Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SERPIHAN KENANGAN MAMPIR DI KERETA


Oleh: Fitriatul wilianti

Rintik hujan belum mau berhenti, sedangkan 5 menit lagi kereta akan segera datang. Dan aku tidak membawa payung, akhirnya aku memutuskan untuk berlari agar tidak terlalu basah. Baru saja aku tenangkan diri, kereta sampai stasiun, aku pun naik dan mencari posisi nyaman. 

Kuperhatikan sekitar, semua sibuk dengan diri sendiri. Aku juga akan begitu. setelah beberapa lama akhirnya kereta berhenti di stasiun kota Bandung, kemudian beberapa orang disebelahku turun. hanya tersisa seorang Ibu-ibu dari keempat orang yang turun dan juga aku, perjalananku masih panjang, masih beberapa jam untuk sampai di stasiun pasar senen, tapi aku sudah memberitahukan temanku untuk tetap stay menungguku sebelum aku sampai disana, ini memang pertama kalinya aku ke Jakarta dan aku tidak ingin tersesat disana.

Kembali kusandarkan diri pada sebuah kursi, dan sedikit mulai mengabaikan sekitar, kurasa mataku mulai mengantuk. Baru beberapa detik mataku ingin tertutup tiba-tiba ku temukan sesosok laki-laki lewat di depanku dengan seragam lorengnya, mukanya juga tidak asing, muka yang selalu aku pandang 4 tahun yang lalu. Ingin aku abaikkan tapi ternyata dia duduk disebelahku. Di balik kebingungan diwajahku akhirnya sedikit ku lebarkan senyum untuk membalas senyumannya. Ternyata aku tidak salah orang, dia orang yang pernah aku kenal beberapa tahun lalu dan sudah hampir aku lupakan. Dan sekarang dia disebelah ku, kurasa jantungku seakan ingin meninggalkan diriku.

*Akhirnya dia mulai menyapa, "Apa kabar Naa? kamu hendak kemana?", sedikit ku tenangkan diri dan mulai menjawab, "haii kabarku baik, aku akan ke Jakarta, kamu mau kemana?" dengan nada yang berusaha santai tapi masih terdengar gugup. "Aku juga akan kembali ke Jakarta, kemarin sore ada tugas di Bandung", jawabnya. "Waaah sudah lama yaa, kamu sudah sesukses ini, aku hampir tidak mengenalimu", jawabku dengan suara yang mulai bergetar karena tekanan jantung, "hehehe kita masih sama, hanya saja aku mendapatkan sedikit tambahan beban pekerjaan dan kamu juga pasti akan segera mendapatkannya".

 Dia masih terlihat santai seperti dulu, terakhir kami bertemu, sebelum Ujian Akhir Madrasah Aliyah. Dulu kami sangat dekat, pertama kali aku mengenalnya ketika kelas 10 Aliyah saat berada di Pom Bensin. Saat itu memang kami sengaja di pertemukan, motorku tidak mau menyala dan kebetulan semua orang sibuk, dan kulihat seragamnya sama dengan seragamku akhirnya aku meminta bantuan kepadanya karena dia satu sekolah denganku. Dari situ aku sering melihat dan menyapanya di sekolah. saat kelas 2 Aliyah ternyata dia sahabat baik Abangku, dia kelas Agama dan satu kelas dengan abangku, dari situ kami mulai dekat dan dia selayaknya teman laki-laki pertamaku. Sampai kelas 3 Aliyah, kudapatkan rasa suka kepadanya, rasa suka selayaknya seorang perempuan pada laki-laki. Dan itu hal yang wajar karena saat itu aku sudah 17 tahun.

Kemudian di sisa-sisa masa Aliyah aku memutuskan untuk selalu bersamanya sebagai seorang teman yang aku suka, kami sering keluar bersama walau hanya sekedar mencari angin dan memotret sunset di tepi laut bahkan dia pernah berjanji akan kerumahku suatu hari nanti. Itu merupakan kenangan terindah yang aku rasakan. Tapi ternyata kebersamaan itu hanya benar-benar kami rasakan di bulan-bulan terakhir masa Aliyah.

1 hari dihari terakhir Ujian Nasional dia tidak lagi ada kabar, nomornya tidak aktif dan tidak pernah menghampiriku lagi. Kebetulan aku juga saat itu sibuk dengan Ujian dan mengurus beberapa urusan untuk melanjutkan kuliah. Akhirnya kutanyakan kabarnya ke Abangku 1 hari setelah Ujian berakhir. Dan ternyata dia sudah pergi merantau ke Bali mengikuti Bapaknya, sebelum itu ternyata dia punya masalah keluarga sehingga hpnya disita, dan dia hanya menitipkan salam padaku lewat abangku. waktu itu perasaanku cukup sedih, kutunggu kabarnya sampai 2 tahun terakhir masa kuliah, tapi tidak ada kabar sama sekali. Sampai aku memutuskan untuk fokus kuliah dan melupakan semua tentangnya.


*"Penumpang kereta yang kami hormati, sebentar lagi kita akan sampai di stasiun pasar Senen, di mohon untuk memperhatikan barang bawaanya dan tidak ada yang lebih dulu membuka pintu sebelum kereta benar-benar berhenti, demi keselamatan anda" suara petugas kereta yang benar-benar membangunkanku, ku perhatikan sekitarku, semua orang mulai meninggalkan kereta. Kembali kucerna pikiranku dan membuka Hp sudah pukul 5 sore, aku tertidur cukup lama. 1 pesan masuk, nomor tidak di kenal "Apa kabar Anaa?" dengan profil mengenakan seragam loreng dan berdiri tepat di depan Monas Jakarta.
***


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar