Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BULLYING BUKAN HAL BIASA dalam DUNIA PENDIDIKAN


Oleh: Muhammad Anis Fuadi

Dunia pendidikan di Indonesia seringkali menjadi sorotan karena berbagai masalah yang muncul setiap tahunnya. Akhir-akhir ini mulai dikenal masalah yang tidak bisa dianggap remeh dunia pendidikan di Indonesia yakni perundungan atau yang lebih masyhur disebut bullying. Menurut sumber wikipedia, bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik.

Sebenarnya, bullying bukanlah masalah baru bagi dunia pendidikan di Indonesia. Sejak dulu, bullying sudah dikenal namun dengan istilah lain seperti perundungan, intimidasi dan sebagainya. Dapat diketahui dari berbagai tindakan mulai dari diejek atau dipermalukan di khalayak ramai, dipanggil dengan sebutan yang tidak pantas ataupun dengan nama orangtua, sampai tindakan fisik berupa pelorotan celana hingga kekerasan fisik.

Masalah baru yang muncul adalah banyaknya pihak-pihak yang menganggap bullying adalah tindakan yang sudah biasa dilakukan. Mereka menanggap bahwa sebenarnya terdapat perilaku bullying yang terjadi karena keinginan untuk bercanda. Dengan melakukan bullying yang mereka harapkan adalah lebih menambah keakraban antar sesama teman. Hal ini tentu bertentangan dengan tata krama orang berteman yang harus mengutamakan keselamatan teman. Dengan perilaku bullying, besar kemungkinan keselamatan teman terancam.

Lebih berbahaya lagi, bullying bisa saja berefek jangka panjang yang menhantui korbannya selama hidup. Selain proses penyembuhannya lama, bila tidak segera diatasi, korban bullying bisa mengalami penyakit jiwa (gila) atau lebih fatal lagi menyebabkan kematian. Banyak dari mereka mengalami gejolak batin, lalu menarik diri dari keramaian. Karena tidak mampu mengatasi, mereka lebih memilih bunuh diri. Naudzubillahi min dzalik.

Selain menyerang psikis, perundungan (bullying) mampu menurunkan akademi anak. Karena otak terlalu banyak berpikir keras akibat perundungan atau anak tidak mau ke sekolah karena ketakutan. Korban perundungan juga dapat melakukan tindakan kejahatan, seperti mencoba obat-obatan terlarang, meminum alkohol, atau melakukan kekerasan sebagai tindakan balas dendam.

Faktor internal dan faktor eksternal seorang anak sangat berpengaruh besar dalam masalah ini. Psikis seorang anak yang sudah beranggapan bahwa dirinya adalah anak yang paling hebat di sekitarnya sangatlah berbahaya dalam kasus bullying ini. Dia akan berpikir, jika terdapat teman atau orang lain yang terlihat lebih unggul darinya, maka dia tidak akan terima dan berakibat tindak bullying pada pesaingnya tersebut. Selain itu, kondisi anak yang sudah merasa hebat ini akan sulit menerima perbedaan pendapat dari orang lain sehingga dalam hidupnya akan mengalami kesulitan berinteraksi yang berakibat pada rendahnya kesadaran bersosial. 

Selain internal, faktor eksternal tak kalah penting dalam masalah ini. Lingkungan sekitar anak yang selalu mengajarkan kekerasan dapat mendorong anak untuk meniru kekerasan tersebut. Contoh sederhana dari hal ini yakni seperti tontonan anak baik di televisi maupun gadget (youtube) yang sulit untuk dijaga dan difilter. Baik televisi maupun gadget mampu menghadirkan berbagai tontonan menarik yang terkadang hilang dari nilai-nilai kemanusiaan. Maka peran kasih sayang pengasuh baik orangtua, guru ataupun masyarakat sekitar sangat dibutuhkan dalam mengawasi kegiatan yang dilakukan oleh anak.




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar