Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PESTA JAMUAN


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

 "Yazid, bangun Zid !! Sebentar lagi pesta akan dimulai". Sergap Raja sembari membanting daun pintu. Wajahku tenggelam penuh di balik selimut, sedang Raja bersikeras terus menariki kakiku. Dengan jiwa yang belum sepenuhnya utuh, aku mencoba membangkitkan tubuhku malas dari pada aku harus menerima pukulan rotan yang menjadi kebiasaan Raja yag acap dilakukan saat membangunkan. Hari ini aku dan kedelapan saudaraku dituntut untuk bangun lebih pagi, sebab tepat pukul tujuh nanti istana akan mengadakan jamuan besar-besaran terhadap sembilan kerajaan yang akan bertandang untuk menghadirinya.

"Sebelum kau mandi, bangunkan saudara-saudaramu terlebih dahulu. Ayah tak mau tahu, tepat pukul tujuh kalian sudah memakai baju kebesaran lantas berkumpul di ruang pertemuan lantai dasar!!" bentaknya tegas sebelum berlalu membuyarkan kantukku. Sepertinya Raja geram sebab diantara kita tak ada satu pun yang mendengarkan perintahnya, hanya aku seorang itu pun karena ranjangku paling dekat dengan pintu sehingga mudah untuk dijangkau olehnya. Sedang yang lain masih pulas terjaga, hanya Soib saja yang merubah posisinya menjadi duduk, namun hal itu tak berlangsung lama ia kembali terbaring. Aku mencoba beranjak untuk membangunkan mereka, tapi nihil, pantas saja Raja geram, ternyata pesta mabuk arak semalam benar-benar mengutuk mereka untuk terus terjaga. Tanpa berfikir panjang, ku ambil segelas air putih lantas ku percikkan ke arah wajah mereka.

"Kurang ajar, apa-apaan kau Kak, tak bisakah kau membangunkan tanpa air?" teriak Ziyad terkejut yang memang ia adalah sasaran pertamaku, hidungnya kembang kempis bersamaan dengan dada yang naik turun menyimpan kekesalan mendalam terhadap perbuatanku. Tak lama berselang, semua terbangun hampir serentak lantaran tak ingin menerima percikan air dariku.
"Sekarang pukul enam lewat limabelas menit, kita masih punya waktu empat puluh lima menit untuk mengenakan baju kebesaran dan pergi ke ruang pertemuan di lantai dasar. Jangan membuat Raja murka lagi, segera beranjak!!" paparku.

Mendengar penjelasanku, sontak mereka bergegas pergi ke kamar mandi. Rupanya mereka nampak jera saat Raja murka, terlebih lagi Ziyad, Baldan, Zuki dan Muchlis yang berulang kali mendapat makian Raja ketika naik pitam. Kala itu Raja benar-benar tersulut emosinya sebab keempat putra mahkotanya berbuat keji dan tak pantas untuk dilakukan oleh keluarga istana. Mereka berempat tertangkap basah memeras dan bertindak kasar kepada rakyat jelata. Usai mendengar laporan dari abdi istana yang kebetulan menyaksikan dengan mata kepala sendiri atas kejadian itu, Raja memanggil mereka berempat ke dalam ruangannya lalu memarahinya habis-habisan. Tak hanya itu, Raja juga menjatuhkan hukuman limabelas kali deraan. Sangat menyedihkan.

"Soib, Kholis! Kalian yakin tak pergi membersihkan diri segera?? Hati-hati, cambuk melayang" ujarku kepada mereka berdua yang masih berbaring di ranjang.
"Yang mulia, anak-anak dimana??"
"Sabar Ratu!! mereka akan segera turun"
Seluruh mata tertuju kepada kami, ruang pertemuan benar-benar telah padat oleh banyak tamu maupun keluarga istana, meja-meja dipenuhi makanan dan buah-buahan, baik lokal maupun imporan, gelas-gelas disusun rapi semakin mempercantik sudut istana, bak perayaan holy di musim panas. Dengan memasang senyum semanis mungkin sepanjang menuruni anak tangga, kami bersembilan berjalan gagah menuju singgahsana di samping Raja, lalu di sampingnya lagi kursi para penasehat, lalu sampingnya lagi kursi para menteri. Usai semua berkumpul, paman Ridho selaku penasehat Raja mengulurkan tangan sebagai tanda dimulainya pesta, namun hal itu ditepis oleh paman Ubaid selaku penasehat pula.

Raja memiliki lima penasehat agung yang mana setiap Raja hendak memutuskan perkara, Raja perlu bermusyawarah terlebih dahulu dengan kelima penasehat cerdiknya. Paman Ridho yang amat jenius dalam bidang astronomi, paman Ubaid di bidang geografi, paman Anjal dalam bidang filsafat, paman Yasin dalam bidang penafsiran dan paman Atho' dalam bidang sosiologi. Mereka adalah orang-orang hebat kebanggaan Raja. Apabila sudah berkumpul dan saling beradu argumen, setengah hari belum tentu cukup untuk menuntaskannya.

"Yang terhormat Tuan Ridho, masih ada dua kerajaan lagi yang belum tiba di istana. Menurut kabar yang saya terima, rombongan mereka sudah berada di perbatasan sungai gangga dekat gerbang kerajaan bagian utara, mungkin sebentar lagi mereka tiba". Tukas paman Ubaid yang membuat Guru Barzah terduduk kembali.

Sembari menunggu kedua kerajaan yang belum tiba, aku akan memperkenalkan terlebih dahulu seluk beluk keluarga kerajaanku. Namaku Yazid, aku adalah putra Burhan tertua diantara delapan saudaraku. Setelahku Ziyad, setelahnya lagi Zaid, kemudian Zuki, Soib, Baldan, Muchlis, Ilham dan yang paling muda Kholis. Ayahku bernama Fika Burhan yang merupakan penguasa kerajaan Ad-du'ali dengan ketiga permaisurinya yakni Ratu Nabila, Ratu Faizah dan Ratu Ayu Diva. Aku, Zuki, Muchlis dan putri Yola terlahir dari Ratu Nabila, sedang Ziyad, Zaid, Soib, Ilham dan Kholis putra dari Ratu Faizah, lalu Baldan, Putri Arfia, Putri Nety Novita dan Putri Lilik beribu Ratu Ayu Dhiva.

Lamunanku pecah lantaran suara terompet kedatangan yang bergema seantero istana. Sepertinya rombongan kerajaan telah melangkah masuk istana. Sejauh ini aku tak tahu kerajaan-kerajaan mana saja yang diundang Raja untuk menghadiri pesta besar ini.
"Para hadirin, tamu undangan maupun keluarga istana yang sangat saya muliakan, berhubung masih ada satu kerajaan lagi yang belum tiba di istana dan tidak memungkinkan untuk menunggu sebab waktu yang semakin menyiang, maka saya perkenankan kepada Guru Barzah untuk memulai pestanya". Ujar Paman Anjal lantas dibalas Raja dengan anggukkan.

Coming soon "Kerajaan yang tertinggal"


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

1 komentar: