Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

NAUNGAN



Oleh: Dyah Ayu Fitriana

Wanita itu berjalan, menerobos rintik hujan yang menyakitkan. Tak pernah disangkanya gerimis bisa semenyiksa itu. Kaki itu terhuyung, melewati sebuah jalan panjang menurun dengan pepohonan yang rimbun di kiri kanan. Ia ingin bertanya, tapi tak menemukan sesiapa. Segala yang ada di hadapannya seakan memang dihamparkan untuk menyempurnakan rongga hatinya dengan kesepian. Apa yang harus dilakukan, untuk apa dan siapa, seakan semua pertanyaan itu tiba-tiba mengeroyok kepalanya yang bahkan sudah sesak dengan penyesalan.
Hujan itu semakin deras, menghujam badannya dengan rasa dingin yang menembus tulang. Bibirnya telah membiru melengkapi hari-hari yang dihadapinya dengan bisu. Adakah yang lebih menyakitkan daripada mengecewakan? Sesuatu yang membuatnya tak berani untuk membuka mata dan menyadari bahwa apa yang terjadi adalah kenyataan.
Kaki itu berhenti, di ujung jembatan yang sedang merayakan kebersamaan dengan hujan. Tangan itu berpegangan pada pinggiran jembatan yang catnya sudah mengelupas. Ada tawa kecil yang mampir di sudut bibirnya, ternyata tak hanya dirinya yang tercampakan, batinnya. Wanita itu memejamkan mata, membiarkan air matanya beradu dengan kecepatan air hujan di atas pipinya. Segala yang menyakitkan ingin ia buang. Segala yang menyesakkan ingin ia tumpahkan. Tapi mana bisa? Kakinya tercekat ketakutan hanya untuk melangkah. Kemudian ia pasrah, menyerahkan badannya pada hembusan angin yang dikirim Tuhan untuk mengobati patahnya. Ia dengarkan deruan air sungai seakan alirannya itu tumpah dan bermuara pada hatinya.
Pada Tuhan ia berserah. Sampai lamat-lamat hujan itu mereda, dan matahari mengintip di ujung arah kiblat. Ia berjalan, meninggalkan penyesalan. Ia ingin pulang dan dipeluk dalam naungan kasih sayang-Nya.



Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar