Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

AKHIRNYA....!!

 Oleh: Ahmad Zahrowi Danial Abu Barzah






“Uhuk.. uhhuk..” Terdengar batuk memekik leherku. Pagi itu entah angin apa yang membuatku batuk. Kemaren saja baik-baik saja tak ada apa-apa. Sinar matahari telah menyinari teras rumah pondok bersamaan dentuman knalpot anak-anak yang berangkat pagi ini. Aku pun demikian. Rabu yang sangat indah bagiku karena jari kakiku yang jumat lalu membengkak telah membaik tapi kenapa hari ini kok batuk. Iya itu yang Aku sesali di sisi lain. Persiapanku sudah siap dan beranjak memopa engkel motor yang agak alot  sementara yang lain masih sibuk menunggu antrian di kamar mandi.
Suasana kampus terasa lengang, belum banyak mahasiswa yang lalu lalang sepagi ini dan tak menyurutkan kegembiraanku atas kesembuhan kakiku. Setelah sekian menit berlalu, kelas masih belum masuk juga, mungkin hari ini dosen berhalangan hadir perkuliahan pagi ini. Teman sekelas udah tidak sabaran, inginnya keluar saja lebih baik menuju belakang kampus untuk mengisi perut yang tadi tidak sempat makan daripada menunggu dosen datang sampai jam habis. Sedangkan Aku, yah lebih baik sih memang sarapan ketimbang nanti telat makan bisa sakit. Kita putuskan untuk meninggalkan kelas dan berbarengan menuju warung belakang kampus kebiasaan para cowo sekelas pada rimbun makan bareng. 
Sejauh kupandang dari gerbang belakang kampus, warung belakang penjual soto tumben agak sepi, disamping itu kenyataan ini masih pukul tujuh pagi dimana seharusnya waktu para mahasiswa masuk jam kuliah. Tidak lama setelah sarapan bersama telah selesai, Aku segera melangkahkan kakiku ke parkiran, tidak ingat hari ini berniat melanjutkan setoran tashih yang masih sampai setengah bagian Alquran. Kutancapkan gas lalu melesat menuju pondok seperti kehilangan kendali jarak jauh. Sesampai di pondok baru saja semenit tubuhku terasa lemas tak ada tenaga untuk melangkah lebih jauh lagi. Kenapa Aku tiba-tiba seperti ini. Batinku menggerutu tidak terima menerima ini semua. Namun bisa apa lagi, ini yang kuterima hari ini. 
Sekelebat Aku masih ingat pagi ini masih fresh dan ceria, tapi dikagetkan dengan keadaan yang mendadak dan batuk biasa malah lebih berat, sepertinya Aku mulai merasakan bahwa Aku akan sakit hari ini. Mulailah Aku percaya, mungkin Aku butuh sedikit istirahat untuk menghilangkan rasa lemas ini disamping itu juga Aku ragu untuk tidur karena nanti masih ada jam kuliah sekitar jam sepuluh. Bimbang mana yang harus lebih diprioritaskan istirahat atau menunggu jam kuliah. Berujunglah lebih ke istirahat dulu, kemungkinan nanti juga akan sembuh sendiri.
Yang benar saja, anggapanku tadi di luar dugaan. Malah ditambah kepalaku serasa ditusuk-tusuk, sakit rasanya. Kupinta izin lewat temanku yang kala itu akan berangkat ke kampus. Sakit ini berlanjut dua hari setelahnya. Setiap malam selalu saja Aku bangun, terbatuk-batuk dahak, gatal, berat, membuat kepala juga itu terasa berdenyut ketika batuk dan dalam satu malam sering juga batuk hampir muntah. Serasa disiksa tanpa henti. Dalam sakitku Aku rasa ini adalah ujian bagiku, tidak tahu Aku salah apa ataupun sebaliknya. Di hari Jumat, tepatnya setelah Sholat Jumat, kuusahakan untuk bisa pulang, agar dirawat di Rumah. Sebelum itu, Aku sudah bilang pada Ibuku kalau Aku sakit dan ingin pulang, karena Aku tidak mau ada yang sakit lagi selain Aku. Terlebih lagi Aku bilang tidak bisa pulang membawa motor karena leherku tak dapat kutolehkan, kaku. Kupaksakan setelah Juma’tan untuk bisa berkendara sekitar dua kilometer dari sini. Bismliiah, Aku berangkat. 
Alhamdulillah, sudah sampai di perkampungan, letaknya di daerah Polehan. Namun seperti ada yang berbeda, ternyata di pertigaan yang biasa kulewati jika pulang sudah terpasang ciamik lampu merah. Senang sekali rasanya, tidak ada lagi saling berebutan untuk duluan. Di Rumah, Aku hanya disuruh istirahat saja dibarengi dengan minum jamu pecut kuda. Sekarang di Rumah akan kedatangan tamu dari Jember dan Jakarta. Iya, Eyang akan datang hari ini. Karena besok Sabtu ada perkumpulan keluarga besar di Wagir, sekaligus merayakan acara pernikahan saudara di sana. Tidak dengan Aku yang hanya bisa terbaring di kasur kamar, menatap langit gelap taka da cahaya dan ditemani selimut yang kubuat bantal. Ah, mengapa sakit ini datang di saat yang tidak tepat sekali, gumam batinku. Di sisi lain, juga bersyukur karena diberi sakit seperti ini. Aku tidak mengerti kenapa bersyukur juga lantas atas apa.
Dua hari itu, week day. Aku sendirian di Rumah. Semua keluarga pergi termasuk Bapak dan Ibuku menghadiri reuni keluarga. Aku terduduk menatap kosong ruang depan, selama kutatap hanya makan yang tertumpuk bermacam–macam di meja. Mau kuhabiskan tapi mungkinkah. Jajan di meja pun sejenis kerupuk yang tidak boleh kumakan karena Aku batuk. Ingin rasanya sembuh seperti orang sehat lainnya.bisa memakan apa saja yang ia mau, tidak menghiraukan seberapa banyak makanan itu. Sedih rasanya sakit, di saat sakit sehat seperti keinginan tertinggi, di saat sehat malah tidak merasakan nikmat yang diberikan. Itulah manusia, yang tidak merasa dirinya itu sendiri sudah diberi nikmat berlimpah namun manusia sendiri tidak sadar akan betapa besar nikmat tersebut. Andai kata aku bisa jadi nikmat tersebut, aku akan mondar-mandir ke satu tubuh ke tubuh lain agar mereka dapat merasakan betapa nikmat nya rahmat dari Tuhan.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar