Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

ADA APA DENGAN IPK TINGGI?



Oleh Fitriatul wilianti

Apa pendapat mu tentang  IPK tinggi? Atau bagaimana pendapatmu tentang  temanmu yang rata-rata IPKnya cumloude (IPK 3.51 ke atas)? Mungkin  itu sesuatu yang luar biasa bagi sebagian dari kita, karena mendapatkan IPK tinggi merupakan suatu kebanggaan atau prestasi, serta akan menjadi sebuah senyuman tersendiri  bagi orang tua. Karena tidak jarang setiap kita melamar kerja akan ditentukan IPK minimum atau IPK di atas rata-rata, misalnya persyaratan penerimaan suatu pekerjaan  yaitu dengan IPK di atas 3,00 atau 2,75. Akan tetapi menurut pendapat sebagian orang IPK bukan lah segala hal dalam dunia perkuliahan, karena banyak pekerjaan yang sama sekali tidak melihat dari IPK, serta banyak juga orang-orang yang menjelaskan bahwa IPK bukanlah penentu kesuksesan seseorang, karena tidak sedikit mahasiswa yang IPKnya rendah tetapi dalam suatu pekerjaan atau kehidupan dia berhasil.

Jadi kualitas atau kemampuan seseorang bukan hanya berdasarkan IPK, dan  ada banyak orang yang walaupun IPKnya tinggi tapi soft skill serta keahlian dalam prakteknya kurang, karena terkadang banyak mahasiswa yang hanya terfokus pada IPK saja, sehingga  mereka mengabaikan aktifitas lain seperti dunia  organisasi atau bahkan lingkungan sekitar (sosial) hanya untuk mengejar IPK tinggi, bahkan ada yang mampu melakukan segala cara untuk meraih IPK tinggi. Yang walaupun tidak bisa kita pungkiri bahwa IPK tinggi terkadang bisa membuat seseorang berhasil dalam segala hal, misalnya IPK tinggi dapat mempermudah seseorang untuk mendapatkan beasiswa dan dengan IPK tinggi juga seseorang yang melanjutkan ke jenjang lebih tinggi akan dipermudah, serta tanpa IPK tinggi dapat memperlambat kita untuk lulus dengan cepat.

Jadi dengan beberapa pendapat berikut dapat menjadi alasan bagi seseorang untuk tidak mengabaikan IPK, akan tetapi bukan juga menjadi alasan untuk kita hanya terpaku kepada IPK karena itu bukan hal yang baik, apalagi sampai stress dan mengabaikan sekitar hanya untuk IPK, yang terpenting bagi kita adalah seberapa luas pengetahuan kita selama kuliah serta seberapa banyak pengalaman yang kita dapat selama duduk di bangku perkuliahan.

Sekarang kita hanya perlu me-manage waktu serta kegiatan kita dengan baik sehingga kita dapat menyeimbangkan antara bagaimana perjuangan belajar dalam meraih IPK tinggi dan bagaimana cara  agar memperoleh banyak pengetahuan serta pengalaman dalam intelektual serta kemampuan dalam soft skill. Yang walaupun  kadang orang yang ber-IPK tinggi sudah pasti memiliki soft skill serta praktek ilmu pengetahuan yang luas akan tetapi kita juga perlu mengembangkan hal lain untuk melengkapi itu.kita bisa menjadikan IPK sebagai tolak ukur dan capaian untuk terus semangat belajar dan menambah wawasan serta pengetahuan.

Sebagai contoh untuk memperkuat beberapa pendapat di atas, misalnya di dunia perkuliahan, kita ingin mengikuti sebuah seleksi beasiswa mahasiswa unggulan, kemudian saat di seleksi ada beberapa mahasiswa yang IPKnya cumloude dan nilai yang ia peroleh itu rata A B,  A B, kemudian ada mahasiswa lain yang IPK tidak mencapai cumloude hanya mencapai perolehan IPK minimum akan tetapi dia juga mempunyai sebuah karya berupa essay atau jurnal yang telah di terbitkan oleh media-media nasional serta ia mempunyai skill yang bagus dalam public speaking. Dari kedua jenis mahasiswa tersebut tentu saja yang akan dipilih oleh pihak penyeleksi adalah mahasiswa yang IPKnya hanya mencapai batas rata-rata tapi mempunya soft skill bagus di bidang lain, dibandingkan dengan mahasiswa yang IPKnya rata-rata cumloude tapi tidak mempunyai karya ataupun soft skill yang bagus.

Contoh lain juga, misalnya dalam melamar pekerjaan di sebuah perusahaan atau instansi lain seseorang akan lebih tertarik kepada pelamar yang mempunyai banyak pengalaman kerja seperti orang-orang yang aktif berorganisasi dalam dunia kampus di bandingkan dengan mahasiswa yang memiliki IPK tinggi tetapi pengalaman kerja kurang. Dari dua contoh di atas dapat disimpulkan bahwa IPK tidak  selamanya dapat menentukan sukses atau tidaknya seseorang akan tetapi bagaimana kemampuan serta pengalaman dari orang itulah yang akan menentukan.

Selamat belajar, semoga kita tetap semangat menjalani segala aktifitas kampus.




Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar