Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BODOH? YANG PENTING TA’DZIM KEPADA ABAH YAI

Oleh: M. Hadiyan Ihkam

Diceritakan, ada seorang santri berkulit putih, tinggi, tidak terlalu gemuk. Jika dipandang seperti anak polos, lugu, patuh, dan ta’dzim kepada Abah Yai Pondok. Pertama kali dia datang ke pondok, sowan ke ndalem abah bersama orang tuanya. Selesai sowan, si santri membawa semua barang-barangnya: baju, sarung, songkok, kitab-kitab kuning yang agak sobek karena sering di-muthola’ah dan lain-lain ke kamar pondok yang telah di antarkan oleh pengurus pondok. Suatu ketika Abah Yai butuh seseorang untuk mencari makan kudanya. Sontak si santri baru tadi langsung ke ndalem Abah Yai untuk meminta izin mencarikan makan kuda. Abah yai mengizinkan dan Si Santri dengan sigap dan semangat mencarikan makan kuda di hutan atau kebun yang mempunyai rumput segar bagi kuda.

Sejak saat itu si santri setiap sore setelah sholat Ashar berjamaah, mencari rumput untuk kudanya Abah Yai. Namun yang aneh, Abah Yai tidak pernah menyuruh untuk si santri ngaji kepada beliau. Justru si santri disuruh ini itu, hingga membuat si santri sangat lelah dan pernah telat bangun sholat tahajud.
Le, reneo. Aku butuh kowe” Abah Yai memanggil si santri
Nggeh, bah” Si santri menjawab dengan ta’dzim
Kirimen panganan iki kanggo konco-koncomu
Nggeh, bah
Abah Yai tahu bahwa si santri tersebut bukan seperti santri biasannya. Setiap apa yang beliau suruh, pasti dilakukan dengan baik.

Pernah suatu saat disuruh mengantarkan makanan ke kamarnya. Abah yai bermaksud, makanan itu untuk si santri namun beliau hanya dhawuh kekno panganan iki ndek kamarmu
Betul saja, si santri hanya mengantarkan makanan tersebut ke kamarnya dan meletakkan di sana tanpa dimakan siapapun. Karena menurutnya Abah Yai hanya menyuruh mengantarkan makanan, bukan memakan.
Selama tiga hari berturut-turut, si santri disuruh mengantarkan makanan ke kamarnya.
Piye, le? Panganane enak po ra?” Abah Yai Tanya kepada si santri dengan senyuman di wajah beliau.
Ngapunten, bah. Kulo mboten semerep. Amergi kulo mboten maem” jawab si santri dengan lembut.
Loh piye to, le? Wes tak wenehi panganan kok ora dipangan. Wes iki tak wenei eneh panganen yo kudu entek.” Abah Yai sengaja berkata seperti ini dengan nada agak tinggi seperti orang marah.
Nggeh, bah” Jawab si santri dengan nada agak sedih.

Si santri kembali ke kamarnya. Dan memakan semua makanan yang pernah disuruh Abah Yai untuk mengantarkan makanan ke kamarnya. Semua makanan, termasuk makanan yang sudah basi karena tidak segera dimakan, pun ikut dimakan oleh si santri.
            Piye, le? Kowe mangan sego sing wes mambu po ra?”
            “Nggeh, bah. Sedoyo sampun kulo maem”
Dalam hati Abah Yai, “Bener iki dugaanku. Yo wes arek iki ben dadi mantune koncoku ndek pondok kono
            “Yo wes, le. Iki enek surat kanggo koncoku ndek pondok kono. Kowe kudu namu rono langsung ngekekne surat iki
            “Nggeh bah
            “gowonen jaranku kae”
            “Nggeh, bah”
Si santri butuh waktu 10 hari untuk sampai kepada pondok yang dimaksud Abah Yai.
Si santri langsung sowan ke seorang kyai.
“Niki yai, kulo diutus Abah Yai marengaken surat niki kagem panjenengan” ucap si santri dengan ke-ta’dziman-nya.
Kyai tersebut membuka surat dan langsung membaca. Isi surat tersebut adalah Abah Yai menyuruh kyai tersebut untuk menjadikan si santri sebagai menantunya. Sontak kyai tersebut bingung, apa maksudya.
Kyai lalu bertanya kepada si santri dari mana asalnya, siapa dia sebenarnya, dan lain-lain.
Dalam surat tersebut tertulis, Abah Yai menyuruh nikahnya tanggal 1 Februari namun ketika si santri sowan ke kyai pada saat itu tanggal 10 Februari.
“Le, kowe nyapo kok telat ngewehne surat iki?” Tanya kyai
“Ngapunten, kyai. Kulo mlampah mboten nitih jaran”
“Loh nyapo kowe ogak numpak jaran. Kowe nggowo jaran lho kae?” Tanya Kyai dengan heran
Nggeh, kyai. Leres. Abah yai ngutus kulo mbeto jaran mboten nitih jaran
           
Jawaban dari si santri langsung membuat hati Kyai setuju jika dinikahkan dengan putrinya.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

1 komentar: