Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PEREMPUAN DAN PILIHAN




Oleh: Nur Sholikhah
"Jangan pernah berpikir akhir dari cerita seorang perempuan adalah menikah dengan seorang lelaki, mempunyai anak lalu sibuk dengan urusan rumah tangga saja."

            Perempuan, entah makhluk yang bernama perempuan itu selalu asyik untuk dibahas dan didiskusikan. Perempuan memang unik, Tuhan menciptakan perempuan dengan sifatnya masing-masing. Dengan penuh kelembutan, dengan rasa sabar untuk mendidik anak-anaknya, dengan rasa tulus mencintai keluarganya, dan dengan rasa ikhlas menahan luka dalam hatinya.
            Perempuan, hidupnya banyak dihadapkan dengan pilihan, dengan banyak dilema dan keputusan-keputusan yang memberatkan. Tidak berhenti di situ saja, perempuan juga dihadapkan dengan berbagai batasan-batasan yang membuatnya menunda untuk meraih impian. Bahkan ada yang sampai membiaskan mimpinya demi sebuah keputusan, demi menghindari stigma negatif yang terlanjur diberikan.
Perempuan tidak boleh mengakhiri mimpinya, membunuh cita-citanya hanya karena sudah terikat dengan komitmen yang disebut pernikahan. Justru karena pernikahan itu seharusnya bisa lebih memperkuat dorongan untuk terus berkembang. Perempuan boleh tetap menjadi guru meski statusnya sudah menjadi ibu. Perempuan boleh tetap menjadi pegawai meski sudah mempunyai gelar ibu yang pawai. Perempuan boleh tetap menjadi bidan meski sudah menjadi ibu yang cekatan. Perempuan boleh tetap menjadi pengusaha meski sudah menjadi penjaga bagi anak-anaknya. Intinya perempuan boleh tetap menjadi pekerja kantoran, penggiat bisnis dan aneka macam profesi lainnya meski sudah berumah tangga.
Apa salahnya jika perempuan juga merangkap menjadi pekerja juga ibu rumah tangga? Perempuan juga punya hak untuk mengatur hidupnya sendiri. Tapi sayangnya, masyarakat sudah terlanjur terpesona dengan stigma negatif pada perempuan yang juga mengembangkan karirnya.
Apa salahnya jika perempuan memilih dan menetapkan keputusannya menjadi ibu rumah tangga sekaligus aktivis di masyarakat? Perempuan juga punya kemampuan, kecerdasan. Semua peran sah-sah saja dimainkan asal bisa seimbang dan tidak berantakan.
Apa salahnya jika perempuan merangkap menjadi ibu sekaligus mahasiswa di sebuah kampus tengah kota? Perempuan juga punya hak mengasah otaknya dan berpikir tentang perkembangan ilmu pengetahuan. Tapi sayangnya, masih banyak yang mempertanyakan bagaimana nasib anak-anaknya.
Perempuan, kehadiranmu selalu mengundang banyak tanya.
Mau kuliah apa nikah?
Lanjut kerja apa langsung nikah?
Udah umur segini kok masih tetap lanjut kuliah, apa nggak nikah dulu?
Kalau dia kerja gimana nasib anak-anaknya?
Nggak rugi apa kuliah jauh-jauh cuman jadi ibu rumah tangga?
Dia pulangnya kok malam-malam, apa ya kerjanya?
Apa nggak takut jauh dari keluarga, kamu kan perempuan?
Dan begitulah, masih banyak hal yang dipertanyakan tentang apa-apa yang dilakukan perempuan. Seolah perempuan punya batasan-batasan yang jika dilanggar maka namanya akan dimiringkan. Memang perempuan berbeda dengan kaum Adam, tapi apa itu juga berlaku untuk masalah pendidikan dan hak kehidupan?
Banyak perempuan yang merasa tertekan akibat batasan dan label yang sudah terlanjur ditanamkan. Pada akhirnya mereka merasa terdiskriminasi dan perlahan-lahan mengubur dalam mimpi-mimpi. Mimpi yang ia bangun bertahun-tahun harus kandas sebelum tuntas. Perjuangan seolah-olah tiada arti jika sudah dihadapkan untuk memilih, memilih menuruti hati nurani atau omongan orang kanan kiri.
Perempuan juga tak boleh menyerah karena stigma negatif akibat belum melaksanakan pernikahan. Jangan sampai membunuh angan-angan hanya karena mereka bilang usiamu sudah terlalu sore untuk menjalin hubungan. Perempuan, akhir ceritamu bukan hanya sampai di pelaminan. Kita sama dengan kaum Adam, ketika nafas sudah memburu maut, itulah akhir dari cerita perjalanan kita di dunia yang semakin menyesakkan.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar