Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

HIDUP INI LUCU PAK, BU

Oleh: Nur Sholikhah

Aku kagum pada ibu. Seorang perempuan tangguh yang membesarkan anak-anaknya, mengabdi pada seorang lelaki selama hidupnya dan yang sering mengorbankan mimpi-mimpinya. Tuhan menciptakan seorang perempuan dengan sempurna, dengan hati nurani yang lembut dan air mata yang bercahaya.
Aku juga kagum pada bapak. Seorang lelaki tegas yang bekerja keras demi mulianya seorang perempuan dan buah hatinya. Pundaknya yang tegar diciptakan dengan sempurna untuk menanggung beban dan tanggung jawab yang besar. Ia yang mengayomi, memberi rasa aman pada keluarga, dan menyimpan air matanya.
Aku kagum pada ibu, aroma kopi yang ia aduk setiap pagi menjadi rutinitas yang selamanya akan kuingat. Dan karena itulah aku suka kopi, ibu yang memberiku kesempatan untuk menyecap rasa dan mencium aromanya sedari dini. Sering orang bertanya mengapa aku bisa menyukai kopi hitam yang jarang perempuan senangi. Bahkan aku baik-baik saja meski meminumnya sebelum sarapan pagi. Aku menjawab bahwa itu karena ibu. Ibu yang membuatku akrab dengan kopi.
Aku juga kagum pada bapak. Tawa renyahnya yang dulu hadir setiap hari membuatku menjadi perempuan yang sering tertawa sendiri saat kuingat godaanmu pada ibu. Lelucon yang kaubuat mengingatkanku bahwa hidup tidak perlu dijalani dengan terlalu serius, bercanda adalah salah satu cara untuk membuat bahagia tercipta dengan sederhana. Karena seringnya aku bercanda di rumah, kau sempat memarahiku dengan berkata, "Ojo guyon ae!" dengan nada agak meninggi. Dan ibu akan ikut menimpali, "Mboh, arek kok guyon ae. Gak ngrungokno daratan!".
Oh baiklah. Sejak saat itu aku mengurangi intensitas bercandaku. Tapi aku akan tetap melakukannya saat di luar rumah dengan orang-orang yang memang ingin kuajak bercanda dan menertawakan hidup kita bersama. Pak, Bu, jika kau bertanya mengapa aku melakukannya, akan kujawab dengan sejujurnya.
Hidup manusia modern itu sekarang lucu, Pak. Orang-orang zaman sekarang itu aneh, Bu. Dan inilah alasan mengapa aku menertawakan hidup ini. Orang-orang bermimpi punya kerajaan sendiri, punya kekuasaan wilayah sampai luar negeri. Mereka menobatkan dirinya menjadi raja atau ratu yang mempunyai banyak pengabdi. Padahal sejatinya mereka hanya seorang hamba biasa yang sedang tidur pulas dalam angannya sendiri.
Tidak hanya itu, orang-orang berlomba mencari perhatian agar dikenal masyarakat luas. Mereka mencari simpati, membangun citra di atas rebasan air mata orang-orang di sekitarnya. Ada juga yang ingin menjadi pemimpin negeri, mengejar tahta yang punya potensi besar untuk memberhanguskan diri. Pak, Bu, bukankah itu hal yang lucu?
Tapi saat aku menertawakan mereka, aku pun sadar diri, Pak. Aku juga meraba diriku sendiri, Bu. Aku tak bisa melakukan apa-apa untuk negeri yang sering membuatku gelisah ini. Aku prihatin melihat banyak peristiwa yang sangsi, ironi. Dan aku tidak bisa melawan karena terbatasnya ilmu pengetahuan.
Pada akhirnya, aku tertawa untuk diriku sendiri. Pada keberanian yang gagal kubangun, pada ketakutan yang masih menuntun. Dewasa semakin membuatku terpenjara dalam gelisah, melawan atau bungkam. Bertahan atau menentang. Patuh atau bersikukuh. Idealis atau realistis. Tapi tenang, Pak, Bu, aku tak akan pernah gelisah karena kekagumanku padamu.
Caramu menjalani hidup bisa tetap kutiru, meski kehidupan kini sudah tak sama lagi. Hidup kini lebih rumit, kejahatan bisa kapan saja menjegal, fitnah bisa di mana saja menyebar, kebencian bisa seenaknya saja mencekal. Hari-hari harus dijalani dengan hati-hati dan mawas diri. Tak lupa untuk mengaduk kopi di pagi hari dan tertawa di sela-sela celah kehidupan yang semakin memuja kelam ini.





Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar