Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PEMUDA SEBAGAI PILAR BANGSA




Oleh Siti Rahmatillah Abu Bakar

Sang Bapak proklamator Ir. Soekarno mengatakan dalam pidatonya “berilah aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia”. Jika kita cermati apa yang diucapkan oleh Ir.-Soekarno di hadapan para pemuda Batavia saat itu bukanlah sesuatu yang main-main. Dapat kita pahami sejatinya pemuda itu merupakan agent of change. Pemuda dapat dikatakan sebagai pilar negara, seyogyanya baik buruknya suatu negara tergantung dari kiprah pemuda, perannya sangat penting terhadap pembangunan dan peradaban suatu negara.
Menolak lupa bahwa lahirnya reformasi terhadap kepemimpinan Pak Soeharto presiden ke dua Indonesia diawali oleh pergerakan pemuda, peristiwa ini dikenal dengan tragedi Mei 1998. Lahirnya pergerakan reformasi tersebut dilatar belakangi oleh beberapa hal diantarnya; krisis politik, krisis ekonomi, krisis hukum, krisis sosial, dan krisis kepercayaan terhadap pemerintahan.
Berbagai krisis tersebut masing-masing mempunyai problematika tersendiri. Dari segi politik terdapat permasalahan sistem nepotisme dan juga tidak terjadi penyelenggaraan negara secara transparan dan aspirasi masyarakat tidak tersalurkan dengan baik, krisis ekonomi terdapat problematika krisis moneter dan terjadi penyimpangan serta penguasaan bidang perekonomian secara monopoli, oligopoli, korupsi, dan kolusi. Krisis hukum terdapat penempatan hukum atau implementasi hukum yang tidak direalisasikan sebagaiama esensi hukum itu sendiri, krisis sosial menuai kecemburuan sosial yang di mana terdapat pembagian kasta yaitu kaum elit dan rakyat kecil. Kaum elit itu sendiri merupakan kaum elit politik dan para pengusaha keturunan tionghoa yang mempunyai relasi dengan pemerintahan orde baru atau keluarga cendana sedangkan rakyat kecil itu merupakan masyarakat biasa yang bukan bagian dari keluarga cendana. Sehingga pada puncaknya terjadilah kurang kepercayaan oleh sebagian besar masyarakatnya. Kemudian hal ini melahirkan gesekan secara vertikal dan masyarakat menuntut agar pemerintah Orde Baru turun. Dan tepatnya tanggal 21 Mei 1998 Presiden NKRI yang ke dua mengundurkan diri dari jabatannya dan digantikan oleh Pak Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie.[1]
Peristiwa tersebut merupakan salah satu realita bahwa pemuda itu merupakan aset yang paling penting terhadap peradaban bangsa. Kita perlu menyadari dan merenungi bahwa kekuatan akan persatuan pemuda mampu mencentuskan pergerakan dan perubahan terhadap bangsa. [2]Sejarah mencatat peristiwa 28 Oktober 1928 merupakan puncak persatuan dan lahirnya sumpah pemuda. Pada saat itu para pemuda bersatu mengeluarkan ide atau gagasannya untuk melahirkan indonesia merdeka. Ada dua gagasan yang dinarasikan pada saai itu, diantaranya:
    1. para pemuda indonesia bersatu untuk melahirkan indonesia merdeka dari penjajahan
    2. organisasi kepemudaan di seluruh indonesia bertujuan untuk menggalang persatuan demi   
        meraih cita-cita kemerdekaan.

Perjuangan mereka tidak pernah berhenti walau satu langkah. Nyawa pun jadi taruhannya, menumpahkan darah untuk meraih kemerdekaan dan pantang menyerah sebelum teks proklamasi di proklamatorkan dan bendera sang saka merah putih dikibarkan. [3]Dan tibalah peristiwa detik-detik kemerdekan, peristiwa rengasdengklok menjadi peristiwa strategi akhir dari para pemuda yaitu mendesak Bung Karno dan Moh. Hatta untuk mempercepat memproklamirkan teks proklamasi kemerdekaan. Hal ini dilakukan agar Bung Karno dan Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh jepang dan proses pembacaan teks proklamasikan tidak dilakukan melalui PPKI yang merupakan badan pembuatan jepang dan menganggap bahwa kemerdekaan itu merupakan pemberian dari jepang dan bukan merupakan hasil perjuangan rakyat indonesia. Peristiwa ini berlangsung pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00 WIB. Keesokan harinya, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan Indonesia resmi diproklamirkan.
Namun dewasa ini banyak ditemukan bahwa  penilaian terhadap pemuda hari ini lebih cenderung ke hal negatif dan dikatakannya pasif seperti memiliki sifat apatis,praktis,dan pesimis. Ketiga sifat tersebut merupakan tantangan bagi pemuda masa kini. Lalu bagaimana solusi untuk mengatasinya? Caranya sederhana, kita pahami kondisi sekitar, kita ketahui bahwa bangsa ini merupakan bangsa yang heterogen, perlu adanya upaya untuk menanamkan sikap toleransi dan hindari sikap entnosentrisme.
Sekarang kita berada di era revolusi industri 4.0 yang di mana  sistemnya bukan lagi berbasis internet of people  dan internet of things. Dan untuk mengahapi tantangan ini Indonesia harus lebih siap untuk memberikan asupan terhadap generasi pemudanya. Menjadikannya sebagai generasi yang  berketerampilan dan berilmu pengetahuan lewat pendidikan, menyediakan atau mewadahi Masyarakatnya terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan penggunaan sarana dan prasarana.   
Berhentilah mengkritik tetapi hadirkan solusi, berkontribusi sebagai penanda eksistensi hilangkan sifat pesimis. Sebab manusia mempunyai potensinya masing-masing. Jika pemuda pendahulu meraih kemerdekaan dan mencetuskan reformasi maka pemuda hari ini adalah melawan diri sendiri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi industri melalui literasi. “yuks generasi mari berintegrasi, tingkatkan literasi, raih prestasi,salam literasi”




Sumber :
[1] https://www.maxmore.com
[2]https://terangsaja.wordpress.com
[3]https://id.m.wikipedia.org
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar