Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

MIMPI KAUM ASIN

                     Oleh: Ahmad Nasrul Maulana

     Mengabdikan diri pada dunia kerja memanglah bukan hal yang ringan. kejamnya persaingan antar sesama demi tetap bisa bertahan amatlah keras dijalani, etos yang lemah dicampakkan dan yang kuat semakin diperhitungkan. Di tengah padatnya lingkungan kerja seperti ini, aku melesu akan segala keriwehan ini. Bagaimana tidak, berulang kali admin kantor menghubungiku untuk menanyakan rekap data yang telah ku janjikan tuntas siang ini, namun sedikitpun tak ada hasrat untuk mengangkat gagang yang terus berdering itu, aku hanya bergeming dihadapan setumpuk data yang satupun belum ku jamah. Mungkin tak lama lagi mikromanajerku akan datang lantas mengoceh panjang lebar hingga memekikkan telingaku, ditambah lagi dengan hawa panas khas ibukota yang semakin mudah menyulut amarahku. Aku butuh penenang dan peredam gejolak sentimenku, kini aku benar-benar di ambang kehampaan hati dan pikiran, inginku membanting komputer kerjaku lalu menghamburkan berkas-berkas tugasku. Alamakk entah apa yang merasukiku kini.

     Tak berselang lama, ponselku berbunyi saat aku memegang kertas data dan hendak menyobeknya. Sejurus kemudian aku tertegun, tergambar jelas dua wajah penuh kedamaian bersemburat kesyahduan yang perlahan melipur emosiku, semua raib dalam satu kali hantaman tatkala suara paraunya berbisik lembut kepadaku.
“Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuhu, Dikin”
“Waalaikumussalam Warohamtullahi Wabarokatuhu, Bapak.” Aku membalasnya dengan suara yang semakin melirih. Tangisku pecah, seketika rasa rindu mendadak mencuat lantas mendera perasaanku. Namun semuanya ku tahan, aku harus tetap terlihat tegar dan kuat dihadapannya.
“Bagaimana kabarmu Kin ??.” Kembali tuturan itu seperti memantraku, bak padang gersang yang terhujani tetesan madu, sungguh manis. Ahhh alangkah indahnya bila aku bekerja ditemani orang-orang terkasihku.
“Alhamdulillah Dikin sehat Pak, Ibu dan bapak sendiri bagaimana kabarnya ??.” Sesekali kusertakan tawa kecil disetiap ujung ujaranku meyakinkan bahwa aku baik-baik saja.
“Bapak dan ibukmu baik nak”
“Alhamduliilah”
“Kamu semangat bekerjanya, jangan lupakan Allah karena waktu kerjamu dan jangan suka mengeluh. Ingat ! masih banyak orang yang ingin ada diposisimu nak.” Ternyata benar, bahwa naluri orang tua terhadap buah hatinya itu sejalan. Seakan hidup dalam satu raga, jika satu anggota tubuh sakit maka semua ikut merasakannya. Begitupun dengan keluarga meski terhadang oleh jarak sekalipun.
“Iya Pak, do’akan Dikin…tut…tut…tut.” Sial, Baru saja aku hendak mencurahkan semua isi hatiku kepada Bapak, tiba-tiba telpon Bapak terputus karena jaringan disana yang sangat buruk. Kampungku memang terletak di pesisir, sehingga sedikit sulit untuk mendapatkan komunikasi yang lancar.

     Aku masih ingat betul, ihwal masa kecil yang hampir selalu kuhabiskan dengan bermain di bibir pantai usai pulang sekolah dan saat hari libur tiba. Berkejar-kejaran, membantu paman-paman nelayan mengangkat hasil lautnya, menjemur ebi, memanggang berbagai jenis ikan hingga membuat kulit tanganku hitam dan masih banyak lagi. Sungguh indahnya masa kecilku dulu meski hanya sekedar bergantung pada laut. Semakin lengkap pula kebahagiaanku kala itu dengan hadiranya sosok Abay, Bahar dan Fikri, teman seperjuanganku dulu. Bersama merekalah aku tumbuh menjadi pelaut ulung, tak jarang kami berempat berlayar ke pulau lain tanpa berbekal sedikitpun. Pernah juga sampan kami terbalik sebab terterjang ombak besar hingga membuat kami tak sadarkan diri. Ku pikir kami telah pergi dari dunia ini untuk selamanya, ternyata tidak, kami diselamatkan oleh paman-paman nelayan yang budiman.
 
     Sekarang kami berempat telah tumbuh dewasa, tak ada lagi canda saat memetik kelapa, tak ada lagi tawa lepas tatkala bermalam di keramba. Semua telah sibuk dengan jalannya masing-masing. Satu hal yang tak akan ku lupa dari mereka, ya...Kami pernah melakukan permainan sepele yang ternyata berimbas nyata pada kehidupan kami kini, yakni kami pernah terjun ke laut bergantian dari kapal besar yang berlabuh seraya meneriakkan mimpi-mimpi kami. Mimpi dari mulut kecil kaum asin yang terlalu tinggi dan ku pikir tak akan pernah mungkin kami capai. Tapi dugaanku salah, kami selalu mengaitkan kejadian itu dengan para malaikat laut yang mungkin mendengar perkataan kami kala itu lalu ia mengadukannya kepada Tuhan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kami. Sungguh lucu jika ku mengingat hal itu, alhasil Abay kini menjadi dosen ilmu kelautan di universitas ternama Makassar, Bahar menjadi pegawai kantoran sepertiku. Hanya Fikri saja yang bernasib kurang beruntung, sebab ia dulu menganggap remeh hal tersebut. Kini ia menjadi nelayan di kampungku sesuai dengan apa yang ia teriakkan dulu.
   
     Tak terasa aku telah melamun hingga setengah jam, bergegas ku ambil berkas-berkas tugasku dan mulai mengerjakannya satu per satu. Kini setiap aku ingin mengeluh atas kesibukan kerjaku selalu terngiang pesan bapak dan mimpi-mimpi sahabat kecilku, mimpi anak laut yang telah terbuang dari pesatnya perkembangan kota, namun kini telah menjelajahi kota bahkan menguasainya. Do’akan Abay akan mencalonkan diri menjadi gubernur di kota rantauannya tahun depan.

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar