Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

LEBIH BAIK TERLIHAT BODOH LIMA MENIT DARIPADA TIDAK MENGERTI LIMA TAHUN


 Oleh: Siti Laila 'Ainur Rohma

Judul ini terinspirasi ketika ikut salah satu seminar bedah buku (Diseminasi Program 5000 Buku Kemenag RI) oleh pembedah yaitu Dr. Rosidin, M.Pd.I (Dosen STAIMA al-Hikam). Pada kesempatan kali ini, beliau membedah bukunya yang berjudul “TAFSIR HADIS DAN HIKMAH PENDIDIKAN”. Setelah pemaparan panjang dari pembedah, maka dilanjutkan penjelasan oleh pembanding yakni Mohammad Rohmanan, Lc., M.Th.I. (Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang). Menurut saya, ini adalah kesempatan emas yang bisa dimanfaatkan di hari libur kuliah. Sehingga bisa menjadi wadah untuk tholabul ‘ilmi selain di bangku kuliah dan diniyah.
Apa yang ada dalam fikiran kita ketika mendengar kalimat diatas? kalau ada yang menjawab itu maksudnya “bertanya”, berarti jawaban anda tepat sasaran. Kalimat ini diucapkan oleh pembedah buku karena menjawab salah satu pertanyaan dari audience. Dan pertanyaan ini menarik untuk dibahas, mengingat hal ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pastinya banyak kita jumpai segala macam pertanyaan, mulai dari yang kecil seperti,”Siapa yang di kamar mandi?” sampai pertanyaan skala yang serius, misal,” Apa bedanya Tuhan (Allah swt) maha Esa dengan buku ini 1?”. Semua pertanyaan itu bisa dijawab kalau tahu dan faham maksud yang diinginkan. Sehingga, nanti akan dapat jawaban yang sesuai serta memahamkan. Tetapi perlu diingat, kalau pun menjawab tidak juga sembarangan. Disinilah perlu adanya bekal ilmu yang cukup sebelum menjawab sebuah pertanyaan.
Bertanya dalam bahasa Arab yaitu سَأَلَ. Mengutip pernyataan dari beliau Dr.Rosidin bahwa kata سَأَلَ itu ada dalam Al-Qur’an sebanyak 128 kali di 117 ayat. Dari sini, beliau menyimpulkan bahwa:
1.    Pertanyaan itu penting, dan untuk bisa menyalurkan pertanyaan tersebut perlu adanya “bertanya”. Meskipun, pertanyaan itu bisa melalui tulisan. Tetapi untuk konteks ini adalah pertanyaan yang diajukan secara lisan dengan bertanya.
2.    Metode Tasa’ul (saling bertanya). Disini ada kegiatan interaktif baik oleh seorang pembicara dan audience untuk saling bertukar fikiran.
Kalau menjawab pertanyaan tidak boleh sembarangan, begitupun dengan bertanya. Tidak semua hal harus ditanyakan, karena sebenarnya ada etika dalam bertanya. Dalam salah satu pendapat mengatakan, etika bertanya itu seperti: 1) Kalau bertanya tidak berlebih. dan 2) yang ditanyakan tentang hal-hal yang penting. Sehingga penanya juga harus mempertimbangkan hal-hal yang mau ditanyakan.
Perlu kita sadari bersama, bahwa Tanya itu adalah simbol keingintahuan. Bagi seorang pelajar, tanya itu diperlukan. Apalagi dalam pembelajaran ada yang kurang faham, sehingga perlu bertanya. Tapi tidak semua orang menyadarinya. Mungkin pernah kita mendengar kalau mau tanya tapi gengsi, malu, dsb. Belum lagi kalau ada yang berfikiran, kalau tanya itu hanya untuk ngetes dan masih banyak lagi. Masalah niat, itu hanya pribadi dan Allah swt yang tahu. Jadi, jangan mudah menghakimi seseorang hanya dengan melihat covernya. Seandainya dia tidak bertanya, mungkin kita tidak akan tahu ilmu. Karena, dengan adanya orang bertanya terkadang sudah mewakili hal-hal yang mungkin kita ingin tanyakan dan kita akan sama-sama beruntung bisa mendapatkan ilmu dari penjelasan yang diberikan sebab pertanyaan itu.
Dari ulasan diatas kita bisa mengambil pelajaran bahwa, bertanya itu hal yang penting, tetapi juga harus memperhatikan tentang apa yang mau ditanyakan. Dan untuk menjawab pertanyaan itu juga butuh bekal ilmu dan pemahaman yang cukup, agar jawabannya tidak menyesatkan. Kata pepatah, “Malu bertanya, sesat di jalan”. Jadi, jangan malu bertanya, untuk pengetahuan semakin luas dan mendalam.

 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar