Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

JANGAN SOMBONG DAN SOK SUCI !!




Oleh: Muhammad Naufal Hanafiah


Dalam dinamika kehidupan,kita ketahui terdapat berbagai macam golongan orang, ada golongan pintar dan kurang pintar,golongan kaya dan miskin,golongan maksiat dan agamis,dll, Dan itu memang sudah kehendak Allah. Memang di dunia itu pasti ada baik ada buruk, ada ahli maksiat dan ahli ibadah dan dalam kehidupan ini,antar golongan-golongan tadi sering terjadi sikap mencaci, menghina dan merendahkan bahkan memustahilkan lawan golongannnya. Yang pintar meremehkan dan mengunggulkan diri mereka daripada yang kurang pintar, yang agamis sering merendahkan dan mengunggulkan diri mereka daripada yang ahli maksiat.
Dalam kenyataan bermasyarakat sajalah, sering terjadi ada  warga yang miskin dan selalu jadi bahan untuk diremehkan oleh tetangganya ataupun temannya, selalu direndahkan dan bahkan tidak ditetanggai. Tak ada yang tahu utaran roda kehidupan ini, ternyata setelah sekian tahun kedepan, anak-anak mereka ada yang jadi pengusaha sukses dan memiliki cabang usaha dimana-dimana dan anak-anak yang lain sekolah di sekolah ternama dan menjadi lulusan terbaik dan menjadi orang besar, mengangkat keluarga mereka melampauin tetangga mereka yang selalu menghina dan meremehkan mereka. Ketika kita melihat ada seorang mabuk-mabukkan di pinggir jalan, preman, atau pengguna narkoba pasti terkadang kita berpikiran “astaghfirullah,ni anak kok nggak takut dosa ya, apa nggak tau agama sih”, pikiran itu wajar, namun pada akhirnya timbul sikap meremehkan mereka bahkan membenci mereka, bahkan yang parah terkadang kita “memusathilkan” mereka untuk menjadi lebih baik, seakan mereka itu nggak mungkin tobat, tobat juga ngapain wong dosanya saja sudah banyak sekali, begitu kan?. Dan kita sering miris atau istighfar melihat mereka, tapi tidak mengajak atau minimal mendoakan mereka supaya bisa tobat, tapi justru menjelekkan dan seakan membenci dan memustahilkan mereka, kasaranya kita jadi sok suci dibanding mereka, Gus Baha’ pernah dawuh yang intinya itu kita tidak bisa langsung menyalahkan dan menghina ahlu maksiat sebelum kita tahu seberapa peran dakwah dan ajakan kebaikan sampai kepada mereka, siapa tahu memang mereka belum terlalu mendapat pengetahuan dan dakwah Islam atau bahkan belum sama sekali.
Pernah di sebuah Masjid, ada seorang anak punk ingin sholat tapi justru diusir tidak boleh sholat, juga sering dalam sebuah jama’ah sholat, pengajian dan sholawat ketika dihadiri orang bertato dan bertindik, terkadang orang-orang langsung memandang aneh bahkan sinis dan seperti gimana gitu,seperti “wah ngapain nih anak,nyasar? Nggak inget apa dia udah ngapain aja?,iya yah sok-sokan tobat paling entar balik lagi”,bahkan begitu saking parahnya,tidak didukung dan bersyukur karena mau bertobat, malah digitukan dan merasa lebih suci dibanding mereka padahal bisa jadi orang-orang kriminal ataupun ahli maksiat ketika mereka tobat, ibadahnya bahkan salehnya bisa mengalahkan kita. Ada teman saya itu pengguna narkoba dan setelah lama direhabilitasi, dia sekarang selalu sholat di masjid, bahkan sering hadir ke majelis-majelis sholawat, yahh meskipun dia pikirannya juga sudah rada sakit, karena memang dia sudah lama mengkonsumsi narkoba, tapi sekarang sembahyangnya rajin sekali. Temen saya banyak yang dulu tukang mabuk dan setelah tobat MasyaAllah rajin sholat berjamaah, sering hadir ke majelis-majelis sholawat. Saya pernah dengar cerita dari Kyai Ali Shodiqin, pendiri Majelis Mafia Sholawat yang mana majelis beliau sering dihadiri anak-anak nakal, preman dan tukang mabuk. Beliau bercerita ada salah satu jama’ahnya sowan ke ndalem beliau dan dia bercerita begini “ Bah, kulo niki preman pasar bah, senengane nggeh mendem lan ngantemi wong, tapi kulo tertarik nderek majelis e njenengan lan kulo sering hadir teng majelise panjenengan. Pertama kulo mboten niat nopo-nopo namung iseng, tapi setelah beberapa kali nderek kulo rasane ayem lan trenyuh,dan akhirnya kulo mulai ngirangi mendem kulo lan niat nderek majelise njenengan lan sering kulo niku nangis saben tumut majelis e njenengan. Pernah suatu malam kulo niku mimpi kulo niku di antara tiyang-tiyang dan dumadakan wonten sing mbengok “Rosulullah hadirr..rosulullah hadir”, kulo pengen sanget kepanggeh Rosulullah, nanging mergi saking katahe wong kulo mboten saget, kulo nangis bah, lah dumadakan tiyang-tiyang niku podo mbukak jalan, lan wonten tiyang niku sing bercahaya sanget lan tiyang niku ngampiri kulo lan nepuk kulo, lan tiyang-tiyang podo mbengok nek niku Rosulullah, lah nopo niku Rosulullah Bah”. Yang artinya, “Abah, saya ini reman pasar Bah, suka mabuk lan melempari orang, tapi saya tertarik mengikuti majelis Abah dan saya sering hadir di majelis Abah. Pertama saya tidak unya niat apa-apa, hanya iseng saja, tapi setelah beberapa kali mengikutik majelis Abah, hati saya menjadi nyaman dan tentram, dan akhirnya saya mulai mengurangi mabuk dan saya niat ikut majelis Abah dan sering saya menangis  setiap kali ikut majelis Abah. Pernah suatu malam saya bermimpi saya berada di antara orang-orang  dan tiba-tiba ada yang berseru “Rosulullah hadir..Rosulullah hadir”, saya ingin sekali bertemu Rasulullah, tapi karena banyaknya orang saya tidak bisa, saya menangis Bah, dan tiba-tiba orang-orang membuka jalan da nada orang itu bercahaya terang dan seseorang itu menghampiri saya dan menepuk saya, dan orang-orang saling berteriak bahwa orang itu adalah Rasulullah Bah.”. Lalu Kyai Ali njawab “Demi Allah itu Rosulullah”,dan ujar beliau orang itu sekarang rajinnn sekali ibadah dan hadir di majelis majelis ta’lim.
Nah, oleh karena itu kita jangan mudah menghina dan merendahkan orang lain,siapa tahu kedepan mereka akan lebih sukses,sholeh dan alim daripada kita. Kita yang Alhamdulillah sering beribadah ikhlaskan niat lillah dan jangan memandang rendah orang lain dan menganggap kita lebih sholeh,suci,dan mulia dibandingkan mereka,cukup bersyukur dan ikhlas kita bisa dalam kondisi tau,bisa,dan sering beribadah serta mencoba untuk berdakwah dan mendoakan mereka-mereka yang terjerumus dalam maksiat dan mendukung serta membantu mereka yang ingin bertobat dan juga sering membantu orang-orang yang kekurangan. Saya ingat pepatah Jawa, “lamun siro sakti ojo mateni,lamun siro banter ojo mbanteri,lamun siro pinter ojo minteri”.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar