Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

سعيد باالسعادة السّلام وشقيّ باالشقاء السّلام (K.H. MOEHAIMIN TAMAM)


Oleh : Daiyatul Choirot

            ABAH… itulah sapaan akrab dari santri-santri , beliau adalah seorang pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren ASSALAM Bangilan Tuban Jawa Timur. K.H. Moehaimin Tamam, itulah nama beliau, seorang kyai alumni pondok pesanttren GONTOR. Beliau memiliki semangat yang berkobar sejak masih belia, sejak kecil, beliau sudah rajin belajar dan gigih dalam menuntut ilmu. Setelah lulus dari sekolah dasar melanjutkan pendidikan menengah di Tuban selama tiga tahun. Setelah itu, beliau merasa belum mendapatkan bekal ilmu yang memadai, maka kemudian beliau melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren Darussalam Gontor. Beliau belajar dan dididik langsung oleh Trimurti pendiri Gontor selama 6 tahun. Waktu di pondok, beliau hampir tidak pernah pulang saat liburan. Beliau lebih suka tinggal di pondok dan menghabiskan waktu untuk belajar. Itulah gambaran betapa luar biasa semangat beliau dalam menuntut ilmu.
            Beliau tidak pernah setengah-setengah dalam mempelajari disiplin ilmu apapun. Semboyan yang selalu beliau amalkan yaitu : “qolilun amiiqun khoirun min katsirin dhohlin”. Sedikit tapi matang itu lebih baik daripada banyak tapi setengah-setengah. Setelah tamat berguru di Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Abah mendapat mandat dari Hadrotus Syaikh Imam Sahal dan Imam Zarkasyi untuk mengabdikan ilmunya selama satu tahun. Berkat kegigihan dan semangat beliau yang luar biasa saat nyantri, Abah luar biasa lihai dalam mendidik murid-muridnya selama masa pengabdiannya. “besok, kalau Moehaimin terjun di masyarakat, sempatkanlah waktumu untuk mengajar walaupun satu jam dalam satu minggu !” demikian pesan guru kepada Abah.
            Pada tahun 60-an Abah pernah bersumpah di hadapan santri-santrinya, yang kurang lebih bunyinya seperti ini, “ Ya Allah, jika hidupku tidak bisa memberi manfaat bagi masyarakat, maka segeralah cabut nyawaku Ya Allah, dan jika hidupku ini bermanfaat bagi masyarakt, maka panjangkanlah umurku Ya Allah”. Ternyata beliau lebih memilih mati daripada hidupnya tidak manfaat bagi masyarakat. Awalnya Abah tidak pernah menyangka dapat mendirikan Pondok Pesantren, karna pada saat lulus dari Gontor, cita-cita Abah hanya hidup sederhana dan tinggal di gubuk saja, tapi takdir berkata lain, Allah mentakdirkan Abah menjadi pendiri serta pengasuh Pondok Pesantren ASSALAM yang santrinya datang dari seluruh penjuru Nusantara. Dawuhnya beliau “ ASSALAM itu berdiri diatas landasan dan linangan air mata Moehaimin Tamam”. Tapi memang benar, mendirikan Pesantren tidaklah hal mudah bagi Abah, harus bisa menahan cacian dan hinaan dari masyarakat yang iri akan usaha beliau tersebut.
            Saat Abah nyantri di Gontor, Abah pernah sakit Selama 40 hari, dan teman-teman Abah merasa iba, karna keadaan beliau yang kian hari kian memprihatinkan, akhirnya Abah dibujuk teman-temannya untuk pulang, tapi abah tetap bersikeras dan bertekad “ saya ingin mati dalam keadaan menuntut ilmu” itulah tekad Abah, beliau adalah sosok yang gigih dalam mempertahankan pendiriannya, dan begitu istiqomah dalam menuntut ilmu, dalam keadaan sakit parah pun tidak mau pulang. Tidak sampai itu saja, pernah suatu ketika saat Abah lagi semangat mengajar, beliau pingsan di depan santri-santrinya. Setelah dibawa ke Rumah Sakit, ternyata Abah di vonis terkena penyakit ginjal yang harus segera di operasi untuk diambil salah satu ginjalnya yang rusak. Tidak berhenti sampai disitu saja, Abahpun tidak peduli dengan penyakitnya, Abah terus saja mengajar dengan satu ginjalnya. Karna beliau berpedoman “ ihrisuu ‘alal mauti lakumul hayaah” bertekadlah untuk mati maka kamu akan diberi hidup. Memang sangat luar biasa semangat Abahku ini.
            Banyak nasihat-nasihat beliau yang diberikan kepada kami ketika menggembleng :
1. Sa’idun bissa’adati ASSALAM wa syaqiyun bisyaqoi ASSALAM
2. Berjasalah tapi jangan minta jasa
3. Don’t be harry to admit that you’re ASSALAM’S student before you’re be reading lovers
4. Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja.
5. Al faroghu mafsadatun
            Dan masih banyak lagi nasihat-nasihat yang lain.
            Menjelang kepergian Abah, sama sekali tidak terdapat tanda-tanda atau pesan-pesan terakhir. Pada siang hari, Abah bahkan masih sempat bercanda dengan putra beliau (Gus Yunan) dan berkata “ aku kangen karo awakmu”. Sekitar pukul tiga pagi, pada hari kamis, 24 Desember 2015, Abah telah berpulang menghadap ke hadirat Allah SWT. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Disaat kami para santri melaksanakan liburan pondok.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar