Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RATU TUJUH PURNAMA



Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

Deru pawana malam menerpa penuh kelembutan, hijaunya patera abaka saling menepis satu sama lain menyesaki jendela di sudut kamarku. Hening dan penuh kesunyian. Burung malam yang biasanya bertandang kini tak satu pun terlihat batang paruhnya, kemanakah juga purnama yang biasanya bertengger di ranting cemara ?, dimanakah kejora malam yang biasa menebarkan ketenangan ?, seakan mereka mengerti kegetiran dalam sanubari ihwal kegundahan seorang anak dalam menapaki jalan hidupnya. Aku sungguh menyesal dan terus mengutuki diri, terlebih lagi jika ku putar kembali kisah silam itu.
Ya, aku masih ingat betul suara bising Simbok menanak nasi di atas tungku saat dini hari itu terkadang Simbok juga mengambil air dari sumur untuk memenuhi bak mandi. Cukup sederhana Simbok menjalani rutinitasnya, karena memang hampir seluruh tugas rumahnya tak ada yang digarapnya dengan teknologi masa kini, padahal kecanggihannya telah melalangbuana hingga ke pelosok sekalipun. Sembari menunggu masakannya, biasanya Simbok bermunajat kepada sang Esa dengan menyerukan lantunan do’a sepertiga malamnya hingga terhenti oleh undangan dari toa surau bergema.
Usai kembali dari sholat subuhnya, Simbok menata beberapa jenis buah dan sayur mayur yang telah diikatnya semalam sebelum tidur, biasanya aku membantunya kala hari libur bertandang saja, itu pun tak cukup lama, Simbok melarangku untuk menemaninya hingga larut, karena ia tak ingin aku kelelahan lantas mengantuk hingga sulit dibangunkan untuk sholat subuh, selain itu ia tak ingin belajarku terganggu, ia benar-benar tegas terhadapku terutama dalam hal pendidikan, motivasi Simbok yang selalu diucapnya tatkala ia mendapatiku bemalas-malasan berangkat ke sekolah, “Kita boleh menjadi orang yang miskin harta asal jangan miskin Ilmu dan pengetahuan.” Simbok tak mau aku menjadi orang yang buta aksara sepertinya, mungkin Simbok trauma atas kejadian yang menimpanya beberapa pekan lalu agar tidak kembali terulang, Simbok pernah diperdaya oleh imamnya sendiri, suami bengisnya itu pernah menyodorkan selembar kertas yang kemudian diberikan kepada Simbok untuk ditanda tanganinya, mulanya suaminya berkata bahwa itu adalah surat dari kantor kecamatan terkait bantuan yang diberikannya kepada keluarga miskin. Namun tidak, mungkin suaminya sudah tidak punya hati kala itu, alhasil Simbok tertipu sebab ia tak pandai mengeja. Ternyata surat tersebut adalah surat talak. Wanita mana yang tahan menghadapi peristiwa pahit semacam itu, Simbok dicerai tanpa alasan lalu dibiarkannya menjanda, mengurus tetekbengeknya sendiri dalam menghabiskan sisa hidupnya. Terkadang aku juga merasa berbalas budi kepada Simbok, sebenarnya aku bukan siapanya, aku ditemukan Simbok terlantar di hutan saat masih berumur 4 tahun. Sejauh ini aku belum tahu wajah ayah dan ibuku, Simboklah yang merawatku hingga kini.
“Simbok berangkat dulu ya Sal.” Pamitnya tanpa ku membalasnya. Sebenarnya aku telah terbangun saat itu, namun ku bungkus seluruh tubuhku dengan selimut. Aku kesal dengan Simbok, semalam aku melarangnya untuk pergi berjualan, tapi Simbok keras kepala, padahal penjual lainnya tak ada yang berangkat ke pasar hari itu. Simbok terlalu memaksakan dirinya yang mungkin paling rentah diantara penjual yang lain. Di kampungku pekerjaan semacam ini paling banyak dipilih wanita-wanita paruh baya sebagai pekerjaan sampingan, terutama bagi kalangan keluarga yang kurang mampu seperti Simbok. Hidupku dan Simbok bergantung pada penghasilan jualan disamping menanam padi yang hanya musiman, itu pun jika ada panggilan dari pemilik sawah. Bergelut dengan dinginnya angin pagi seakan telah lumrah dihadapinya, Simbok juga harus berjalan sekitar dua kilometer menuju ke jalan besar untuk menunggu mobil bak yang akan membawanya ke pasar, hampir satu setengah jam diperlukan untuk sampai kesana. Aku tak tega jika membayangkan Simbok duduk meringkuk seraya menahan dinginnya angin diantara tumpukan karung sayuran dan bakul yang berisi buah, belum lagi bersesak-sesakan dengan penjual lainnya.
Saat Simbok keluar dari rumah dengan menggendong bakulnya, aku mengintip dari jendela, Simbok dihampiri oleh Bi’ Rukhoyyah yang juga biasa menjadi teman Simbok berjualan.
“San, kau berangkat hari ini ??.” tanyanya.
       “Iya Yah, aku harus menjemput rezekiku.”
       “Bukannya hari libur ? Kau mau naik apa ke pasar besar nanti ?” Jika libur datang, memang transaksi jual beli di pasar tetap berjalan bahkan lebih ramai. Namun mobil bak yang biasa mengantar penjual lah yang tidak beroprasi, makanya banyak orang lebih memilih tidak pergi dari pada naik angkot yang juah lebih mahal dan lama.
            “Mungkin aku akan pergi dengan Angkot.” Jawab Simbok lantas mempercepat langkahnya agar tidak kesiangan. Aku tertukik mendengarnya, bukannya pergi dengan angkot akan lebih banyak membuang uangnya. Ah sudahlah, Simbok memang keras kepala, jika ia telah bertekad bulat, maka amat sulit untuk merubahnya.
           Tepat sebelas siang, Pak Selamet datang ke rumah, sontak aku yang sedang mencuci di sumur belakang kaget dengan panggilannya.
           “Salwah Nak, Keluarlah !!” Ujarnya yang semakin lama semakin meninggi, saat ku dapatinya mata Pak Selamet memerah, seakan telah terbasahi dengan air mata. ada apa ini, melihat itu hatiku mulai tak tenang.
           “Ada apa Pak ??”

           “Simbokmu kecelakaan di pasar, Simbokmu gak ada. Sebentar lagi petugas akan membawanya kemari. Yang sabar ya Nak.”
           Sejurus aku tertegun, Pandanganku mulai mengabur lantas tak sadarkan diri. Simbok pergi meninggalkanku sendiri. Simbok bilang ia pergi ke pasar untuk menjemput rezekinya, memang kala itu sayur dan buah Simbok laku terjual, ia mendapatkan rezeki yang banyak, namun sayang, itu adalah rezeki terakhirnya di dunia. kini aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Aku sebatang kara, lagi dan lagi. Setelah kehilangan orang tua dan kini Simbok, begitu pahit pukulan demi pukulan yang menamparku kian silih berganti. Aku hanya bisa ikhlas dan pasrah ihwal jalan hidupku kedepannya. Aku snantiasa percaya, bahwa rencana-Nya akan lebih indah setelahnya. Dan itu benar, sudah tujuh bulan ini semenjak Simbok tiada, aku diangkat menjadi anak dari saudagar ternama yang baik hati di Kampungku. Beliau merasa iba terhadapku sekaligus juga mengobati laranya akibat ditinggal putri kecilnya. Terimakasih tuhan, kasih sayangmu sungguh tiada tara dan tak ada tandingannya. Teruntuk Simbok, semoga kelak dirambutmu bertengger mahkota kristal yang menambah cantik parasmu. Tujuh tahun kau membesarkanku, engkau ratu tujuh purnamaku yang menafkahiku disaat pemimpinmu pergi mencampakkanmu. Selamat jalan wanita kuat.
           

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar