Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BAHAGIA, MASALAH DAN CERITA


Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

Kau boleh memilih untuk berhenti atau terus membaca tulisan ini. Karena seutuhnya hanya berisi keluhan hidupku selama delapan belas tahun hingga kini. Bukan maksud hati menyesal atau tak mensyukuri atas apa yang telah ku miliki sejauh ini. Tidak. Tapi ini perihal rasa yang semakin hari semakin kuat ikatannya. Baiklah, aku tak memaksamu untuk terus mengeja kata dalam kalimat yang sepatutnya untuk tak kau ikut campuri. Namun aku tak menutup ruang untuk kalian memberi solusi atau motivasi usai memahami. Apa pun itu, siapa pun itu aku tak pernah memberi jarak antar sesama.
Jadi selama hidup ini, aku sering berfikir bahwa tuhan tidaklah adil, sekali lagi bukan maksudku mengkufuri atas segala sesuatu yang telah diberikan tuhan. Tapi aku hanya ingin tahu, apa yang membedakan mereka dengan ku hingga aku melihat bahwa seakan mereka tak ada masalah, tak ada keluhan yang terbesit dari mulutnya, toh kalaupun dipendam dalam hati, aku tak tahu. Namun, mana mungkin sosok manusia mampu bergeming di atas kepedihan tanpa mencurahkannya kepada yang lain. Sudahlah, bodoh membahas hal tak guna semacam itu.
Rasa ketidakadilan itu bukanlah hal keji yang mengikat fikiranku, namun aku hanya mencoba berfikir selangkah lebih dalam terhadap semua hal yang perlahan menghujamiku. Aku juga sering berangan, coba saja aku sehari jadi dia dan dia jadi aku. Seberapa ia mampu menyangga bebanku dan seberapa kuat aku menyangga hidupnya. Sebab semua orang punya masalah dan semua punya cara untuk menyelesaikannya. Berbicara ihwal masalah, mungkin jika dinominalkan seluruh masalahku bisa membeli tanah Jawa. Haha. . .Hiperbola dah. Ini sebab aku kadang-kadang sering tersulut oleh kerasnya mainan maya. Kerasnya dunia kekeluargaan, kerasnya dunia pendidikan dan kerasnya hidup yang ku rasa semakin berat sebelah. Aku percaya jika tuhan akan senantiasa mengankat derajat hambanya yang selalu kuat dalam mengahadapi ujian demi ujian darinya. Aku tahu tentang itu, tapi aku tidak serta merta bisa menerima dengan mudah. Mungkin aku percaya tapi tidak pada kadar masalah yang semakin menggunung. Ahh betapa sayangnya Tuhan kepadaku, mungkin Tuhan ingin memberi kejutan yang tak pernah ku sadari nanti. Kebahagiaan yang akan ku temui usai bergelut dengan perancu hati yang bertandang silih berganti tanpa henti. Mungkin di sini titik terlemahku, sudut yang selalu ku takuti kala datang melabuhi. Kebahagiaan. Kebahagian mungkin banyak orang yang mengartikan dengan rasa hati yang tak akan pernah rela berhenti mendekapnya. Aku ini memang aneh, di awal aku berujar ingin melegah dari hinggar binggar problema. Tapi semakin kesini curahan hati tak ada gunanya. Jika kebahagiaan tak mau ku dapati, dan masalah tak ingin ku punyai, lantas untuk apa ku terus melangkah menapaki pedihnya bumi ??. Kawan, sekali lagi aku menulis rangkaian kata di sini untuk meluapkan erupsi nurani  di saat pemilik mata hati tak ada lagi yang perduli. Entah dimana titik kesalahanku kepada mereka, hingga sekedar menyapa dan menawa bersama sekali pun enggan dilakukannya. Bersamaku. Ayolah, aku butuh kalian sebagai tempat berteduh dari hantaman derita dalam hidupku. Aku memang egois, tapi tak seharusnya kau menjauhiku karena itu, kau boleh menegurku sekeras toa pemilu, kau boleh menyeret paksaku ke jalan kebenaranku.  Aku hanya ingin menciptakan keluarga baru di sini, dan itu hanya kalian yang ku pikir mampu. Lantas jika satu per satu kalian semua melebur lalu mencampakkanku, bagaimana aku bisa mencipta kedamaian diriku ??. Mengertilah !!  bahwa keberadaanku selalu ada untuk kalian butuhi. Toh meski usai itu kau memudar hilang menjauh. Dibilang dewasa memang aku bukan, di sini aku mengaharap tuntunan dari tangan-tangan kalian, untuk itu, jangan kau genggam tangan kalian untuk batu lalu kau lemparkan ke arahku. Aku butuh kalian bukan karena apa-apa, tapi dengan kalian ku harap bisa menghapus coretan hitam yang mengotori pikiranku. Namun jika kalian benar-benar tak ingin terusik oleh kehadiranku, baiklah aku tak apa. Tapi aku mohon, berilah alasan atas dasar kebencianmu kepadaku. Jangan sepintas menghilang lalu menebar ketidakbenaran dari satu sarang ke sarang yang lain. Aku benci orang semacam itu. Kritikan dan hujatan tak akan memancing amarahku selama itu nyata dan ada padaku. Untuk itu pergilah !! namun tinggalkanlah surat yang berisi musababmu menjauhi diriku. Jika kau telah jauh menyusuri duniamu dengan orang-orang baru lantas kau bosan dengan itu, datanglah !! tapi ku mohon bersikaplah seperti tamu, agar aku tak salah menyuguhkan madu atau empedu untuk orang yang telah melumpuri hidupku.
Kembali ke dua pilihan yang masih mendera batinku. Sebenarnya aku tak benci dengan masalah, tapi tandangannya yang tak tau masa dan suasana lah yang mem uagku tercekik. Toh sebenarnya dengan adanya masalah, aku dilatih untuk selalu sigap dan cermat menuntaskan problema lain yang juga tak sungkan memelukkiku. Justru insan yang tak pernah didatanginya akan mudah mati kutu jika mendapati matahari tak lagi menyeduh dan jutaan mata air membuntu. Menggigit jari dan menjerit lirih lah yang pertama kali mereka lakui. Hahaha dasar lemah, orang-orang manja pengabdi kepuasan keluarganya.
Selanjutnya terkait kebencianku dengan kebahagiaan, yakni aku muak dengannya yang mendadak ada namun sekejap tiada. Bukan hanya itu, ketiadaannya selalu membekasi penyesalan yang akan mengundang permasalahan akibat ulah lalaiku. Aku sering kehilangan kemudi saat menunggangi kebahagian hingga aku terperosok ke dalam lembah kekesalan. Baiklah, mungkin kalian bingung dengan kalimatku hingga masih belum muncul pemahaman maksudku. Jadi seperti ini, jika aku mendapat sebuah kebahagiaan semacam ketiban duren, lantas mendadak banyak uang hingga bisa pergi sana sini dan membeli itu ini. Nah, saat aku benar-benar kepayang dan terbuai dengan kebahagiaan itu, sering aku melalai terhadap keadaanku usai itu. Ibarat disanjung setinggi pelangi lantas dijatuhkan ke dasar bumi. Tapi jika ku manfaatkan kebahagiaanku dengan perbuatan yang menuntut malaikat untuk mencatat predikat bak orang berzakat, buatku, mengapa tidak, toh juga tak ada kerugian di dalamnya. Sudahlah, sampai di sini aku berkoar tentang kepiluan yang selalu mencakar. Ku harap orang-orang yang ku tujui dengan tulisan ini akan berani membuka diri dan membentangkan sayapnya untuk melindungi dan lebih perduli terhadap umat. Terimakasih, jumpa lagi...

Dariku,.
Untukmu peranum senyumku,.
 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar