Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SENI JATUH CINTA

Oleh: Ilman Mahbubillah

Ada berbagai cara dalam mengekspresikan jatuh cinta,
Mencintai, dicintai, dan Saling mencintai
Kita sebagai pemilik berhak melakukan serta memilih
Bagaimana cara kita ingin memperlakukan cinta.

Cinta layaknya kertas putih
Ia dapat berubah warna menjadi apa saja tergantung pada dimana ia berada
Bahkan, ia selamamya dapat terus putih
Karena azaznya cinta memang demikian

Ada yang memilih jatuh cinta dengan diam tanpa bersuara
Entah seberapa lama pun itu
Mereka memilih diam sebagai seni jatuh cintanya
Sebab mereka tak ingin nmenemui kata penolakan seperti utaian dari rumi

Ada yang memilih lantang mengutarakan cintanya
Lamat-lamat, dalam-dalam, hati-hati, setelah berbagai pertimbangan ia jalani
Lalu keputusan ia putuskan
“Aku mencintaimu, dalam.diamku kemarin aku telah bertafakkur bahwa
Waktu tak menggerus perasaanku untukmu
Sudah kupastikan aku cinta dam benar-benar jatuh yang sungguh-sungguh.

Kemudian tertolak, kemudian kesekian kalinya merasa sakit
Tak masalah, itulah seni jatuh cinta nya
Setidaknya dia telah mencoba
Untuk jujur dan berani dalam mengutarakannya


Ada yang memilih jatuh cinta, dan memilih diam-diam mengatur rencana
Datang kerumah seorang yang dicintainya
Mengutarakan segala perasaan dan maksud kedatangannya
Mungkin seni yang paling ideal dimata banyak orang

Dengan santun, dan baik ia berlaku
Melakukan pengamatan-pengamatan sebelum akhirnya maju
Namun, ada yang berhasil jua ada yang tertolak
Karena cinta kadang tak memihak orang baik seperti itu

Abu bakar dan Umar ditolak Fathimah karena memang hatinya untuk Ali
Fathimah bukanlah menvintai dalam diam,
Tapi menggunakan seni penantian dengan yakin
Kelak akan didatangkan Ali oleh Tuhannya kelak

Adapun yang cinta dan saling mencintai
Pada akhirnya tak bisa bersama sebab belenggu
Belenggu yang bernama “Kehendak Orang tua, Adat, atau Semacamnya”
Qois tak penah bisa bersama Laila, lalu Gaibran tak pernah bisa bersama Selma Kirami

Mereka adalah contoh yang mencintai kemudian saling mencinta
Namun, tak bisa cukup jadi dalil untuk saling bsrsama

Jatuh Cinta ada Seninya dan Cinta adalah seni
Mereka saling jatuh cinta, kemudian menjalankan seni jatuh cintanya
Dalam rasa sakit serta perpisahan, dalam ketidak bersamaan

Qois harus gila dan mendapati Laila mati sebab tak bahagia
Gibran harus merantau jauh meninggalkan hatinya di Beirut
Untuk kemudian mendapati Selma mati sebab lelah akan nasib yang menimpanya
Mereka adalah contoh orang yang hidup
Namun harus lebih dahulu mati jiwanya

Ada yang memilih seni tertinggi, cara mencintai paling sulit
Yakni mencintai tanpa mengharap dicintai kembali
Rumit memang, dan terdengar sedikit mustahil
Tapi memang ada orang tertentu yang melakukan demikian

Semua memiliki cara memiliki pilihan untuk menggunakan wewnangnya
Untuk memikih seni yang diinginkannya
Dengan cara yang baik atau tidak baik
Dengan pengertian yang baik, atau dengan ego yang buruk

Ada yang mencinta karena sebab materil, fisik, budi pekerti
Bahkan ada yang tanpa alasan sekalipun
Cinta itu seni, dan Jatuh cinta itu ada seninya
Cinta adalah suatu yang mutlak, sedang jatuh cinta bisa dilakukan dengan siasat.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar