Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MIMPIKU ATAU MIMPIMU

MIMPIKU ATAU MIMPIMU

Oleh: Roychan

            Di kesunyian ini, aku banyak hal. Memikirkan apa yang baru saja menimpaku. Aku berpikir apakah akan merenungi menjumpai senja di kemudian hari. Sementara di sampingku, adikku terduduk sambil terisak. Aku berusaha menghentikan tangisnya dengan menghiburnya.
            “Adik, sudahlah. Inilah takdir kita.”
            “Takdir? Setelah semua yang terjadi pada kita kakak masih mengucapkan ini takdir?”
            “Sabar Adek, tenanglah! Masih ada kakak disini.” Ujarku
            “Tapi tidak ada Ayah dan Ibu!” balasnya gak mau kalah.
            “Kamu masih terlalu kecil untuk memahami. Sabar! Kita harus terima bahwa inilah jalan kita. Tenanglah! Kakak akan menjadi pengganti mereka. Percayalah!”.
***
Ketika telah libur akhir tahun, kami sekeluarga merencanakan liburan. Kami sekeluarga harmonis. Ayah selalu membuat waktu kami di rumah serasa menyenangkan. Saat makan malam, Ayah selalu dapat mengambil topik yang menyenangkan. Membuat meja makan terasa hangat.
Liburan itu, Ayah mengajak ke puncak. Memang beberapa minggu terakhir, sebelum liburan aku selalu penasaran dengan liburan muncak. Maklum, sebelum itu aku di nilai belum cukup dewasa.
“Gusti!  panggil Adikmu! Ayah punya surprise untuk kalian.” Seru Ayahku suatu saat.
“Andi!Andi!.”teriakku sambil lari-larian.
“Ada apa, Kak?”sahutnya
“Ayo ikut aku. Kamu dipanggil Ayah.”
Pada malam itu hatiku gembira mendapat surprise liburan muncak. Padahal itu adalah awal dari kisah tragis ini.
***
            Inilah aku sekarang. Menjadi anak yatim piatu bersama adikku. Kami beruntung masih mendapat warisan sebuah rumah setelah kecelakaan yang menewaskan kedua orangtua kami saat liburan muncak. Beruntung aku dan adikku selamat.
            Pagi itu kami harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Semenjak kejadian itu, kami harus putus sekolah. Saat itu aku duduk di kelas V, sedangkan adikku kelas III. Aku termasuk anak yang cerdas. Namun tidak dengan adikku. Apalah arti kecerdasan kalau tidak merasakan bangku sekolahan. Sudah dua tahun ini berjalan, aku tak sekolah.
            Hidup kami memang memprihatinkan. Meskipun begini, aku tidak lantas berhenti berdoa agar mendapat hidup yang lebih baik dan dapat mengejar mimpiku, yaitu sekolah. Aku selalu menuliskan dalam kertas. Adikku juga melakukan hal yang sama.
            “Wahai Tuhan yang maha pengasih, walaupun hamba hidup seperti ini, tapi setidaknya hamba ingin meraih mimpi hamba. Ya Tuhan..Aku ingin kembali sekolah.” Doaku dalam kertas yang sama. Tidak pernah berubah isinya. Di belakangku adikku melakukan hal yang sama. Tapi aku tidak pernah tahu apa isi dari kertas doanya.
***
            Sambil mendengarkan pelajaran matematika, aku melamun tidak fokus mendengarkan pelajaran. Itu karena adikku yang selama enam bulan terakhir tidak memberikan kabar. Aku khawatir terjadi sesuatu denganya.
            Di sinilah aku di salah satu sekolah menengah pertama favorit di singapura. Pagi itu, ketika aku menjual hasil memulung bersama adikku, ada seseorang bapak-bapak berhati malaikat datang menghampiri kami.
            “Dek, namanya siapa?”
            “Bapak mau ngapain?”
            “Tenang Dek, Bapak orang baik-baik. Bapak hanya menawarkan agar adek sekolah. Masalah biaya gak usah dipikir. Gimana?Mau gak?” ujar bapak-bapak menyakinkan.
            “Ya, saya Gusti. Beneran pak?” jawabku histerius memastikan apa yang aku dengar.
            “Iya Gusti, bapak serius.” Jawabnya menyakinkan.
            Sudah kubilang inilah takdirku. Takdir anak yang cerdas. Pasti ini berkat kertas doa selama ini.
***
            Setelah enam bulan tidak ada kabar dari adikku, pada liburan semester aku memutuskan untuk pulang. Ketika melewati kampungku dulu yang kumuh, aku sempat nostalgia. Yang aku dapatkan dalam pandanganku tetap sama dengan dulu, yaitu banyak sampah berserakan.
            Sampailah aku dirumah yang dulu aku tinggal disana bersama adikku. Tapi ada yang aneh. Rumah ini tidak terawat, seperti telah ditinggalkan oleh pemiliknya. Tiba-tiba salah seorang tetangga mendekat dan mengabarkan berita yang tak kusangka-sangka.
            “Gusti! Adikmu Andi, sudah meninggal.”
            “Apa?! Kenapa sampai dapat?!” aku masih belum percaya.
            “Sebenarnya enam bulan terakhir, Andi sakit keras. Saat ditemukan, dia dalam posisi bersujud sambil memegang kertas ini.” Jelasnya sambil menyodorkan kertas.

            Aku tahu ini adalah kertas doa adikku selama ini. Setelah aku buka, aku tidak dapat membendung isak tangisku lagi, karena disitu tertulis “Ya Tuhan, aku mohon kabulkanlah doa-doa kakakku.”















































Pondok Pesantren Darun Nun Malang




Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar