Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ILMU BAROKAH ATAU ILMU BERMANFAAT?


Oleh :NengSumiyati



Ustadz Masykur namanya, salah satu tokoh masyarakat yang memberikan wejangan handalnya di akhir pertemuan saya sebagai mahasiswa yang sedang KKM di tempat yang mana beliau mengabdi dan belajar, yaitu di desa Kasembon, kecamatan Bululawang. Beliau merupakan salah satu pengajar sekaligus pemilik TPQ Al-Mubarak. Setelah acara ramah tamah selesai, lalu tibalah waktu di mana beliau akan memberikan beberapa nasihat saat itu.
Dalam mengawali nasihatnya, tiba-tiba beliau bertanya kepada saya serta rekan-rekan yang lainnya, beliau bilang “kalian tahu tidak, perbedaan antara ilmu barokah dan ilmu bermanfaat? Sontak saja kami semua menunduk, sambil sesekali menerka jawaban yang pas untuk pertanyaan yang beliau sampaikan. Karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam maka beliau akhirnya mengakhiri pertanyaan yang tidak bisa kami jawab tersebut.
Beliau bilang “ilmu bermanfaat yoo ilmu sing di gawedewe, atau dalam bahasa Indonesia bermakna ilmu yang bermanfaat untuk diri sendiri. Setelah itu lanjut beliau menambahkan penjelasan tentang ilmu barokah. Beliau bilang “ilmu barokah itu ilmu sing iso ditularno nang wong lio atau dalam bahasa Indonesia bermakna ilmu yang bisa ditularkan kepada orang lain, atau lebih simpelnya ilmu yang bermanfaat untuk orang lain.
Nasihat atau wejangan yang beliau sampaikan sangat mengena dan ternyata membekas dalam relung saya, hal tersebut juga menjadikan diri saya seperti mengulang minggu-minggu pertama di desa Kasembon. Karena di minggu pertama dan kedua saya bersama teman-teman lainnya, mempunyai program penghijauan sungai di desa Kasembon. Namun pada saat merencanakan program tersebut saya sendiri merasa tidak percaya, dan muncul beribu pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiransaya. Apakah bisa saya membantu pamong air desa untuk membersihkan sungai? Saya bukan ahlinya dan saya perempuan? ”.Bukan hanya pertanyaan-pertanyaan itu saja yang membuat saya tidak tenang, namun juga timbul rasa takut karena lokasi sungai yang terletak di hutan serta hal-hal lain yang memang sebenarnya sangat tidak penting untuk saya pikirkan. Cukup unik memang kegalauan saya saat itu, namun ternyata setelah terjun langsung ke medannya, itu sangat menyenangkan dan tidak menakutkan sama sekali.
Saat kami bertemu dengan bapa-bapa serta salah seorang ibu yang memang sangat gemar membersihkan sungai, apalagi di saat musim hujan tiba. Karena ternyata persoalan sungai yang menimpa desa yang saya tempati adalah bukan sungai dengan tumpukan sampah yang menggunung, namun melainkan endapan lumpur yang berundak-undak, sehingga menutupi jalan celah air untuk mengalir sederas mungkin, sehingga inilah yang menyebabkan sawah-sawah mengalami kekeringan.
Lalu salah satu bapak menghampiri kami dan bertanya “Mahasiswi mana toh nduk? Jurusan apa? Gak cape tah?,lalu saya memperkenalkan diri serta menjawab pertanyaan yang beliau lontarkan tersebut, sebelum beliau berbalik kebagian sungai yang lain, tiba-tiba beliau tersenyum dan berkata “ gak apa-apa nduk, terjun ke sungai memang bukan termasuk matakuliah di jurusanmu, tapi ada di jurusan kemanusiaan, toh ini juga sebagai ciri mahasiswa yang ndak belajar teori aja “Setelah bapa tersebut melontarkan perkataannya kepada saya, rasanya senang sekaligus terharu, bahkan rasa haru tersebut ditambah lagi dengan lontaran perkataan dari bapa-bapa yang lain, mereka bilang“ barokah nduk ilmunya“. Semakin menambah semangat, ya walaupun setelah itu aksi hewan bernama Pacet ternyata bergentayangan di tepi sungai, senang sekaligus menyeramkan, mungkin itulah jawaban dari kegalauan kita sebagai mahasiswa. Semoga dan semoga kita selalu diberikan kesehatan pikiran dan kejernihan nurani agar tak salah tujuan.
Sekian catatan KKM dan kegiatan bersih sungai di desa Kasembon, antara nasihat ustadz Masykur dan kesan bersih-bersih sungai bersama.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar