bidang. Pernah kami (mahasiswa KKM) bertanya kepada beliau tentang riwayat pendidikan  cucunya, beliau pun sempat menjawab kalau cucunya lulusan UNBRAW (Universitas Brawijaya). Walau sebenarnya beliau tinggal sendiri di rumah, biasanya ada orang yang menemaninya ketika malam hari, yaitu mbak Lisa (teman dari cucu beliau). Sehingga beliau tak merasa sendiri di rumah.
Melihat fisiknya yang harus jalan dengan membungkuk, tak menjadi alasan untuk berdiam diri pasrah meratapi keadaan. Beliau masih giat bersih-bersih, dan berdagang di Pasar. Dari pagi buta sekitar pukul 05.00 WIB beliau selalu menargetkan untuk pergi ke pasar. Sedangkan untuk pulangya sekitar pukul 08.30 an. Beliau menjual keripik singkong mentah , sayuran, dan layah. Dengan sabar dan telaten beliau membuat keripik singkong sendiri. Terkadang beliau juga menjual sayuran kalau cucunya mengantarkan sayur ke rumah. Kalau tidak, maka beliau menjual dagangan seadanya. Semua itu tak lain hasilnya bisa untuk menambah kebutuhan sehari-hari Mak Nap di rumah.
Begitulah Mak Nap, bukan tipe orang yang pasrah dan bersantai-santai menikmati masa tuanya, tetapi beliau memanfaatkan kesempatan sehatnya untuk tetap beraktivitas layaknya orang-orang. Berdagang bagi mak Nap sudah menjadi hobi, sehingga beliau menikmati pekerjaannya kini meskipun sebenarnya sudah dilarang oleh anaknya untuk istirahat.
Dari cuplikan gambaran tentang mak Nap, mengajarkan bagi kita generasi muda untuk memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya. Tidak mudah mengeluh apalagi putus asa menjalani lika-liku kehidupan. Seorang Mak Nap saja yang sebenarnya harus banyak istirahat, tetapi beliau masih aktif beraktivitas dan mengikuti pengajian dimana-mana. Apa kabar dengan kita generasi muda? Maukah kita kalah dengan semangat seorang seperti mak Nap, atau bangkit untuk bisa lebih seperti beliau? Jawabannya,, coba tanyakan pada dirimu sendiri



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar