Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SEMENIT SEBELUM PURNAMAKU TERHENTI


Oleh : Thibbiatul Mirza Amalya
           
            Segenggam koin masih tergenggam erat dalam dekap tangan. Saat aku mencoba membuat tantangan pada diriku. Kutemui si mungil lucu dengan baju lusuhnya disebelah trotoar. Tampak memegang sebatang coklat dengan erat. Pandangannya kosong. Tak diperdulikannya bunyi klakson dan rame knalpot yang begitu bising. Pandangan akan dunianya sendiri tampak lebih menggoda. Angannya menaiki pesawat terbang sebagaimana teman sebayanya sebatas impian.
            Sorot mata tajamnya seolah beranalogi. “Aku suka orang menyakitiku dari kejauhan. Mereka mengabaikanku dengan sengaja. Bagi mereka aku hanyalah benalu yang rumpang. Tak lebih sebuah titik hitam yang tak memiliki peran. Jeda tangisan dalam kebahagiaan setiap orang. Bertemankan terik matahari dan angin malam. Apa hakku untuk memiliki kebahagiaan hidup. Gelisah tak seharusnya ku lakukan. Ingin bicara tapi tak ku ketahui apapun. Bagaimana kata dirangkai hingga bisa mewakili rasa yang ku alami”. Bibirnya membisu hingga di akhir malam.
            Topi tak berwarnanya terjatuh tepat dikaki ku. Tangannya lebih dahulu mendarat dibanding tanganku. Senyum yang tak kulihat sebelumnya terulum manja dari bibir manisnya. Menyihir duniaku perlahan. Menarik paksa hati ku kedalam dunia sederhananya. Ada kalanya hati yang saling berbicara. Berbicara apa yang tak seharusnya. Ia tampak bergegas sehingga mengakhiri perjumpaan kami di sore hari itu. Hingga tak sempat kuberikan segenggam koin yang sedari tadi ku genggam.
            Otakku terus berputar memikirkan coklat yang ia genggam. Raut wajah ceria yang ia paksakan demi mendapat perhatian. Akankah sesuap nasi telah ia berikan pada perutnya. Minimal segelas air sebagai penghargaan untuk lambungnya. Teriakan seorang teman membuyarkan lamunanku dan melupakan apa yang baru saja terjadi. Ku langkahkan kaki kesebuah kedai dipinggir jalan. Begitu ramai dan berdesak-desakkan membuat pengunjung sedikit tidak nyaman. Akhirnya ku putuskan untuk berpindah ke kedai samping. Meski sepi tak dikunjungi namun kenyamanan yang ditawarkan begitu menggiurkan.
            Sesaat sebelum ku teguk segelas coklat panas, bunyi dentuman begitu keras dijalan depan terdengar begitu mengagetkan. Memaksa badanku untuk bergerak melihatnya. Penampakan yang membuatku terbelalak sekaligus menganga mengagung. Sekelibat rasa bersalah begitu menghantui. Menjerit parah dalam lubuk hati. Kenapa tak kuberikan segenggam koin yang seharusnya ia miliki. Bukan mengenai jumlah yang diberi, tapi bagaimana kesadaran setiap pribadi untuk saling peduli. Hatiku makin menjerit tak karuan. Andai semua orang bersikap seperti ku, apa yang sesungguhnya akan terjadi.
             



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar