Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MAKIN TINGGI KARIR DAN PENDIDIKAN WANITA, MAKIN SULIT JODOHNYA. MASAK SIH ?



Oleh : Siti Khoirun Niswah
 
            Dalam sebuah renungan anak muda, mungkin perkara ini ada yang sudah merasakan, ada yang belum merasakan, bahkan mungkin ada yang tidak merasakan. Beberapa hari yang lalu sempat berbincang dengan teman-teman mahasiswi di kampus yang latar belakang mereka berasal dari desa. Di pedesaan, wanita mungkin menikah pada usia 20-21 tahun. Ketika ada seorang wanita berusia 25 belum menikah, sudah dikatakan perawan tua. Kami pun berasal dari desa, yang notabennya masyarakat selalu mengatakan bahwa wanita yang berkarir dan berpendidikan tinggi akan susah menemukan jodoh. Sebab lelaki pasti merasa minder hendak melamar karena merasa wanita sudah berpendidikan tinggi, bagaimana cara mengatur yang sudah berkarir dan berpendidikan tinggi, mereka sudah menghasilkan nafkah sendiri, mereka bisa menyelesaiakan perkara sendiri.
Wahai para wanita muda, wanita yang berkarir dan berpendidikan tinggi itu bagus. Tidak ada masalah untuk mencapai target tinggi sesuai yang kita impikan. Mengapa demikian? Karena wanita kelak akan menjadi seorang ibu. Dimana seorang ibu adalah sosok pertama dalam pendidikan anak sebelum seorang ayah, benar bukan? Faktanya semua itu benar. Seorang ayah memiliki kewajiaban untuk menafkahi keluarga, sedangkan setelah melahirkan seorang anak, ibulah yang lebih dekat dengan anak. Menurut pendapat para psikolog yang pernah dipaparkan ketika mengikuti seminar perenting, kecerdasan seorang anak turun dari seorang ibu.  Sementara karakter dan kepribadian seorang anak turun dari seorang ayah. Disini peran ibu untuk mendidik anak mencapai kecerdasan sangat besar, dari sini bisa disimpulkan bahwa seorang ibu harus cerdas, harus berpendidikan.
Wanita ingin mencapai tujuan dan cita-cita yang tinggi merupakan hak diri seorang wanita. Wanita berhak memperoleh hasil dari yang mereka usahakan, wanita juga berhak untuk berkarir. Namun yang menjadi kendala ialah keinginan yang “terlalu” atau berlebihan.  Sesuatu yang berlebihan hasilnya tidak baik bukan?  Sebagai wanita memang memiliki hak dan kewajiban. Kewajiban kita ketika menjadi seorang anak adalah patuh terhadap orang tua, ketika sudah berkeluarga, maka kewajiban adalah kepada suami. Masih single belum ada kewajiban kepada keluarga memang harus menggali ilmu dan pendidikan setinggi mungkin. Jadi semisal kita berkarir, berpendidikan tinggi S1, S2, S3 atau bahkan profesor sekalipun boleh. Namun jangan sampai berlebihan, berkarir/bekerja pagi hingga malam, kuliah banyak tugas sampai-sampai meninggalkan kegiatan-kegiatan yang seharusnya penting untuk dikerjakan.
 Ketahuilah yang bisa mengatur diri kita, adalah kita sendiri. Sebenarnya hal yang kita lakukan adalah wujud kita berkompetisi pada usia dan diri sendiri. Kita sebagai wanita harus punya planning dan target. Kapan kita harus lulus kuliah, dan usia berapa kita ingin menikah. Ketika seorang wanita sudah punya planning, maka akan berusaha dengan sungguh-sungguh. Misalnya Ketika masih belum lulus kuliah, maka belajar dengan sungguh-sungguh, meraih prestasi-prestasi, namun tetap berteguh pendirian terhadap tujuan-tujuan yang sudah di targetkan. Ketika sudah menjadi target usia sekian untuk menikah, berarti kita harus berusaha belajar menjadi yang pantas. Artinya wanita akan melakukan sesuai dengan apa yang diharapkan. Yaaah, mengikuti seminar pra nikah, mengikuti seminar parenting, sowan ke ustadz-ustadz dan melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi orang lain.
Pernah tidak, kita merasakan ketika pulang ke desa sudah tidak punya teman untuk jalan-jalan? Bahkan banyak yang mengatakan “eh, kamu kok belum menikah nunggu apa?” atau “kuliah tinggi-tinggi ujung-ujungnya juga di dapur”.  Wahai para wanita, sabar dan santai saja. Istilah-istilah seperti itu sudah tidak asing lagi ditelinga. Kalau seseorang belum menikah, ya berarti masih belum ada kesiapan dan masih berjuang dibidang yang lain. Ya jelas beda lah orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu.  Hehe..
 Orang lain tidak akan pernah tau apa yang terpenting dalam diri kita. Jadi, ketika kita sudah memprioritaskan untuk melangkan ke jalan A, B atau C maka lakukan dan perjuangkan dengan sungguh-sugguh. Namun ingat, jangan berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan tidak akan baik hasilnya. Sekarang hilangkan perasaan apabila berkarir dan berpendidikan tinggi akan sulit menemukan jodoh. Mungkin dari setiap wanita masih ada yang diprioritaska, dan orang lain tidak akan tahu tentang hal itu. Hanya Allah Maha mengetahui setiap keingian manusia.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar