Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

IBU MENJADIKAN KU BISU


  
                                                    oleh; Siti Fathimatuz Zahro'

     Nama ku Radika. Saat ini aku sedang menempuh pendidikan di taman kanak-kanak. Tanpa ku jelaskan, pastinya semua sudah tahu kira-kira berapa usia ku. Aku masih belum mengenal tugas di rumah. Semua aku selesaikan di sekolah. Bahkan ibu guru berkata, bahwa tugas anak-anak diusia ku hanyalah bermain dan tugas orang tua mencari uang untuk memenuhi kebutuhan ku. Enak bukan?
     Aku berangkat sekolah jam berapa pun, tidak akan memengaruhi apa pun juga. Tidak ada batas minimal atau maksimal, yang penting aku datang. Ayah tidak marah pun Ibu tidak menuntut. Semua ku lakukan sesuka ku. Datang terlambat dan aku tetap pulang ketika teman-teman ku yang berangkat lebih awal pulang. Ketika aku salim kepada ibi guru, beliau hanya pesan 'besok bangun lebih pagi ya Dik. Biar nggak terlambat'. Semua ku iya-kan dan bisa jadi besok berulang kembali.
     Ibu ku pekerja. Berangkat jam 7 dan kembali ke rumah pukul 4 sore. Bahkan ketika aku bangun tidur, seringkali sudah tak ku jumpai ibu di dapur. Bagaimana dengan ayah? Ayah ku lebih mengalah sedikit. Beliau berangkat setelah mengantar ku ke sekolah. Jika aku tak kunjung selesai, aku dititipkan ke tetangga untuk diantar bersama anaknya ke sekolah. Rupiah demi rupiah dikumpulkan keduanya untuk memenuhi kebutuhan 'bermain' ku. Layaknya raja saja aku di rumah. Ibu memiliki jam penuh di rumah hanya waktu aku masih kecil. Ketika aku memang masih harus dalam masa dekapannya.
     Aku berbeda dengan teman-teman ku. Setiap pulang sekolah mereka bermain di kubangan lumpur atau pasir. Membuat lubang yang mereka ibaratkan sebuah terowongan. Mengaduk cairan coklat didalam gelas bekas yang diumpamakan segelas kopi. Belum lagi dedaunan hijau dan mereka berperan selayaknya koki handal. Bagaimana dengan aku? Aku selalu bersih. Kuku jari ku tak pernah menghitam. Semua yang mereka lakukan diluaran sana, semua sudah tersedia didalam rumah ku. Aku tinggal ganti baju, makan, dan bermain hingga jam berapa pun. Ayah dan Ibu tidak akan marah.
     Kata tetangga, ketika usia 1 tahunan aku termasuk anak yang tidak pernah rewel. Suara pecah tangis jarang sekali terdengar. Justru yang terdengar adalah suara televisi yang tidak pernah berhenti. Televisi itu berhenti bersuara hanya ketika aku tidur. Jangan ditanya berapa tagihan listriknya. Asalkan aku tidak rewel semua aman. Ayah dan ibu akan tentram. Toh aku juga anak tunggal. Semua memang hanya untuk ku. Bisa dihitung berapa banyak jam yang aku gunakan untuk menonton televisi dengan diam. Melihat gambar warna-warni yang bergerak dan mendengar suara lirih yang memang hanya disetel minimal. Ibu takut suara itu membuat aku bising dan mengganggu kediaman ku.
     Hingga kini aku merasa berbeda dengan teman-teman. Teman-teman saling memanggil temannya dengan namanya. Sekali pun terdengar salah-salah. Lalu memanggil ayah dan ibunya dengan jelas, mengucapkan selamat pagi kepada ibu guru di sekolah dengan pas, dan saling memamerkan mainan baru yang baru dibelikan orang tuanya. Bagaimana dengan aku? Ibu guru di sekolah aku panggil dengan kata 'aaaaak', memanggil teman saja aku tak mampu meskipun aku tau namanya, atau sekedar mengatakan bahwa aku lapar itu sulit sekali. Jika lapar aku akan menarik baju ibu dan mengajaknya ke dapur.


*Kisah nyata dari hasil wawancara dengan guru PAUD disalah satu sekolah Kabupaten Malang 



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar